Menelusuri Sejarah Panjang Jalan Tunjungan (1)

Dikenal Sebagai Pusat Perdagangan

Oleh Moh. Mahrus

Jalan Tunjungan sudah dikenal sejak tahun 1920-an. Bahkan kawasan ini berkembang pesat sebagai salah satu area perdagangan yang terkenal di Surabaya.

 

JALAN Tunjungan merupakan jalan penghubung yang strategis dan kawasan segitiga emas dari Jalan Embong Malang dan Jalan Blauran. Selain strategis, jalan ini merupakan terusan dari jalan-jalan penting di Surabaya. Seperti dari arah tenggara, Jalan Tunjungan bersambung dengan Jalan Gubernur Suryo. Sebelah selatan menyambung dengan Jalan Embong Malang. Arah timur Jalan Tunjungan yang terhubung dengan Jalan Genteng Besar dan Jalan Genteng Kali. Ke utara Jalan Gemblongan, arah barat bersambung ke Jalan Praban, dan apabila diteruskan akan sampai ke Blauran.

“Dulu jalan itu dua arah, berbeda dengan saat ini menjadi satu arah,” ujar pemerhati sejarah Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya. Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya ini mengatakan, saat itu kawasan Tunjungan menjadi pusat perdagangan terkenal dan terbesar setelah Jalan Kembang Jepun. Menurutnya, dari beberapa gedung yang berada di kawasan tersebut gedung atau toko yang paling jaya dan terkenal yakni Gedung Siola.

“Jadi kawasan Tunjungan sejak dulu sudah menjadi pusat bisnis yang ramai dikunjungi karena konsep pertokoannya hingga trotoar,” katanya. Chrisyandi menuturkan, gedung Siola dibangun oleh orang Inggris bernama Robert Laidlaw. Gedung ini sebagai pusat grosir dan menjadi grosir terlengkap dengan merk dagang grosir Whiteaway Laidlaw and Co. Bangunan ini pertokoan yang terbesar di Hindia Belanda pada tahun 1900-an.

“Gedung ini pun sempat beberapa kali berganti nama hingga akhirnya bernama Siola.

 

Sumber : Radar Surbaya, 22 Maret 2020 | Hal 3