Bangunan ruang dibawah tanah PTPN XI terdiri dari lima bagian, setiap bagiannya ada pintu kecil yang terbuat dari besi. Radar Surabaya berkesempatan untuk mengunjungi ruang bawah tanah ditemani dengan Humas PTPN XI Brilliant Johan dan salah satu staf PTPN XI.

Rahmat sudrajat

Wartawan Radar Surabaya

Untuk bisa masuk kedalam ruangan tersebut bsa melewati dua pintu dari sebelah kiri maupun sebelah kanan yang berdekatan dengan anak tangga didekat pintu masuk utama.

Dalam setiap ruangan bawah tanah terdapat fentilasi, sehingga tempat tersebut tidak terlalu panas dan lembab. Ketika masuk dipintu sebelah kanan, terlihat bagian ruangan bawah yang sudah direnovasi dan disekitarnya sudah ada foto keterangan terkait dengan sejarah pembangunan gedung HVA hingga menjadi PTPN XI.

“rencana memang diruang sini akan kami jadikan kafe yang bernuansa sejarah dan ada di orama sejarah ini barang-barang antiknya sudah kami datangkan sebagian,” kata Humas PTPN XI Brilliant Johan kepada Radar Surabaya.

Brilliant juga menjelaskan, dulunya ruangan tersebut diduga sebagai tempat parker kendaraan bagi para pekerja. Selain itu diruangan yang sisi barat kondisi ruangannya masih berserakan. “ini ruangan nya masih berantakan,” imbuhnnya.

Tinggi ruangan bawah tanah yang sudah dibersihkan itu kurang lebih dua meter. Diruangan sisi Timur, tampak nuansa gelap dan mistis. Untuk masuk keruang tersebut harus menggunakan senter dari handphone. Sesampainya diruangan tersebut, udara pengap terasa, namun ada sedikit semilir angina yang masuk kedalam fentilasi tersebut.

Bagian bawah tanahnya masih ada pasir, namun sudah ada beton yang bisa untuk dilintasi sepanjang ruangan yang gelap tersebut. Disana juga ditemukan sebuah betonan, mirip sebuah saluran irigasi, yang berada ditengah-tengah. Betonan irigasi tersebut digunakan untuk pembuangan air. “saya baru tahu kalau ada ini, mirip irigasi gitu, mungkin ini ada sejak zaman dulu untuk pembuangan air,” terangnya.

Ruangan bawah tanah itu bentuknya berbeda-beda isetiap ruangan nya. “ya setiap ruangan bentuknya beda-beda, ada yang tinggi ada yang rendah, mungkin mengikuti sirkulasi diruangan tersebut,” pungkasnya.

 

Sumber: Radar Surabaya. 4 Mei 2019. Hal.3