Hais (57) membuat kebun nanas seluas 4 hektar di tengah kebun karetnya untuk mewujudkan tekad, yakni mencegah nanas Prabumulih lenyap. Kebun itu jadi tonggak kebangkitan nanas Prabumulih untuk kembali berjaya seperti beberapa dekade silam.
Sekitar enam tahun lalu, Hais membuka kebun nanas yang terletak di kawasan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Kala itu, dia baru menjadikan nanas sebagai tanaman pendamping kebun karetnya. “Dulu nanas yang saya tanam hanya sebagai tanaman sela di tengah tanaman karet yang baru saja diremajakan,” ucapnya, Selasa (25/5/2021).
Bibit nanas pun Hais peroleh dari kebun saudaranya yang ada di sekitar ladang karetnya. Hasilnya, nanas dengan varietas queen yang ia hasilkan kala itu sangat manis dan berkadar air sedang. Nanas ternyata sangat cocok dengan kondisi lahan di Prabumulih. “Rasanya sangat enak. Pantas saja, Prabumulih dijuluki kota nanas,” ujarnya.
Namun, tiga tahun berselang dia menyadari bahwa tanaman nanas tidak akan tumbuh subur jika hanya dijadikan tanaman sela. Seiring pohon karet yang semakin tinggi, pertumbuhan nanas akan terhambat dan kian kerdil. “Sejak saat itu, saya memutuskan untuk membuat hamparan kebun nanas,” ucapnya.
Pembudidayaan nanas ini memiliki misi melestarikan dan me ngembalikan kejayaan nanas Pra bumulih. Sekitar tahun 1980, nanas Prabumulih pernah menjadi primadona di kalangan warga lokal, bahkan nasional.
“Rasanya yang manis membuat nanas Prabumulih jadi incaran pelancong yang mampir ke Prabumulih. Ketika itu, hampir di tiap gang kota ada yang jual na nas,” kata bapak enam anak ini.
Kini banyak warga yang beralih ke komoditas lain, seperti sawit dan karet, sehingga nanas susah didapat. “Nanas hanya ikon kota. Nanas yang dijual di Prabumulih pun kebanyakan berasal dari daerah tetangga,” ucap Hais.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi nanas di Prabumulih pada tahun 2020 sekitar 9.552 ton. Itu masih lebih kecil dibandingkan dua kabupaten yang mengapitnya, yakni Ogan Ilir (81.782 ton) dan Muara Enim (20.821 ton).
Padahal, lanjut Hais, cita rasa nanas Prabumulih unik karena kondisi tanah dan juga proses pengolahannya. Hais bahkan mengklaim, nanas queen asal Prabumulih lebih manis dibandingkan nanas yang ada di Indonesia.
“Tingkat kemanisan dari nanas Prabumulih sekitar 13 derajat briks lebih tinggi dari nanas kebanyakan di Indonesia yang tingkat kemanisan sekitar 8-11 derajat briks,” ujarnya.
Butuh waktu sekitar 1 tahun 4 bulan untuk merawat bibit nanas menjadi hamparan yang produktif. Dengan ketelatenannya, hamparan kebun nanas milik Hais kini bisa menghasilkan sekitar 1.000 buah nanas per hari. Nanasnya kini sudah melanglang hingga sekitar Sumatera Selatan, bahkan ke DKI Jakarta. “Dalam satu kali angkutan, saya mengirim sekitar 6.500 buah nanas ke Jakarta,” tuturnya.
Dia tetap menyisihkan nanas nya untuk konsumen di dalam kota Prabumulih. Konsumennya adalah mereka yang berkunjung ke ladangnya, antara lain, untuk melihat proses pengelolaan nanas langsung dari kebunnya, serta membeli nanas yang hanya Rp 3.000 per buah itu.
Produk turunan
Tidak hanya menjual produk mentah nanas, Hais juga mengolah nanas menjadi sejumlah produk turunan, seperti selai, keripik, sirup, manisan, dan permen. Nanas juga bisa dijadikan bahan pewarna tekstil, bahkan daunnya juga bisa dijadikan benang sebagai bahan dasar pembuat kain.
“Setidaknya ada 50 produk turunan yang bisa dibuat dari olahan nanas,” ujarnya. Kemampuan Hais mengolah nanas didapat dari melihat Youtube. “Saya belajar sendiri dan langsung dikembangkan di lapangan,” ucapnya.
Hai yang hanya berpendidikan formal sampai sekolah dasar ini berpendapat, kemampuan seseorang diperoleh dari mereka yang mau belajar. Istrinya, Yusmaidah, turut membantunya mengolah nanas dan terkadang memberikan masukan yang memperkaya hasil olahan yang mereka buat.
Pengetahuan ini kemudian di tularkan Hais kepada generasi muda. “Ada 30 pemuda yang saya ajak untuk berkreasi. Beberapa mahasiswa juga kerap datang ke sini untuk melihat proses pengolahan nanas,” ucapnya.
Mengolah nanas menjadi beragam produk turunan akan memberikan nilai tambah. Bahkan, dari berkebun dan mengolah nanas, Hais dapat menghasilkan sekitar Rp 30 juta per bulan.
Hais pernah diajak eksportir dari China untuk bekerja sama. Bahkan, harga dari setiap nanas yang diekspor dihargai Rp 6.000 per buah. Bahkan, sang eksportir tetap menerima segala bentuk na nas yang dia hasilkan. Namun, tawaran itu dia tolak.
Hais menilai, ketika nanas Prabumulih sudah dikirim untuk ekspor, tidak ada lagi nanas yang tertinggal. “Dengan begitu, nanas Prabumulih sekadar nama di kotanya sendiri,” tuturnya. Hal ini dikhawatirkan membuat identitas Prabumulih sebagai kota na nas akan hilang.
Kini, sudah banyak warga yang tertarik untuk mengembangkan nanas. Mereka mengubah lahan karetnya menjadi hamparan nanas yang hasilnya ternyata lebih menguntungkan.
Pemerintah Kota Prabumulih pun tertarik dengan konsep yang dibuat Hais. Bahkan, Hais diminta pemerintah kota untuk mengembangkan nanas di beberapa lokasi yang lahannya belum produktif. Dengan sukarela dia membantu semua yang ingin belajar mengembangkan nanas. “Semua ini saya lakukan untuk satu tujuan, yakni melestarikan nanas Prabumulih,” katanya.
Sumber: Kompas. 16 Juni 2021. Hal.16

