Keberadaan Stasiun Gubeng sudah ada sejak tahun 1860-an. Kondisi bangunana tua itu hingga kini masih berdiri tegak di sisi timur jalan atau biasa disebut Gubeng Lama.

 

NAMUN Siapa sangka kekokohan dari bangunan itu, perusahaan Staatssporwegen (SS) merenovasi beberapa kali. Menurut Pustakawan Sejaran Chrisyandi Tri Kartika, ketika itu kemajuan jalan dart atau transportasi darat mulai ramai dan kondisi perkotaan berkembang pesat. Perusahaan perkeretapian SS pun meningkatkan pelayanan dengan melakukan renovasi di gedung Stasiun Gubeng.

“Jadi sekitar tahun 1905 peron diperbaiki dan secara berkelanjutan bangunan utama diperbaiki sekitar tahun 1928,” kata Chriyandi kepada Radar Surabaya.

Bahkan pasca kemerdekaan bangunan tersebut juga sempat mengalami perbaikan, terutam pada ruang tunggu dan atap. Hal ini untuk membuat nyaman penumpang. “Terakhir beberapa tahun lalu direnovasi pengecatan papan petunjuk dan bagian yang rusak. Tapi keseluruhaan bangunan utama tidalk dirubah secara besar-besaran,” terangny.

Ia menjelaskan, kondisi perkeretapian di tahun pasca kemerdekaan mengalami peningkatan yang signifikan. Terutama setelah abad 20. Karena padatnya arus lalu lintas jalan darat. “Kereta api jadi primadona ketika itu,” ujarnya.

Meski jalur kereta api Surabaya-Jakarta sudah tersambung, namun di tahun 1974 kereta api jarak jauh yang beroperasi di Stasiun Gubeng hanya satu kereta api, yakni Bima. “Jadi Bima (kereta api) dulu melayani rute Madiun – Surakarta – Yogyakarta – Jakarta. Hanya satu kereta api jarak jauh ketika itu,” pungkasnya.