MENARIKNYA, meski berusia ratusan tahun plafon tersebut terlihat masih kuat dan memperindah ruangan. Pantauan Radar Surabaya, plafon tersebut bisa dilihat dari lantai dua. Plafon tersusun dari papan kayu jati. Ukurannya tebal sekitar 4 centimeter.
Salah satu penghuni Gedung Setan Herman, mengatakan, plafon masih asli, belum pernah diubah. “Bangunan tetap, sudah dipatok (dijadikan) cagar budaya. Tidak ada yang diubah, termasuk plafon ini yang terbuat dari kayu jati,” ujarnya laki-laki 75 tahun ini kepada Radar Surabaya. ”
Untuk tinggi bangunan sekitar 40 meter. Temboknya memiliki ketebalan sekitar 30 centimeter. Gentengnya juga masih asli. Tapi banyak yang rusak karena usuk dan reng-ya juga rusak,” ucapnya.
Akibat genteng rusak tersebut, lanjut Herman, bila hujan deras air akan masuk di lantai dua bangunan. Para penghuni juga kawatir bila terus menerus dibiarkan takutnya dapat menyebabkan lantai kayu lapuk. “Rencana mau perbaikan tambal sulam. Tapi masih ngumpulkan (iuran) biayanya,” sebutnya.
Pria yang tinggal di lantai dua Gedung Setan itu menuturkan, untuk penghuni tidak bisa melakukan perbaikan sendiri. Pasalnya, atap bangunan cukup tinggi. Selain itu perlu tukang yang ahli.
Sementara itu, Ketua Surabaya Society Heritage Freddy Handoko Istanto menambahkan, Gedung Setan menggunakan plafon kayu karena dahulu ketersediaan bahan melimpah. Selain itu, kayu cukup kuat serta bisa diolah atau dibentuk ukiran sesuai keinginan. “Plafon kayu juga bisa menjaga suhu udara dalam ruangan tetap sejuk, karena panas dari genteng tidak langsung ke bawah,” katanya.
Dosen Arsitektur Interior Universitas Ciputra ini menyatakan, plafon yang terbuat dari kayu selain berfungsi sebagai pencegah suhu panas, dahulu atasnya juga digunakan sebagai gudang. “Di atas plafon dahulu juga dipakai menyimpan barang atau gudang barang yang tidak terlalu berat,” pungkasnya. (bersambung/nur)

