“Di Jalan Johar yang berdampingan dengan Jalan Sulung terdapat tempat perkembangan masyarakat Tionghoa Kristen di Surabaya. Semakin banyaknya pendatang warga Tionghoa ke Surabaya membuat peribadatan tidak menetap di satu tempat,”Ginanjar Elyas Saputra

             SEJARAHWAN sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, pada tanggal 22 Februari 1934, jemaat peranakan Tionghoa di Surabaya saat itu kesusahan mendengarakan dialek Amoy, Kantotn dan Fuchow-Kuoyu. Sehingga diadakan kebaktian khusus berbahasa Indonesia dan Melayu.

“Jemaat ini dinamakan Kiauw Seng/Qiao Sheng Tang Dan mengambil tempat peribadatan di Jalan Johar 4 (Joharlaan 4). Jamaat ini cikal bakal ada Gereja Kfisten Indonesia (GKI) Jatim,” kata Chrisyandi kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menuturkan, pada saat itu jumlah jemaat di Jalan Johar 4 itu masih relatif sedikit. Hanya ada 60 orang

Tahun 1938 jadi 110 orang, dan setiap peribadatan terus meningkat,” ujarnya.

Tahun 1937 masih 60 orang,  Tahun 1942-1945 terjadi kekosongan pemimpin gereja. Berkuasanya Jepang di Nusantara tak hanya mem’ bawa dampak bagi kondisi politik, keamanan, perekonomtan dan sosial di masyarakat, namun juga berdampak dalam kegia.n keagamaan. Segala kegiatan gereja pun terhenti akibatnya. Setelah Indonesia merdeka, kegiatan masyarakat tak lagi dibatasi dan diawasi. Alhasil, jemaat pun kembali lagi ke Surabaya dari Tiongkok.

“Kembali ke Surabaya, warga Tiongkok penganut Kristen masih menggunakan sistem pebestariannya,” tandasnya.

Saat ini gereja di Jalan Johar sudah tidak ada, karena semakin banyaknya jemaat, lokasi gereja ini sempat berpindah-pindah. Saat ini gereja berada di Jalan Samuden dikenal dengan nama Gereja Kristus Tuhan atau Gereja Jalan Samudera. (bersambung/nur)

 

            Sumber: Radar Surabaya. 8 Januari 2021. Hal. 3