Perkembangan dunia digital menjadi sebuah keniscayaan. Kamum muda generasi milenial yang menjadi motor penggerak perubahan perlu difasiltasi dalam persaingan global sehingga dapat menjadi pemain besar dalam industry digital.

Memasuki Koridor co-working space (ruang kerja bersama) Surabaya, semangat Anda akan dibakar dengan kalimat-kalimat yang ditulis di dinding. Seperti kutipan dari Bung Karno: …Bansa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli….” atau “Potensi tanpa aksi tiu Impotensi”.

Pesan untuk produktif denganc ara kreatif digelorakan saat berada di Koridor. Fasilitas yang didirikan Pemerintah Kota Surabaya pada 10 November 2017 itu menyediakan ruang kerja bersama dengan suasana yang terkesan santai. Tempat duduk dibuat tanpa sekat menghadap ke luar dengan pemandangan gedung perkantoran.

Desain seperti itu dimaksudkan untuk mendorong produktivitas karena tempat kerja tak didesain dengan suasana formal. Justru dalam suasana santai, biasanya ide-ide kreatif akan lebih mengalir lancer. Dengan landasan berpikir itulah, Koridor didesain untuk memantik kreativitas anak muda Surabaya.

Koridor yang terletak di Jalan Tunjungan itu beroperasi selama 24 jam. Koridro merupakan ruang kerja bersama untuk mewadahi inovasi dan kolaborasi anak muda kreatif di Surabaya. Mereka didorong untuk melahirkan karya di bidang teknologi digital yang membawa manfaat bagi warga “Kota Pahlawan” itu.

Ada tujuh ruangan di Koridor. Tiga ruangan, yakno Paduraksa, Ruang Baur, dan Sesrawungan, bisa diakses oleh umum. Diruang Paduraksa dan Sesrawungan terdapat fasilitas computer dan WIFI gratis. Adapun Sesrawungan biasanya digunakan oleh Gapura Digital Goole untuk memberikan pelatihan kepada pelaku usaha rintisan dalam memanfaatkan teknologi untuk berdagang.

“Masyarakat juga bisa menggunakan ruang Padukasa scara gratis untuk menggelar kegiatan di bidang teknologi dan kewirausahaan. Proposal bisa diajukan kepada Bagian Humas Pemkot Surabaya dua minggu sebelum kegiatan berlangsung.” Kata pengelola Koridor, Vincentius Surya Putra, Sabtu (13/1), di Surabaya.

Empat ruangan lain, Sinausini, Obah Mamah, Pusaran, dan Ranjana, merupakan area terbatas. Ruangan itu diperuntukan bagi pelaku usaha rintisan berbasi digital di Surabaya yang sudah memiliki produk dan ingin mengembangkannya. Ruangan ini didesain khusus untuk melindungi ide yang dimiliki pelaku usaha rintisan tersebut. Saat ini ada 20 usaha intisan dari program Start Surabaya yang menempati ruangan itu, antara lain Riliv, RedBlood, dan Kreavi.

Vincetius mengatakan, setiap hari sekitar 300 anak muda memanfaatkan Koridor. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menikmati fasilitas yang ada. Pengunjung hanya perlu mendaftar dan menyerahkan kartu identitas kepada petugas. “Jika ada yang memanfaatkan Koridor untuk bermain gim atau streaming Youtube pasti akan diperingatkan karena itu bukan hal produktif,” ujarnya.

Chief Excutif Officer (CEO) Riliv, Audrey Maxmilian Herli, merasa amat terbantu dengan hadirnya Koridor. Selama dua tahun mengembangkan aplikasi curhat online dan konseling dengan psikolog itu, dia belum miliki kantor yang nyaman. Biasanya, pekerjaan mengembangkan aplikasi dilakukan di kos, perpustakaan, dan kafe.

