Koran bekas itu, melalui tangan-tangan terampil ibu rumah tangga dan ibu-ibu berusia lanjut di kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, dianyam menjadia aneka macam produk, seperti tempat tusuk gigi dan keranjang pakaian kotor. Itulah pemberdayaan yang dilakukan Aling Nur Naluri (33), alumni Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam IPB tahun 2005.
Oleh FX Puniman
Diperlukan waktu minimal dua tahun untuk melakukan pelatihan dan pendampingan warga untuk bisa memproduksi karya unik ini. “Jumlah komunitas ibu-ibu sari kelurahan Tanah Baru yang sudah mahir membuat karya unik dari bahan Koran bekas itu 60-an orang. Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan puluhan ribu rupiah sampai ratusan ribu per orang,”kata Aling saat ditemui di Bogor belum lama ini.
Akhirnya 2009, Yayasan Progres Insani, pengelola sekolah alam di kelurahan tanah baru, memulai kegiatan pemberdayaan masyarakat dnegan membuat Bank Sampah di Seputar sekolah. Sekolah ini memiliki murid ratusan siswa dari tingkat SD sampai SMP. Bank sampah cukup berhasil mengumpulkan sampah, tetapi dengan syarat sampah bersih dan sudah terpilah. Sekitar 11 jenis sampah terkumpul. Setelah cukup banyak, sampah dijual ke tempat pengumpul. Dari 11 jenis sampah tersebut, yang paling banyak adalah Koran bekas, yang berasal dari murid-murid yang orang tuanya pelanggan Koran.
Menurut Aling, dampak ekonominya kepada masyarakat tidak terasa karena harga sampah yang terkumpul murah. “Koran bekas saat itu Cuma Rp 1.500 per kilogram. Saya lalu berpikir kalau dibuat sesuatu yang ada nilai tambah bagus juga. Kebetulan saya bertemu Bu Tri Permana Dewi, salah satu orangtua murid. Bu Tri, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang dan sama-sama suka berkreasi, lalu (kami) berembuk untuk memanfaatkan Koran bekas yang prosesnya ramah lingkungan,” kata Aling.
Sekitar 2012, setelah mencoba berkali-kali usaha memanfaatkan Koran bekas, Aling dan Dewi akhirnya berhasil menemukan sejumlah produk dengan bahan daur ulang kertas Koran bekas. CV salam Rancage pun di dirikan sebagai wadah usaha. Aling didapuk sebagai direktur.
Ibu Rumah Tangga
Melalui salam Rancage, mereka bergerak memberdayakan masyarakat sekitar kelurahan Tanah Baru. Konsep pemberdayaan masyarakat ini menyasar ibu rumah tangga dan ibu berusia lanjut yang punya waktu di rumah. Mereka menawarkan penghasilan tambahan tanpa meninggalkan rumah. Mereka kami latih secara rutin untuk membuat produk dengan bahan Koran bekas yang mudah dikerjakan. Dari sana, mereka memperoleh tambahan penghasilan yang cukup lumayan,”kata Aling.
Ibu-ibu yang berusia lanjut, menurut Aling, menggulung kertas Koran, mulai dari satu halaman Koran, setengah, sampai seperempat halaman hingga bulat dan kencang. Sementara yang muda mengayam gulungan Koran tersebut menjadi bentuk yang akan dibuat. Setelah itu, gulungan itu dilapisi dengan pelapis kayu yang tak beracun. Adapun upah menggulung, satu gulungan Rp.25. Ada yang mampu mendapatkan upah Rp.18.000 selama 2 jam. Untuk produk barang jadi, mulai dari harga puluhan ribu rupiah sampai ratusan rupiah, mereka mendapta penghasilan 20 persen dari harga jual ditambah dengan nilai kertas Koran dan 10 persen untuk kas komunitas mereka.
