Mengingat Masa Kecil di Museum Layang-layang.Bisnis Indonesia Weekend.24 Agustus 2014.Hal.9

Siang itu , museum Layang Layang Indonesia yang terletak di kilan kamang No.38 , Pondok Labu . Jakarta Selatan nampak lengang . Tidak terlalu banyak pengunjung datang memadati tempat ini

Museum pribadi yang dimiliki oleh perempuan pecinta layangan . Endang Wijanarko Puspoyo cukup memang cukup mudah untuk disambangi . Sejumlah transportasi umum dapat dengan mudah menjangkau tempat ini .

Bendirinya museum ini berangkat dari kecintaan Endang pada dunia seni . Kegairahannya dalam seni lukis , membuat dan menerangkan layang layang semasa kecil , tetapi meriyala hingga dia dewasa . Pada 1989 , Endang mulai menekuni dunia layang layang . Ketekunannya ini membuatnya menjadi penyelenggara festival layang – layang di berbagai tempat di Tanah Air .

kecintaannya pada alat permainan yang memiliki beragam fungsi ini membuatnya mengoleksi  beragam Jenis layangan . Pada akhirnya , Endang memutuskan untuk membangan museum yang juga dilengkapi program belajar membuat layangan .

Koleksi museum layangan ini terbilang cukup lengkap . Pengurus museum Asep Irawan dengan senang hati akan menemani Anda untuk berkeliling g ke lokasi ini . Dengan membeli tiket masuk seharga Rp10.000 per orang , Anda dapat tienikmati tiga sesi kegiatan di tempat ini . Pertant , pemutaran film tentang sejarah dan kegiatan lestival layang

Kedua , berkeliling museum dan sekaligus mendapatkan informasi tentang bertugai jenis layang – layang tradisional , layang – layang kreasi dari Indonesia maupun mancanegara Keris , belajar membuat layang – layang sederhana

Pada sesi ketiga ini , Anda akan belajar bagaimana cara merakit , menghias , dan mewartai layang Layang sesuai tingkatan usia , dengan bahan dan alat yang sudah disediakan

Di tempat ini , Anda dan keluarga juga dapat menikmati fasilitas lain lainnya yang tentunya tidak kalah seru dengan membeli paket tambahan seharga Rp35.000 – Rp50.000 di setiap sesi kegiatan . Kegiatan tambahan itu a.l. belajar melukis layang – layang menggunakan cat akrilik pada layang layang berbahan polyester , melukis payung , membatik di atas kain , dan membuat keramik .

MENGENAL MUSEUM

Dari sisi bangunan , museum ini terbagi menjadi empat bagian terpisah . Bangunan pertama adalah tempat penjualan tiket dan tempat untuk menonton video .

Bangunan kedua adalah tempat untuk melukis keramik dan membatik . Bangunan ketiga adalah tempat melukis layang – layang , sekaligus ruang pamer koleksi layang – layang , sedangkan bangunan keempat adalah tempat membeli souvenir .

Saat menjejakan kaki di ruang utama , Anda pasti akan tertegun1 menemukan koleksi beragam layangan yang jumlahnya mencapai ratusan hingga ribuan yang berasal dari Indonesia maupun mancanegara

Salah satunya adalah layangan erbesar di Tanah Air dengan ukuran 9 x 26 meter , yang diberi nama bernama Megaray . Layangan ini berbentuk seperti ikan pari , dan disewakan untuk kegiatan eksibisi .

Di tempat ini , Anda juga dapat melihat koleksi layangan minim berukuran 2 cm , yang berasal dari China . Bentuknya beragam mulai lalat , kupu – kupu , hingga naga .

Selain layang – layang tradisional , museum ini juga memamerkan koleksi layang – layang kreasi dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi , a.l. layang – layang Petruk Gareng , Capung , Naga , Pegasus , K Layar , Dokar , dan berbentuk Minia Museum Layang – Layang Indonesia sendiri . Uniknya , semua layangan dalam bentuk tiga dimensi ini dap diterbangkan .

Selain itu , dipamerkan juga layangan yang terbuat dari plastik kantong kresek . Dari seluruh kole yang paling menarik adalah kolek layang – layang purba yang berasal Pulau Muna , Sulawesi Tenggara Layang – layang purba ini biasa dis Kaghati .

Konon , Kaghati merupakan lay layang tertua di dunia , yang dibuktikan dengan relief di Goa Sigupatani , yang menggambarkan orang sedang bermain layang – layang Seluruh bahan layangan Kaghati berasal dari alam , dan diproses secara tradisional .

Masyarakat Muna menggunakan daun gandun untuk penahan angin sebagai pengganti kertas dan rangkanya terbuat dari bambu dan kulit pohon waru .

Di tempat ini , Anda dan keluarga tidak saja mendapatkan tambahan wawasan mengenai sejarah layang layang , tetapi waktu kumpul bersama anggota keluarga menjadi berbeda dengan menyaksikan sajian yang sangat mengapresiasi seni budaya Tanah Air .

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.24-Agustus-2014.Hal_.9