Mahasiswa NIAS sebelum memiliki gedung kuliah sendiri memanfaatkan Oude Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting atau rumah sakit simpang dan Nieuw Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) atau RSUD Dr Soetomo sebagai tempat belajar dan praktek mahasiswa kedokteran.
Bangunan Cagar Budaya ini dibangun pada tahun 1921-1922 oleh Wiesmans seorang arsitek dari Burgerlijke Openhari Werken (BOW) atau Dinas Pembangunan Umum Pemerintah Kolonial Belanda. BOW adalah lembaga pemerintah kolonial yang mengelola masalah pembangunan gedung-gedung negara. Kekuasaan lembaga ini membawa pengaruh yang sangat besar sekali terhadap bentuk dan arsitektur bangunan negara kolonial di Indonesia.
Pemerhati sejarah kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan bangunan bergaya arsitektur Indish memiliki ciri bangunan simetri dengan pintu utama melengkung setengah lingkaran. “Bentuk atapnya mengadopsi gaya Eropa, tetapi tetap berpijak sebagai bangunan tropis dengan atap yang tinggi dan bukaan untuk sirkulasi yang lebar,” jelasnya.
Chris menambahkan, walaupun ciri bangunan ini tidak menunjukkan arsitektur Eropa Modern, tetapi kualitasnya lebih baik. Para arsitek BOW mempergunakan teknologi modern dengan memanfaatkan bahan-bahan dan memperhitungkan iklim tropis. Kelebihan lain dari bangunan Belanda di Indonesia adalah cara peletakkan bangunan yaitu memperhatikan lingkungan dan tata ruang perkotaan secara menyeluruh.
Tujuan pembangunan gedung ini adalah untuk memberikan sarana bagi pendidikan yang berupa gedung-gedung tempat belajar. “Sebelum menempati gedung NIAS, pembelajaran dilakukan di dua tempat. Yakni di Rumah Sakit Simpang (sekarang Plaza Surabaya) dan di Rumah Sakit Karangmenjangan (RSUD Dr Soetomo),” katanya. (bersambung/nur)

