Keduanya didirikannya untuk mendidik dokter-dokter yang dapat langsung bekerja melayani kesehatan masyarakat. Pemerhati sejarah kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, keberadaan sekolah kedokteran ini karena banyak masalah kesehatan pada zaman itu.

Menurutnya, saat itu masyarakat pribumi mendapatkan kesempatan untuk sekolah kedokteran. “Alasan utamanya adalah tidak mungkin pemerintah kolonial mendatangkan semua tenaga kesehatan dari Belanda,” katanya kepada Radar Surabaya.

Chris mengatakan, dua tokoh yang memiliki peran dalam kedokteran adalah Prof Dr Moestopo dan Dr Soetomo. Keduanya tidak hanya berperan pada bidang kesehatan saja, tapi mereka juga turut memberikan pemikiran dalam pergerakan nasioal. “Jadi meskipun belajar ilmu kedokteran ke Belanda, tapi tetap memikirkan kemerdekaan tanah air,” jelasnya.

NIAS sebagai lembaga pendidikan bentukan pemerintah kolonial Belanda, dalam kegiatannya juga saling bersimbiosis mutualisme dengan infrastruktur lain, yakni Nieuw Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ). Para mahasiswa NIAS menambah ilmu dan keahlian mereka dengan praktek dan magang di Nieuw CBZ.

Live draw hk

Diketahui, NIAS atau Fakultas Kedokteran  (FK) bagi Universitas Airlangga (Unair) menjadi penting, karena fakultas awal sebagai dasar pendirian Unair tahun 1954 bersama Fakultas Hukum (FH) yang masih merupakan cabang Universitas Gajah Mada (UGM) kemudian Fakultas kedokteran Gigi (FKG) yang masih cabang Universitas Indonesia (UI) dan Sastra cabang Universitas Udayana. (bersambung/nur)