Sumber berita : https://bacamalang.com/mengulik-spookhuis-bangunan-setan-di-surabaya-lewat-movie-talk-kopaja-sma-tugu-x-universitas-ciputra/

Mengulik Spookhuis Bangunan Setan Di Surabaya Lewat Movie Talk Kopaja SMA Tugu X Universitas Ciputra

22 Januari 2025

BACAMALANG.COM – Ada sebuah bangunan di Surabaya, sebuah gedung tua yang mendapat julukan cukup seram yakni Gedung Setan. Gedung yang juga disebut sebagai SPOOKHUIS ini ternyata menjadi hunian bagi sebagian masyarakat meski kondisinya dapat dikatakan sudah tidak layak karena atapnya yang bocor, plafon rapuh, serta warganya harus berdesak-desakan. Dan seperti julukannya, ada stigma negatif pula bahwa tempat ini berhantu.

Lewat tangan mahasiswa dan mahasiswi jurusan Information System Business Universitas Ciputra Surabaya, bangunan di kawasan Banyu Urip Wetan, Kecamatan Sawahan ini dikemas menjadi sebuah film dokumenter, yang menggambarkan ikon dan kekayaan sejarah Kota Surabaya, dari perspektif warga dan okultisme yang pernah terjadi di tempat ini.

Film dokumenter “SPOOKHUIS, Rumah Tuhan di Gedung Setan” karya Steve Reynard Prasetyo dan kawan-kawan ini dikulik dalam Movie Talk, hasil kolaborasi Komunitas Pelajar Sejarah SMA Tugu atau Kopaja SMATUG, dengan Universitas Ciputra Surabaya di Dialoogi Space & Coffee, Jalan Sukarno-Hatta Kota Malang pada akhir pekan lalu. Usai nobar, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi antara kreator dokumenter SPOOKHUIS, Rumah Tuhan di Gedung Setan dengan sedikitnya 40 anggota dari siswa SMA 1, 3 dan 4 dalam acara yang sekaligus agenda sertijab pengurus Kopaja tersebut.

Salma Mentari Putri, salah satu siswa KOPAJA mengaku penyajian film dokumenter mengenai Gedung Setan ini menjadi hal yang menarik bagi dirinya. “Saya sangat tertarik, karena jujur, baru tahu juga bahwa Kota Surabaya mempunyai ikon selain ‘sura’ dan ‘baya’, yakni gedung setan itu,” ungkapnya kepada BacaMalang.com.

Selain itu, imbuh Salma, flm ini menambah wawasan baru baginya. “Dalam pemikiran saya, gedung setan adalah gedung angker yang tidak berpenghuni, namun ternyata salah, dan justru gedung setan tersebut menampung banyak keluarga di dalamnya,” ujar siswa kelas 11 Management Business and Accounting SMAN 4 Kota Malang ini.

Salma, yang terpilih menggantikan Erinda dari SMAN 1 sebagai Ketua Umum KOPAJA ini mengatakan, memang sudah ada pembicaraan
antara pengurus dan pembina mengenai rencana membuat format film untuk pembelajaran sejarah.

“Namun saat ini kami masih belum bisa memastikan mengenai konsep dan teknis pengerjaan fim tersebut. Pastinya kami juga ingin mengangkat sejarah sekolah kami, yaitu SMA Tugu,” ucapnya.

Guru mata pelajaran sejarah SMAN 4 Malang, Intan Cahyaning Handoyo, S.Pd.Gr. menuturkan, tujuan dari Movie Talk ini adalah kolaborasi dengan Universitas Ciputra, bahwa sejarah tidak hanya tentang candi atau prasasti dan sebagainya. “Apa yang ada di sekeliling kita bisa dikaji dari sudut pandang sejarah,” ungkap pembina KOPAJA ini.

Guru yang disapa bu Intan ini menambahkan, di era sekarang, produk dalam bentuk tulisan sudah jarang diminati, sehingga dengan adanya kegiatan ini bisa mengembangkan kreativitas para siswa untuk mengemas sejarah dalam bentuk audio visual atau film, yang tentunya akan lebih dapat dikonsumsi lebih banyak kalangan dan usia.

“Sebelumnya, KOPAJA pernah mengembangkan produk sejarah dalam format photo story, sehingga foto-foto yang diambil dapat bercerita. Kebetulan guru sejarah SMAN 1, Zainul Hasan MPd, yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sejarah di SMAN 1, 5 dan 4, sudah menginisiasi dengan membuat lomba film pendek tentang tokoh-tokoh sejarah,” paparnya.

Intan mengaku pembuatan film dokumenter sejarah bagi KOPAJA SMATUG ini sudah menjadi program kerja tahun ini, dengan harapan dapat mengeksplorasi bangunan-bangunan di sekitar sekolah maupun sekolah di kompleks tugu itu sendiri yang kaya akan nilai sejarah.

Sementara penanggung jawab “SPOOKHUIS, Rumah Tuhan di Gedung Setan” FX Domini BB Hera, merasa bersyukur dapat membawa film dokumenter ini ke ruang diskusi bersama para siswa KOPAJA di Malang. Film produksi tahun 2024 ini, menurut sejarawan yang biasa disapa Sisco ini, bukan hanya menarik karena melalui penelusuran dan kesaksian langsung, namun juga menjadi bernilai historis.

“Teman-teman Universitas Ciputra mengambil gambar gedung tersebut saat masih utuh, sebelum akhirnya atapnya ambrol akibat hujan deras pada akhir bulan Desember 2024 lalu, yang membuat sedikitnya 61 penghuni harus dievakuasi dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman,” pungkas Sisco.