Dalam kehidupan sosial sehari-hari, acap kali seseorang terlalu cepat menilai negatif orang atau kelompok lain yang berbeda dengan dirinya tanpa dasar atau bukti yang meyakinkan. Dampaknya tentu sangat buruk, baik bagi perkembangan mental individu maupun bagi hubungan antarkelompok.

OLEH AGUSTINE DWIPUTRI

Tulisan kali ini akan membahas mengenai cara mengurangi prasangka dalam kehidupan sosial kita. Menurut Jessica B Casey 91027), prasangka merupakan keyakinan dan sikap negatif yang dianggap sebagai benar tentang seseorang atau sekelompok orang. Prasangka dapat menimbulkan diskriminasi, yaitu tindakan terhadap seseorang atau kelompok yang menimbulkan ketegangan hubungan dan masalah kesehatan mental. Seseorang berprasangka karena memiliki pemikiran yang stereotip.

Casey (2017) mengatakan bahwa secara garis besar kita dapat mengatasi prasangka dengan menantang bias (kecenderungan berat sebelah) kita sendiri, meningkatkan hubungan sosial, dan mengatasi prasangka dari orang lain secara sehat. Berikut uraiannya.

Menantang bias pribadi

  1. Dalam psikologi sosial ada alat yang dapat digunakan untuk menilai perasaan dan keyakinan implisit tentang individu yang berbeda, yang disebut Implicit Association Test (IAT). Tes ini akan memberi tahu tingkat bias kita yang melekat pada kelompok orang tertentu. Kita dapat mengisi IAT, yang dibuat oleh Harvard University secara online, dalam sejumlah topik, termasuk seksualitas, agama, dan ras.
  2. Menjaga agar kita bertanggungjawab. Prasangka adalah semacam cacat pada perspektif kita karena melarang berpikir melampaui asumsi kita dan membangun dinding virtual seputar pemikiran obyektif kita. Kenali bias dan prasangka kita sendiri, dan secra aktif menggantinya dengan berbagai alternatif yang lebih masuk akal. Misalnya, jika kita memikirkan sesuatu yang stereotip tentang jender tertentu, “perempuan pasti eosional”, maka ingkatkan diri kita bahwa ini adalah bias terhadap kelompok tertentu dan bahwa kita terlalu menggeneralisasi.
  3. Mengenali dampak negatif dari berprasangka. Menjadi kroban prasangka atu diskriminai dapat mengganggu kesehatan mental, dapat menyebabkan rendahnya harga diri, depresi serta penurunan perawatan kesehatan, perumahan, pendidikan, dan pekerjaan yang memadai. Berada dalam situasi yang seseorang berprasangka terhadap kita dapat menurunkan kontrol diri kita. Jadi, ingatkan diri bahwa jika kita memiliki bias terhadap orang lain, dapat menyebabkan konsekuensi yang mengerikan bagi individu tersebut.
  4. Mengurangi stigma diri. Stigma diri terjadi saat kita memiliki keyakinan negatif tentang diri sendiri. Contoh dari hal ini adalah jika seseorang memiliki keyakinan negatif bahwa gangguan mental yang dia alami menandakan bahwa dia “gila”. Kenali kemungkinan berbagai cara agar secara aktif mencoba untuk mengubah keyakinan ini. Misalnya, daripada berpikir, “Saya gila karena saya memiliki diagnosis,” kita dapat mengubahnya menjadi, “Gangguan mental adalah hal yang wajar dan sejumlah besar populasi memilikinya. Ini tidak berarti saya gila.”

