Mengenang Kartini adalah juga mengenang lagi ayah saya yang dulu memberikan buku kumpulan surat-surat pribadinya, Habis Gelap Terbitlah Terang, ketika saya masih berada di sekolah dasar. Surat-surat yang disunting Armijn Pane itu berasal dari terjemahan surat-surat Kartini dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Tot Licht, dan diterbitkan Balai Pustaka. Ayah membelinya di sebuah toko buku di Jakarta.
Ilustrasi perempuan bersanggul dan berkebaya yang menghiasi sampul muka buku tersebut tentu sangat kuno jika dibandingkan dengan sosok ibu saya di akhir dekade 1970-an, yang mengenakan sepatu bertumit tinggi, ikat pinggang dari bahan kulit, gaun yang rapi nan elegan, serta kacamat Ray-Ban dari Bausch & Lomb untuk melindungi matanya dari terik matahari ketika bermobil.
Tren mode dapat berubah-ubah dan tidak jarang merefleksikan keadaan sosial yang menandai sebuah zaman. Sedangkan surat-surat Kartini telah ikut membentuk zaman itu sendiri ketika kata “emansipasi” tidak lagi terlarang bersenyawa dengan kata “perempuan”. Ibu dapat bekerja di luar rumah adalah juga dampak dari bola salju perjuangan Kartini.
Surat-surat Kartini dan para sahabatnya kemudian menginspirasi saya untuk berkorespondensi dengan sejumlah sahabat pena di berbagai kota di Indonesia yang alamat mereka saya peroleh dari daftar pemenang teka-teki silang di sebuah majalah anak-anak.
Tujuannya, merintis jalan menjadi “seorang pejuang dengan kata-kata” seperti julukan ayah untuk perempuan yang hari lahirnya diperingati tiap 21 April. Alhasil, setiap minggu ibu pergi ke kantor pos dekat kantornya untuk mengirim surat-surat saya kepada mereka. Saya juga mengkhyalkan suatu hari surat-surat kami dibukukan. Syukurlah hal itu tidak terjadi. Surat-surat saya tidak berisi pemikiran yang cemerlang mencengangkan, melainkan cerita-cerita konyol dan remeh-remeh.
Habis Gelap Terbitlah Terang membuat kita kembali menelusuri situasi dan pemikiran perempuan Jawa yang hidup dalam kurung waktu akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dia cerdas, kritis, peduli kepada sesame, memiliki pandangan yang melampaui masanya, dan gemar bertukar pikiran dengan bermacam orang. Tapi, dia juga berharap dengan budaya dan tradisi feudal yang tidak mengijinkan perempuan menentukan dan mewujudkan kehendak sendiri. Sedangkan pada saat bersamaan, kolonialisme Hindia Belanda tengah menjadi kekuatan yang juga memanfaatkan kaum feudal sekaligus menjadi tuan bagi mereka.
Meskipun Kartini meninggal dunia lebih dari 100 tahun lalu, perempuan di Indonesia belum sepenuhnya bebas dari sisa-sisa feodalisme. Kolonialisme bahkan berkembang ke bentuk baru yang canggih dan lebih kuat, neokolonialisme. Praktiknya masih terentang di antara Asia dan Afrika, di wilayah-wilayah kaya penyedia mineral dan hasil alam yang ters bergolak dalam konflik serta perang. Hampir tiga dekade setelah saya membaca Habis Gelap Terbitlah Terang, Pramoedya Ananta Toer, pejuang kemerdekaan nasional dan sastrawan terkemuka Indonesia yang menjadi musuh nomor satu Orde Baru hingga wafatnya, menyunting serta mengulas surat-surat Kartini dalam sebuah buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja. Buku itu diterbitkan Hasta Mitra pada 1997. Buku yang ditulis Pramoedya tersebut biografi politik Kartini.
Ketika membaca Habis Gelap Terbitlah Terang, saya masih kanak-kanak. Sebagian isinya saya sudah tidak ingat. Ketika membaca Panggil Aku Kartini Saja, saya sudah dewasa dan menyimaknya dengan berbekal pengetahuan, wawasan dana pengalaman hidup. Buku itu menampilkan sosok Kartini dengan lebih terang. Berkat yahnya, bangsawan yang menjadi bupati di Jepara dan mengabdi sebagai birokrat colonial, dia dapat bergaul dengan orang-orang Belanda dan bahkan pernah bertemu penggagas politik etis, C. Th van Devender.
Politik “balas budi” itu adalah pemikiran tentang perlunya menyejahterakan rakyat di negeri jajahan setelah menyiksa dengan tanam paksa, bukan mengakhiri penjajahan. Kartini menyadari bahwa di antara dirinya dan para tamu atau sahabat keluarganyaitu ada pertentangan yang tak terdamaikan. Mereka berasala dari sisi bangsa yang dijajah. Dia mengkritik tajam praktik kolonialisme dan rasisme dalam surat bertanggal 12 Januari 1900 untuk sahabatnya, Estella H. Zeehandelaar atau yang biasa disapanya Stella, anggota Sociaal Buru Sosial Demokrat.
Banyak, amat banyak diantara mereka boleh kami sebut sahabat karib kami. Tiada lain sebabnya, hanyalah karena kami berani berdaya upaya menjadi cerdas dan maju, hampir-hampir sama dengan mereka. Dengan cara yang halus sekali mereka membuat kami merasakan hal itu. “saya orang Eropa, kamu orang Jawa” atau dengan kata lain “saya memerintah, kamu saya perintah.. oh, sekarang saya mengerti, mengapa orang tidak setuju dengan kemajuan orang jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan, ia tidak akan lagi mengiakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan oleh atasannya.
Namun kata “Jawa” disini tidak lagi dapar diartikan semata-mata etnis atau bangsa Jawa, melainkan dalam konteks yang lebih luas, yaitu bangsa yang dijajah. Meskipun tak dapat dimungkiri bahwa orang Jawa memang paling diperbudak dan menderita di masa colonial Belanda. Bagaiman rasisme? Praktiknya tak pernah pudar. Kasus penembakan brutal di kantor tabloid satire Charlie Hebdo awal Januari lalu di Paris telah dipicu oleh praktik rasisme di Prancis. Saking lumrahnya praktik itu, orang-orang disana biasa menjadikan lelucon segala hal yang berhubungan dengan orang-orang Prancis keturunan Arab atau Aljazair, lalu menyamarkannya dalam frasa “kebebasan berpendapat”.
Sampai akhir hayatnya, Kartini tak pernah berhenti menyuarakan cita-citanya. Dalam surat pertamnya untuk Stella yang menanggapi pemngumumannya mencari sahabat pena di Hollandsche Lelie, sebuah majalah perempuan di Belanda, kita tidak hanya menangkap sikap pembela hak-hak perempuan yang bersemangat, tapi juga pejuang kemanusiaan.
Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidurnya dengan langkah cepat, tegap…gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesame manusia.
Sumber: Jawa Pos, Selasa 21 April 2015

