
“Kawasan Jalan Kepanjen menjadi pusat kerohanian sejak dahulu. Di kawasan ini dahulu terdapat stasi pertama di Surabaya yang dibangun pada tahun 1815 Masehi,” Moh. Mahrus
Pustakawan Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, tahun 1815 secara resmi pastor H. Waanders, Pr. mendirikan stasi pertama di Surabaya yang merupakan stasi kelima di Nusantata. “Di tahun yang sama stasi Surabaya dijadikan Paroki dengan nama Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria,” paparnya kepada Radar Surabaya.
Gereja sendiri, lanjut Chrisyandi, dibangun untuk mengganti gereja pertama yang rusak. Dijelaskan Chrisyandi, perkembangan umat Katolik di Surabaya semakin bertambah banyak membuay Mgr. Vrancken, Sj. sebagai Pastor Provinsial Yesuit berusaha untuk mendapatkan projo (sebutan imam lokal).
Kerja kerasnitu membuahkan hasil. Tidak mendapatkan imam projo malah mendapatkan para pater yang ditantang dari Eropa. Mereka yaitu Pater Van Den Elzen, Sj. dan Pater J.B. Palinckx, dua pater ini langsung ditugaskan di Surabaya,” bebernya.
Berkat karya misi dua pater ini, ungkap Chrisyandi, maka semakin berkembang umat Katolik di Surabaya. “Dan mereka jugalah yang membuka sekolah Katolik pettama di Surabaya,” paparnya.
Dia melanjutkan, salah satu dari dua pater tersebut ditugaskan di tempat lain, yaitu pater Palinckx, dengan tujuan mendirikan stasi baru di yogyakarta. Posisi pater Palinckx di Surabaya diganti oleh pater Van Der Hagen, Sj. pada tahun 1866. “Parter Hagern inilah yang membeli tanah pastoran di Jalan Kepanjen dengan harga 21.000 Gulden, untuk pastoran (tempat tinggalnya imam, Red),” tandasnya. (bersambung/nur)
Sumber: Radar Surabaya. 11 Juni 2020. Hal.3
