Risoles memang sudah tidak asing bagi lidah banyak orang. Mendapatkannya juga mudah. Hampir di semua lapak penjual kue basah, risoles ada.
BERTAHUN-TAHUN risoles tampil apa adanya dengan isi ragout yang dibungkus kulit bertabur tepung roti. Risoles yang sering disebut risol mulai dutak-atik ketika jajanan ini semakin mudah dibeli. Rentang harga Rp. 10.00 hingga nyaris Rp. 10.000 per biji membuat orang memutar otak untuk menyesuaikan harga dengan isi risol.
Variasi mulai banyak saat lidah orang Indonesia mulai terbiasa menikmati gurih pekatnya mayonais (mayo). Risol isi mayo dan sepotong daging asap atau sosis dengan tingkat pedas berjenjang pun melanda jagat perisolesan. Kreasi yang sudah dilakukan banyak orang membuat orang berpikir keras mencari ide lain.
Di tangan Aulia Alfiani (23), jajanan sejuta umat itu mendapat sentuhan unik. Ia menyelipkan ciri khas Surabaya dalam riso. Risoles buatannya berisi rawon dan semanggi. Ide itu menjadi pembeda risoles buatan Aulia dengan risoles lain.
Risoles dengan isian daging berbumbu rawon menjadi sajian unik. Begitu juga dengan risoles berisi semanggi dengan saus bumbu kacang. Dua varian itu didapat setelah melewati proses cukup panjang.
Meski bosan dengan isi risoles yang itu-itu saja, Aulia tidak berani keluar dari pakem. Ia khawatir masyarakat tidak bisa menerima. Setelah browsing dan berdiskusi dengan teman-temannya, Aulia mantap mencari variasi isi yang langsung membuat orang terbelalak.
“Saya tidak ingin sekedar membuat sesuatu yang unik, tetapi juga mau usaha. Tentu saja usaha itu sesuai dengan kemampuan saya,” ceritanya.
Yang harus dipegang supaya orang tahu ada makanan khas Surabaya, Aulia memasukkan unsur makanan Khas dalam risoles. Pilihannya rawon dan semanggi. Rawon sudah familiar. Warna hitam kuahnya juga eksotis. Semanggi menjadi makanan langka yang hanya bisa dikenang. Jika keduanya dijajarkan, pasti risolesnya dicari.
Setelah menetapkan diri, ia langsung bereksperimen membuat risoles isi rawon. Hanya butuh dua kali percobaan, rasa yang diinginkan sudah didapat.
“Eksperimen pertama gagal karena kuahnya terlalu cair. Yang kedua diperbaiki. Kuah menjadi lebih pekat. Keluwek yang menjadi bumbu utama juga harus dipilih yang tua supaya tidak pahit,” tuturnya.
Daging cincang direbus menggunakan panci presto supaya prosesnya lebih cepat. Baru setelah itu bumbu dimasukkan dan diaduk hingga kuah mengental. Pengadukan 10-30 menit bergantung jumlah daging yang dimasaki.
“Yang penting bumbunya sudah meresap dalam daging,” katanya. Setelah dingin, daging rawon dibungkus kulit risoles dan digoreng.
Ia membagikan tester ke teman-teman dekatnya. Mereka mengacungkan jempol.
Awalnya, Aulia membuat kulit risolesnya hitam supaya tampil berbeda. Akan tetapi, reaksi mereka yang mencoba negative. “Rasanya memang enak, tetapi tampilannya tidak menarik. Akhirnya kembali ke kulit putih. Ternyata unik juga. Karena digigit, warna putih dan hitam menjadi lebih menarik,” tutur Aulia.
Setelah isi rawon sukses, ia mulai bereksperimen dengan semanggi hasilnya juga menggembirakan karena mereka yang mencoba memuji ide dan rasa risoles Semanggi. Hasilnya juga menggembirakan karena mereka yang mencoba memuji ide dan rasa Risoles Semanggi. Sekarang Aulia mantap memasarkan Risoles Rawon dan Risoles Semanggi.
RISOLES SEMANGGI YANG LANGKA
BERBEDA dengan Risoles Rawon yang menggunakan daging dan mencampurnya dengan bumbu keluwek, Risoles Semanggi ini dibuat segar. Daun-daun semanggi diisikan dalam kulit, sedangkan bumbu kacangnya dipisah ala saus yang bisanya menemani risoles mayo.
Risoles Semanggi lebih sederhana pembuatannya. Daun semanggi hanya direbus dan didinginkan kemudian dimasukkan kedalam kulit risoles.
“Bumbu semangginya dipisah. Saya pernah mencampurkan bersama daun semanggi, ternyata hanya bertahan empat jam. Setelah itu basi. Jadi, saya pisahkan,” tambahnya.
Tidak seperti bumbu dan daging rawon yang mudah didapat di pasar tradisional, semanggi cukup sulit. “Daun Semanggi ini kan semakin langkah. Jadi ya perlu energy ekstra mencarinya,” lanjutnya.
Sampai saat ini bumbu kacang semanggi masih dipesan ke orang lain. Rasa khas bumbu semanggi tidak mudah dibuat.
SAJIAN FAVORIT ARISAN
BARU memulai usaha Maret tahun ini, Risoles Rawon dan Risoles Semanggi sudah menunjukkan hasil positif. Aulia mengemas dengan brand Risoles Boyo untuk mengingatkan konsumen khudapan itu khas Surabaya.
Risoles Boyo hanya dipasarkan di Surabaya dan di Sidoarjo. Itu karena daya tahan risoles tidak bisa lama di suhu ruang. “Tanpa promosi gencar pun produksi sedang disiapkan,” tutur Aulia yang kewalahan melayani pesanan untuk arisan dan kosumsi di kantor-kantor setiap hari.
Supaya pesanan mengalir, Aulia rajin mengikuti bazar dan pameran makanan. Risoles Rawon dijual per paket Rp 25.000 berisi lima risoles. Risoles semanggi dijual Rp 20.000 per paket.
Sesepi-sepinya pesanan, paling tidak Aulia bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 100.000 setelah dipangkas semua biaya produksi dan pengantaran.
Omzetnya mungkin belum besar. Saat ini Aulia belum besar. Saat ini Aulia sedang bereksperimen memasukkan tahu tek dan lontong balap dalam kulit risoles.
Sumber: Surya.18-Mei-2015.Hal_.7

