Nuasana Surabaya tempo dulu masih terasa kental di kawasan Jalan merak, Surabaya. Salah satu wajah cantik sudut kota yang masih bernuasa Hindia Belanda adalah kawasan Djotangan Militaire Kazeme atau yang biasa dikenal dengan nama Hobiru.

 

Rahmat Sudrajat

Wartawan Radar Surabaya

 

      HOBIRU sendiri merupakan ungkapan yang mudah dilafalkan oleh lidah lokal Surabaya. Sedangkan nama aslinya Hoofdbureau van Politie te Soerabaia. Dari kata Hoofdbureau yang artinya biro pusat itulah lidah lokal warga Surabaya menyebutnya dengan kata Hobiru.

Di depan gedung Hobiru, terdapat sebuah taman khas Eropa. Jalanan atau jalur pejalan dan kendaraan meliuk liuk dan beberapa spot tempat tanaman atau rumput. Seolah-olah, taman ini berhasil menyamarkan kesan Hoofdbureau yang penuh wibawa sebagi biro pusat kepolisian.

“Taman tersebut juga dilengkapi dengan sebuah tugu Bali yang dibangun pada 1869. Tugu ini berdiri untuk mengenang jasa tentara Belanda yang bertempur di Bali,” ujar Benny, aktivis Surabaya Tempo Dulu.

Melangkah keluar, akan tampak jalur trem uap jalur veteran (dulunya Sicieteitstraar) menuju ke Jalan Jembatan Merah (dulunya Willemskade) yang berada di jalan Paradeplein, yakni jalan yang melintang didepan gedung. Konon, setiap pekan selalu ada parade militer di depan gedung ini sehingga jalan tersebut disebut parade plein alias lapangan parade.

Robin, warga setempat, mengatakan bahwa sejumlah bangunan utama di kawasan ini tidak berubah sejak pertama berdiri. Menghadap ke Paradeplain atau lapangan parade. Setiap saat jalan depan gedung ini menjadi lokasi parade militer. Lapangan parade ini pernah berubah menjadi SPBU dan pada 2007 disulap menjadi taman.

Di belakang gedung utama ada Aula Bhara Wira Sasana yang dipisahkan lapangan parkir. Semula lapangan parkir ini adalah sebuah jalan yang menjadi ujung barat Jalan Kepanjane sekarang (bersambung/rek)

Sumber: Radar Surabaya, 6 Mei 2019. Hal 3