“Jadi, kalau harga jual barang seperti tempat pakaian kotor sebesar Rp 300.000. Bagian pembuat Rp 60.000 bahannya 3 kg Koran (3 kg x Rp 1.500) Rp 4.500 dan 10 persen untuk komunitas dari Rp 300.000 sebanyak Rp 30.000. Jadi, untuk produk senilai Rp 300.000, pembuatnya mendapat Rp 94.500. bayangkan penghasilan itu jauh lebih besar dibandingkan kalau hanya menjual kertas Koran yang cuam Rp 4.500,” kata Aling seraya menambahkan upah perajin itu bisa langsung diambil dan tidak menunggu sampai barang buatanya laku dijual. Pembuatan tempat pakaian kotor itu, menurut Aling bagi yang sudah mahir dapat diselesaikan dalam waktu satu hari. “Untuk sampai tingkat mahir ini, memang dibutuhkan waktu dua tahun. Pelatihan diberikan sampai mereka mampu membuat produk yang rumit penyelesaiannya,”kata Alingdan Dewi yang secara berkala melakukan pelatihan bagi ibu-ibu warga setempat dan di luar kelurahan.
Pasar
Respons pasar terhadap produk daur ulang kertas Koran ini terus meningkat. Peningkatan pesat terjadi stelah mereka rajin mengikuti berbagai pameran produk hasil kerajianan di Jakarta, Bandung, dan Bogor. Bahkan, sekarang produk kerajinan mereka sudah mendapatkan tempat secara Cuma-Cuma di sebuah mall di kota Bogor. Tempat ini berkat dukungan dari wali kota Bogor Bima Arya dan istrinya selaku ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) kota Bogor.
Etalase di mall ini membuat karya daur ulang produksi mereka lebih sering dilihat orang dan diharapkan akan menarik minat pembeli. “Tentang pengakuan dari pihak lain, pada 2013, kami pernah mendapat pesanan topi dari kementerian PU senilai Rp 70 juta,” kata Aling, seraya menambahkan pada Mei ini mendapatkan pembeli dari Italia yang memesan keranjang barang dan pembeli dari Singapura yang tertarik dengan souvenir bunga kering. Dalam berbisnis, Aling mengatakan, mereka mengutamakan prinsip sosial binis yang tujuan besarnya adalah kemanfaatan sosial bukan profit. “Sementara bentuk bisnis dipilih agar program kemanfaatan sosialnya berkelanjutan. Tanpa harus mencari donatur,” kata Aling, yang suaminya merupakan salah satu pendiri dan pengurus yayasan progress Insani.
Dengan mengusung moto Tak Ada Rotan, Koran pun Jadi, Aling dan Dewi berangan-angan memberdayakan masyarakat dengan bahan daur ulang kertas Koran dan membangun kampung Koran di berbagai kelurahan di kota Bogor. Tampaknya angan-angan Aling dan Dewi akan terwujud. Namun, bukan di Bogor melainkan di Jakarta. Sebab, pihak kompas Gramedia pekan lalu menggandeng Salam Rancage untuk melatih warga sekitar Palmerah, tempat redaksi kompas berada, untuk membangun kampusng Koran. Ini bagian upaya pemberdayaan masyarakat dengan bahan bahan yang ramah lingkungan berupa Koran bekas. Produk jadinya juga kelak akan dibantu dipasarkan oleh Kompas Gramedia,”kata Aling.
Aling Nur Naluri
Lahir : Bogor, 2 Februari 1982
Suami : Agus Gusnul Yakin (39)
Anak :
- Muhammad Adzka Mutafannin (10)
- Ilma Nurul Fathia (8)
Pendidikan :
- SMP Negeri 1 Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat (1997)
- SMU Negeri 1 Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat (200)
- S-1 Matematika Famipa Institut Pertanian Bogor (2005)
Pengalaman Organisasi dan Bekerja
- Relawan Yayasan Progres Insani tahun (2000-2005)
- Pendiri dan pengelola Sekolah Anak Jalanan Pelita Insani (2001-2004)
- Pendiri dan direktur CV “Salam Rancage” (2012 sampai sekarang)
FX PUNIMAN
Wartawan, Tinggal di Bogor
Sumber: Kompas, Senin, 18 Mei 2015,
Halaman 16

