MENGENAL BAYU ADITAMA, JUARA 1 KOMPETISI DESAIN INTERNASIONAL

Shalat dil NIB, Visualisas Kepatuhan Masyarakat NTB Menjaga Prokes Covid-19

AHMAD YANI/RADAR LOMBOK
Muhammad Bayu Aditama

Tiga kampus kolaborasi menggelar“Internavarsity International Design Competition’, sebuah kolaborasi kompetisi desain yang diselenggarakan Universitas Ciputra Surabaya, Universiti Sains Malaysia dan Universitas Kristen Maranatha. Lomba diikuti sejumlah mahasiswa asal negara Asia Tenggara, dan dimenangkan oleh mahasiswa NTB,
Bayu Aditama.

KOLABORASI dilakukan tiga kampus, Universitas Ciputra Surabaya, Universiti Sains Malaysia dan Universitas
Kristen Maranatha, mulai dari penye lenggaraan kompetisi, penjurian, dan mentoring desain bagi para peserta
kompetisi. Sustainable Development Goals menjadi isu utama yang diangkat dalam kompetisi tersebut.

Dalam karya-karyanya, mahasiswa peserta lomba baik dalam kategori short videography, furniture dan spatial de-
sign. Sustainable dalam arti luas harus menjadi isu utama. Dalam kompetisi tersebut, Muhammad Bayu Aditama, mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya asal Kota Mataram, mengikuti lomba kategori short videography. Dengan mengangkat tema khusus yaitu space vs pandemic, dimana karya video dibuat menceritakan adaptasi ruang, aktivitas dan desain, terkait kondisi pandemic.

Mengangkat judul “Pray In Pandemic Era”, Bayu Aditama menjadi juara 1 da-lam kategori short videography. Bayu dan team mengangkat adaptasi atau perubahan perilaku yang harus dilakukan umat Islam saat beribadah, khusus di Masjid terbesar di NTB yakni Masjid Islamic Center Hubbul Wathan.

Dirinya dibantu dua rekan lainnya yakni, Rangga Suntara dan Nyimas Alvira Fahrianty. “Peserta lomba ini banyak diikuti mahasiswa dari sejumlah negara asia Tenggara, misalnya Malaysia, Thailand, Singapura dan lainnya,” ungkapnya, kemarin.

Dia menuturkan, dalam video yang dilombakan itu, dirinya menekankan bagaimana keseharian masyarakat muslim di NTB melaksanakan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 dengan ketat yang ada di Islamic Center. Sebab itu, dalam pembuatan video dilakukan di Masjid Islamic Center tersebut, pihaknya sangat berhati-hati. Karena pihaknya ingin tetap menjaga kekhusyukan sholat para jamaah saat itu.

Saat melihat bagaimana cara masyarakat Lombok serentak menanggapi protokol kesehatan yang ada dengan shaf shalat yang rapi dan tidak berdempetan di area shalat. Tentu menjadi salah satu tantangan dihadapi dirinya dan team dalam proses pembuatan video tersebut. “Mengambil shoot video cinematik arsitektural dengan menambahkan unsur protokol covid-19,” ucapnya. Selain memunculkan ada narasi perubahan perilaku, ia juga mengangkat lokalitas budaya setempat yang muncul dalam bangunan masjid Islamic center.

Video milik Bayu pun mampu merebut hati tim juara. Video itu berdasarkan penilaian tim juri, berhasil menjadi juara pertama untuk kategori short videography dalam kompetisi tersebut. Adapun menjadi penilaian utama dari video tersebut, yaitu kesesuaian tema : Space vs Pandemic, Estetika Value, Design Unik yang diliput, dan Impresi dan Informatif. “Surprise, juga menjadi juara 1 kompetisi internasional,” paparnya, seraya mengungkapkan, dirinya memang sejak SMP sudah menekuni hobby videografi, memulai dari hp dan mengembangkan diri secara otodi-
dak sampai ada di titik sekarang saat ini. Untuk itu, dirinya bertekad untuk bisa terus berprestasi ke depan. “Target kedepan tentu ingin terus berprestasi,” lugasnya. (*)