Rumah sakit ini juga melakukan pembangunan ruang keperawatan infeksi dan ruang keperawatan anak. Namun ada hal yang mencolok dari desain ini, pertama ruang dibawah panggung yang curam di dua ruang kelas besar, masing-masing untuk 116 siswa, dan memiliki lantai cekung untuk digunakan untuk praktikum mikroskopis.
“Bagian ruang infeksi terbagi dua untuk pengobatan penyakit yang berbeda. Pada ruang perawatan difteri mengalami pemotongan kapasitas.” kata pemerhati sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Sehingga kapasitas departemen, lanjut Chrisyandi, hanya 22 tempat tidur. Kemudian bagian bantuan anak dengan kapasitas 42 tempat tidur dan 10 bayi.
“Pada gedung pengelolaan dan tata usaha merupakan bangungan satu lantai. Pada gedung manajemen dibuat untuk manajemen dengan administrasi. Kompleks Poliklinik merupakan gabungan unit-unit yang masing-masing dapat diperluas,” papar Chrisyandi.
Pada saat itu pemerintah Hindia Belanda sangat memperhatikan desain dan kebutuhan pembangunan Nieuwe CBZ. Karena rumah sakit ini menjadi objek vital yang penting dan sangat dibutuhkan untuk mendukung layanan kesehatan kala itu. Sangat dimaklumi karena kala itu belum banyak rumah sakit besar dengan fasilitas memadai. Sebelum Nieuwe CBZ, Oude Centrale Vurgerlijke Ziekeningrichting atau Rumah Sakit Simpang menjadi andalan untuk layanan kesehatan, khususnya bagi para tentara. (bersambung/nur)