Ide mengalir

Sejak Koridor dibuka, dia selalu bekerja di tempat itu menurut Audrey yang akrab disapa Maxi, Koridor menyediakan semua kebutuhan bagi pengembangan usahanya, seperti tempat kerja, WiFi, dan pegiat lain yang memiliki visi yang senada. Lokasi yang memiliki pemandangan gedung bertingkat juga membuat idenya mudah mengalir.

Selain itu, lokasinya yang menjadi satu kompleks dengan kantor sejumlh dinas membuatnya mudah jika ingin mencari data pendukung. “Karena banyak pelaku usaha rintisan, jadi bisa saling memberi masukan,” ujarnya.

Pengunjung lain, Vanny Olvia (21), mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Petra, Surabaya, mengatakan, dirinya memanfaatkan Koridor itu untuk mengerjakantugas kuliah dan pekerjaan sampingan sebagai desain grafis. Ia memilih tempat itu karena ada Wi-Fi dan tempat duduk nyaman. “kalau di kafe harus mengeluarkan uang.” Ujarnnya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini megatakan, Koridor dibuat untuk mengembangkan ide dan kreativias warga yang ingin mengembangkan usaha rintisan Jangan samapi anak muda yang ingin berkembang hanya berhenti di ide tanpa aksi lanjutan.

“Dengan keberadaan Koridor co-working space ini, saya mendorong pemuda Surabaya untuk mengembangkan usaha rintisan atau menciptakan produk, baik itu software (perangkat lunak) maupun harware (perangkat keras),” uhar Risma.

Bimbingan

Mereka Juga mendapatkan bimbingan dari perusahaan raksasa  teknologi, seperti Intel, Microsoft, Google, dan Facebook.”pengembang local bisa berkonsultasi untuk meciptakan produk yang sedang dibutuhkan perusaahaan teknologi dunia agar karyanya bisa langsung bersaing dengan asing,” ujarnya.

Dari data Asosiasi Co-Working Indonesia per April 2017, jumlah co-working space di Indonesia telah mencapai 87 unit. Itu menyebar di Medan (1), Padang (1), Palembang (1), DKI Jakarta (30), Tangerang Selatan (2), Bekasi (2), Bandung (10), Depok (3), Malang (1), dan Jember (1), Semarang (1), Yogyakarta (4) , Surakarta (2), Demak (1), Surabaya (6), Makassar (2), Manado(1), Bali (14), dan Samarinda (2).

Menurut Risma, Surabaya memiliki ekosistem yang kuat untuk mengembangkan usaha rintisan berbasis digital. Sebab, Surabaya memiliki sejumlah kampus besar, seperti Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Universitas Kristen Petra, yang memiliki mahasiswa unggulan.

Mahasiswa generasi milenial tersebut memiliki semangat untuk berkembang dan memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Kemampuan mereka tentang dunia digital perlu dikembangkan dengan memberi sarana ruang kerja bersama yang bsia dimanfaatkan setiap saat.

Risma terus mendorong pelaku usaha di Surabaya untuk merambah dunia digital. Seperti yang dilakukan di program Pahlawan Ekonomi dimana 5.000 dari 7.000 pelaku usaha di Surabaya sudah mulai memasarkan produk di internet.

Berdasarkan data Startup Ranking, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan jumlah 1.559 usaha rintisa pada 2017. Indonesia hanya kalah dari Amerika Serikat (37.480 usaha) dan India (3.928). “Warga Surabaya harus bisa menjadi pemain, jangan hanya dijadikan pasar karena industri digital bersifat global tidak terbatas Indonesia,” Kata Risma.

Kini tidak ada lagi alasan pemuda Surabaya tidak bisa mengembangkan usaha rintisan karena semua kebutuhan sudah difasilitasi Pemkot Surabaya. Tinggal kemauan dan kerja keras untuk mewujudkan kota ini sebagai kampiun industri digital.

 

Sumber: Kompas.5-Februari-2018.Hal_.24