
Menelusuri Sejarah Panjang Jalan Tunjungan (2)
Pertokoan Berjajar Layaknya Mal saat Ini
Oleh Mus Purmadani
Sebagai kawasan perdangan yang dikenal sejak tahun 1920-an, sepanjang Jalan Tunjungan berjejer pertokoan. Bahkan disebut-sebut hampir sama dengan mal saat ini.
PUSTAKAWAN Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, pertokoan maupun kantor yang ada pad akanan kiri Jalan Tunjungan tempo dulu layaknya berada di mall atau plasa saat ini. Menurutnya, saat itu masyarakat bisa melihat etalase setiap toko sambil menyusuri trotoar.
“Tanpa terlalu sering terkena sinar matahari langsung ataupun hujan,” katanya kepada Radar Surabaya.
Pria yang juga pemerhati budaya Kota Surabaya ini menambahkan, kawasan Tunjungan sejak dulu sudah menjadi pusat bisnis yang ramai dikunjungi karena konsep pertokoannya hingga di trotoar. Konsepnya pertokoannya pun diberi penutup atau atap di trotoar tersebut.
“Untuk bangunannya sendiri merupakan bangunan kolonial gaya Eropa. Dan warna putih menjadi warna khas untuk warna bangunan di Jalan Tunjungan,” ujarnya.
Chrisyandi berharap Pemerintah Kota Surabaya melakukan revitalisasi jalan Tunjungan. Ia mengatakan, belum ada fasilitas informasi sejarah tiap gedung yang bisa diketahui dengan mudah saat menyusuri Jalan Tunjungan.
“Saya berharap Pemkot Surabaya membuat semacam aplikasi yang bisa di-instal pada telepon seluler atau menambah sememacam alat di tiap gedung lama semacam televisi dengan speaker yang bisa menjelaskannya.” tuturnya. (bersambung/nur)
Sumber : Radar Surabaya, 23 Maret 2020 | Hal 3
