Sejak tahun 19894, Jakarta – Surabaya telah tersambung dengan jalan rel kereta api, namun dala perjalanannya haru sempat kali ganti kereta api.

yakni dari Jakarta – Bogor menggunakan kereta api milik perusahaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Kemudian di Bogor ganti kereta api milik Staatspoorwegen (SS) menuju Yogyakarta. Kemudian di Yogyakarta ganti kereta lagi dan naik kereta api milik NISM sampai Surakarta ganti lagi dengan kereta api milik SS.

Menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, pergantian kereta api bukan hanya disebabkan oleh kepemilikan kereta api yang berbeda. Namun peraturan yang berlaku. Ketika itu kereta api juga transit dengan tidak memperbolehkan berjalan malam hari. “Dengan alasan keamanan. Ketika itu banyak jalur yang tidak berpagar, sehingga menimbulkan bahaya bencana alam, misalnya tanah longsor,” kata Chrisyandi.

Faktor lainnya adalah SS juga belum mempercayai kaum pribumi menjadi staf dan pengatur lalu-lintas kereta api untuk mengoperasikan keretanya di waktu malam. Sehingga, semua kereta api berhenti beroperasi jam 6 atau jam 7 malam.

Prosedur ini terus berlanjut sampai tahun 1918. Di era tersebut SS menjalankan kereta api Java Expres Soerabaja-Batavia, kereta api dari Soerabaja sesampainya di Bandoeng hari sudah gelap sehingga para penumpang menginap di hotel terdekat dari stasiun.

Baru keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Batavia. Begitu juga untuk kereta api dari Batavia sesampainya di Djogjakarta harus berhenti dan menginap untuk melanjutkan perjalanan pagi harinya ke Soerabaja.

Walau tergolong sebagai kereta api cepat di masa itu, jarak Soerabaja ke Batavia pada awalnya harus ditempuh selama dua hari perjalanan (28-29 jam sampai 32,5 jam). Namun dengan berbagai upaya, kereta api jurusan Batavia – Soerabaja akhirnya bisa berkembang menjadi kereta api tercepat di Asia.

Semakin ramainya transportasi kereta api dan seiring tersambungnya jalur kereta api dari berbagai kota. Stasiun Gubeng mulai ramai. Chrisyandi mengatakan, perusahaan SS kemudian menambah kereta api. Endaagsche Express dan Nacht Express dengan loko-loko yang ada seperti C53 (SS1000). “Jadi saat zaman kolonial ada tiga kereta yang ada di Stasiun Gubeng,” terangnya kepada Radar Surabaya. (bersambung/nur)