Menelusuri Sejarah Jalan Nyamplungan (4)
Masyarakat Hidup Berkelompol, Sungai Jadi Penunjang Aktivitas

Dengan penduduk yang dahulu bercampur berbagai etnis di kawasan Nyamplungan, akhirnya penduduk berusaha untuk bermukim secara berkelompok

MENURUT Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, perkembangan orang-orang Eropa mengarah ke selatan, sedangkan orang Tionghoa atau Pecinan dan timur asing lainnya ke arah timur.

“Karena saat kolonial dahulu hukumnya masih berat sebelah, sehingga mereka terdesak tinggal berkelompok-kelopok,” katanya kepada Radar Surabaya.

Dimana orang Arab membentuk suatu kelompok dengan sesama ras, bergitu pula orang Eropa, Tionghoa, Melayu dan penduduk pribumi. Pada masa itu memang pemerintah kolonial memiliki aturan terkait pengelompokan kawasan tempat tinggal suatu etnis.

Chrisyandi menuturkan di kawasan Ampel dulu ada pengendapan sungai hingga ke Pelabuhan Tanjung Perak. Selain itu, sungai di Pegirian juga dimanfaatkan jalur perdagangan, jauh sebelum Pelabuhan Kalimas dibuat.
“Perahu dulu masuk melalui Pegirian lalu lewat Peneleh sampai di Jagir dan terus ke pedalaman melewati anak sungai berantas,” terangnya.

Bahkan sungai Pegirian dahulu dimanfaatkan untuk mandi karena jernih dan tidak tercemar air sungai tersebut. Mengingat kala itu belum banyak industri dan aktivitas rumah tangga yang membuat limbahnya ke sungai.

“Dahulu ada tangga atau undak-undankan yang digunakan untuk mencuci baju dan segala aktivitas warga sekitar di pinggir sungai Pegirian. Sungai itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan tersebut,” pungkasnya. (bersambung/nur)

Sumber : Radar Surabaya, 24 April 2020 | Hal 3