Selain sebagai jalur untuk menyebar syiar agama, Islam, kawasan Kebon Dalem atau terkenal dengan Boto Putih dahulu juga menjadi pusat lalu lintas perdagangan.
Rahmat Sudrajat
Wartawan Radar Surabaya
Pasalnya di kawasan tersebut terdapat sungai yang terletak di tengah jalan. Sungai tersebut menjadi lalu lintas kapal-kapal dari Eropa untuk mengirim dagangannya ke Surabaya.
Menurut pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika, kawasan tersebut diapit oleh dua sungai. Yang sisi barat sungai Kalimas, sisi Timur sungai Kebon Dalem atau berdekatan langsung dengan Pegirian. “Kalau yang Kalimas itu kapal-kapal dari Eropa sedangkan dari itu untuk jalur kapal pribumi (lokal) ke Pecinan,” katanya.
Lanjut Chrisyandi, pengaruh dagang tersebut karena di kawasan tersebut juga terdapat kawasan Kebon Dalem sehingga mengikuti perkembangan yang ada di wilayah tersebut. “Centernya kan ada di Ampel tapi juga ditarik secara wilayah syiar agama juga Kebon Dalem berpengaruh juga. Jadi otomatis kapal-kapal yang bersandar juga membawa kebutuhan untuk dagang,” katanya.
Kawasan itu menjadi ramai karena banyak kapal yang bersandar dari sungai Kalimas, termasuk orang-orang Eropa dulu banyak bermukin di kawasan tersebut sehingga suku dan etnis bercampur menjadi satu.
Menurut Chrisyandi, tanah-tanah di masa colonial hukumnya masih berat sebelah, karena banyaknya suku etnis yang bermukim di kawasan tersebut sehingga lambat lain, warga Eropa berpindah ke arah timur. “Jadi mereka warga Eropa akhirnya terdesak pindah di sisi timur yakni di Pegirian dan dekat Kebon Dalem,” katanya.
Lanjut Chrisyandi, warga Eropa juga berpindah ke kawasan Kapasan, dan Simolawang hingga Kebon Dalem. Karena semakin banyaknya pendatang dari bangsa Arab sehingga kampung-kampung disana terkelompokkan.
“Kalau melihat dari kampung disana, ada kampung Arab karena mereka awalnya menyiarkan agama Islam, dan juga berdagang lambat lain bermukim disitu,” terangnya.
Seiring berubahnya zaman, juga ada kawasan melayu dan kawasan menjadi strategis bagi para pedagang dan akhirnya dijadikan tempat untuk bermukim.
Selain itu karena center (pusat) berada di Ampel maka kali jalan dikawasan tersebut memang jalan tua sehingga untuk syiar agama dahulu ada menggunakan banyak jalan untuk menuju ke arah Surabaya Utara (saat ini).
Sumber: Radar Surabaya, 27 April 2021