Meningkatkan hubungan sosial

  1. Mengelilingi diri dengan beragam jenis orang. Keberagaman mungki juga mejadi faktor yang berkontribusi terhadap kempuan untuk mengatasi prasangka dengan baik. Jika kita tidak terpapar pada berbagai ras, budaya, dan agama, kita tidak dapat sepenuhnya menerima keberagaman yang ada di dunia ini. Kita benar-benar telah mengenal seseorang ketika kita berhenti menilai, mulai mendengarkan dan belajar sesuatu. Salah satu cara untuk mengalami keberagaman itu adalah edngan melakukan perjalana ke kota atau negara lain. Setiap kota kecil memiliki budayanya sendiri, termasuk makanan, tradisi, dan aktivitasnya yang populer.
  2. Berada di sekitar orang yang kita kagumi. Tampilkan diri di hadapan individu-individu yang berbeda dari kita (secara rasial, kultural, jender, dan sebagainya), yang kita hormati atau kagumi. Hal ini dapat membantu mengubah sikap negatif implisit terhadap anggota dari budaya yang berbeda. Bahkan melihat gambar atau membaca tentang keberagaman orang yang dikagumi dapat membantu mengurangi bias yang kita hadapi terhadap grup di mana mereka menjadi anggotanya. Cobaah membaca majalah atau buku yang ditulis oleh seseorang yang berbeda dari kita.
  3. Hindari membenarkan prinsip steriorip saat berinteraksi dengan orang lain. Prasangka dapat terjadi apabila ide yang dimiliki sebelumnya dibenarkan melalui stigma atau steriotip. Hal ini mungkin terjadi karena steriotip terkadang dianggap dapat diterima secara sosial. Misalnya, wanita berambut pirang itu bodoh, bangsa Asia itu lebih pintar, orang gemuk itu pemalas, dan sebagainya. Jika kita mengharapkan sekelomok orang untuk menjadi sama, mungkin kita akan menilai individu secara negatif jika mereka tidak memenuhi standar kita, yang dapat menyebabkan diskriminasi.
  4. Salah satu cara untuk menghindari pembenaran steriotip adalah dengan tidak setuju pada orang-orang ketika mereka membuat komentar steriotip. Kita dapat melawan steriotip teman dengan cara menghadapinya dengan halus dan mengatakan sesuatu seperti, “Itu adalah steriotip negatif. Anda harusnya mempertimbangkan berbagai budaya dan tradisi.”

Mengatasi prasangka dari orang lain

  1. Membuka dan menerima diri. Terkadang saat kita merasa terancam oleh prasangka atau diskriminasi dari orang lain, kita menyembunyikan diri dari dunia sehingga tidak ada lagi gangguan yang akan kita peroleh. Bersembunyi dan menututpi identitas mungkin merupakan tindakan yang melindungi diri, tetapi juga dapat meningkatkan stres dan reaksi negatif terhadap prasangka. Lebih baik mengenali siapa kita dan menerima diri sendiri terlepas dari apa yang kita yakini mengenai hal yang orang lain pikirkan tentang kita. Identifikasi siapa yang dapat kita percayai dengan informasi pribadi kita dan bersikap terbuka terhadap orang-orang tersebut.
  2. Bergabunglah dalam suatu kelompok. Kesetiakawanan kelompk membantu seseorang menjadi lebih tangguh dan bertahan terhadap prasangka dan melingdungi diri terhadap masalah kesehatan mental. Setiap jenis kelompok akan melakukannya, tetapi akan sangat membantu jika kita bergabung dengan grup yang sesuai dengan kekhasannya, memiliki kesamaan ataupun pandangan kita. Hal ini dapat membantu ketahanan emosional, menjadi tidak cepat marah atau merasa tertekan dalam menghadapi prasangka.
  3. Dapatkan dukungan keluarga. Dukungan sosial dapat menjadi sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan isi yang ada dan penyembuhannya. Dukungan keluarga, didapat dengan berbicara pada anggota keluarga atau teman dekat mengenai ketidakadilan yang dialami, dapat membantu mengurangi ketegangan yang dirasakan.
  4. Mengharapkan hasil yang positif atau netral. Jika kita pernah mengalami prasangka atau diskriminasi di masa lalu, kita akan sangat sangat berhati-hato ketika kembali mengalami hal ini. Meskipun demikian, mengharapkan orang lain berprasangka terhadap kita atau berpikir bahwa orang lain akan bertindak dengan cara tertentu, dapat meningkatkan munculnya stres. Dalam hal ini, upayakan untuk tidak erharap akan ditolak orang lain. Lebih baik mencoba untuk melihat setiap situasi dan interaksi sebagai pengalaman baru

Semoga suasana kehidupan sosial kita menjadi lebih positif.

 

Sumber: Kompas. 25 November 2017. Hal24