
Jelas merak sejatinya tidak terlalu panjang. Bangunan yang paling besar dan terkenal hanyalah gedung HVA atau saat ini PTPN XI. Namun, dibalik itu ada beberapa kisah yang menarik.
Rahmat Sudrajat
Wartawan Radar Surabaya
“ada kantin militer di seberang pojok perbatasan antara Jalan Merak. Namun, sekarang mengikuti Jalan Krembangan,” kata Humas PTPN XI Brilliant Johan. Kantin militer dahulu digunakan sebagai tempat makan dan minum tentara Hindia Belanda.
Pada tahun 1869, Belanda membangun prasasti besi cor berukir dihalaman gedung dengan nama Prasasti Bali. Tetenger ini menjadi penanda kemenangan serdadu KNIL dalam perang Bali pada abad ke-17.
Lonceng untuk peringatan upacara masih menggantung sampai sekarang. Dibuat diAmserdam Belanda tahun 1848. Kawasan kompleks ini begitu luas karena bagian belakang sampai tembus ke Jalan Krembangan dan Jalan Rajawali sekarang.
Bersejarah: suasana Jalan merak, Surabaya, yang masih bernuansa Soerabaia Tempo Doeloe
“luasnya kira-kira 15 kali lapangan sepak bola. Kompleks barak militer AD di Jalan Rajawali itu masih ada. Bahkan, kantin militer di Jalan Kremabgnan juga masih berdiri. Sekarang menjadi gudang sebuah perusahaan ekspedisi,” ungkap Briliiant.
Kompleks militer ini kemudian dipindah setelah kawasan ini tidak lagi utuh. Banyak bangunan baru berdiri ditanah yang semula kosong. Baru pada 1900-an, barak infantry plus markas KNIL ini dipindah karena Belanda membangun kompleks militer yang lebih luas yang sekarang dikenal dengan nama markas Kodam V Brawijaya.
Robin, salah satu warga Jalan Merak, mengaku pernah mendengar bangunan kantin Belanda. Namun, dia tidak mengetahui lokasinya.
“memang dulu pernah diceritakan ada barak militer Belanda atau tangsi,” ujar Robin saat ditemui didekat rumahnya. Wujud gedung bangunan utama ini tidak berubah sejak pertama berdiri. Menghadap ke Paradeplain atau lapangan parade. Setiap saat jalan depan gedung ini menjadi lokasi parade militer.
Sumber: Radar Surabaya. 5 Mei 2019. Hal.3
