Sumber : Jawa Pos

Menikmati Nuansa Vintage di Lawang Sewu hingga Rumah Akar

31 Agustus 2024

MENIKMATI slow travel tentu kurang komplet jika tidak diselingi dengan sesi kulineran. Di Semarang, ada begitu banyak tempat yang layak masuk dalam itinerary mengisi perut.

D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie bisa jadi jujukan. Sesuai dengan namanya, pemilik rumah makan ini adalah desainer kenamaan Anne Avantie. Lokasinya dekat dengan kota lama. Tak sampai 10 menit berkendara. Resto ini mengusung konsep “ndeso”. Baik dari sajian menu maupun dekorasi interiornya.
Aneka menu disajikan secara prasmanan. Pilihannya variatif Ada Sayur Lodeh, Oseng Cumi Item, Bubur Pecel Sambel Tumpang, Ramesan Sambel Mangut Semarangan, dan masih banyak lainnya. Namun, yang paling banyak mencuri perhatian adalah Sego Gudeg Koyor.
Pilihan makanan pendamping pun lengkap. Mulai aneka sambal, aneka buah, jamu, hingga jajanan pasar. Semua lengkap tersaji.
Jika beruntung, pengunjung berkesempatan bertemu dengan Bunda Anne, sang owner. Kebetulan, saat Jawa Pos berkunjung, desainer kebaya kenamaan tanah air itu berada di restoran miliknya.
Dengan telatennya, desainer asal Semarang tersebut turut melayani para pengunjung. Saking enjoynya, Anne juga menyempatkan bernyanyi bersama band pengiring dan mela-yani permintaan group photo dari pengunjung D’Kambodja. (dee/cl4/ris)

ISTILAH slow travel kini banyak digaungkan. Selain dianggap lebih praktis, slow travel memungkinkan para traveler untuk menikmati momen liburan dengan lebih bermakna tanpa harus buru-buru.
Semarang layak masuk dalam wish list. Para traveler bakal disuguhi aneka destinasi dengan ragam tema. Yang membuat momen liburan akan bermana dan penuh warna.
Saat memulai penjelajahan ke Semarang, gedung Lawang Sewu adalah satu destinasi wajib yang harus dikunjungi. Bangunan ini dulunya adalah kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Saat ini Lawang Sewu berstatus aset PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Bangunan yang terletak di Jalan Peruda itu menjadi museum dan galeri sejarah perkeretaapian yang seolah tak pernah sepi. Sesual dengan namanya, Lawang Sewu (yang dalam bahasa Jawa berarti seribu pintu) memiliki sebuah keunikan berupa 1.000 jendela tinggi dan besar sehingga tampak seperti pintu.
“Ini kali pertama saya berkunjung ke Semarang, jadi harus ke sini. Selain bisa foto dengan background pintu – pintu, ternyata bisa juga belajar soal sejarah perkeretaapian,” ujar Imas asal Jakarta yang ditemui Jawa Pos.
Para traveler bakal dibuat takjub saat melihat kemegahan Lawang Sewu. Wajar, selain eksotis, bangunan yang berdiri sejak awal 1900-an itu masih kokoh dan terawat. “Bersih, rapi, koleksinya lengkap. Bahkan, ada guide yang menjelaskan runut. Jadi, semua pengunjung bisa belajar sejarah,” jelasnya.

Berada tepat di jantung kota Semarang membuat Lawang Sewu mash menjadi primadona yang tak habis daya tariknya. Hanya dengan Rp 20 ribu, pengunjung bisa bebas datang dan berlama-lama di salah satu cagar budaya tersebut. Gedung ini buka setiap hari, mulai pukul 08.00 sampai pukul 20.00, tetapi untuk Rabu buka mulai pukul 12.00 WIB.
Bergeser beberapa langkah dari Lawang Sewu, para wisatawan bisa menyempatkan waku untukmenikmati Semarang dengan cara yang lebih chill. Yaitu, berjalan kaki menikmati Kota Lama Semarang.
Titik start penjelajahan bisa dimulai dari kafe Teko-deko yang berlokasi di Jalan Letjen Suprapto. Lalu, mengarah ke Jalan Cendrawasih untuk menuju Museum Kota Lama. Museum ini sebelumnya dikenal warga lokal sebagai lokasi Air Mancur Bundaran Bubakan.
Perjalanan santai bisa berlanjut ke arah Jalan Suari dan Kepodang. Disepanjang jalan itu, pengunjung akan disuguhi pemandangan bangunan tua di kanan kiri yang memang sengaja dipertahankan keasliannya.
Bagi penyuka foto Instagrammable, para traveler wajib mengunjungi destinasi Rumah Akar. Di sini puing-puing bangunan menyatu dengan akar pohon. Sajian ini membuat dokumentasi berwisata para pelancong berkesan vintage (antik).
Namun, jika kurang percaya diri dengan skill mengambil foto, tak perlu khawatir. Sebab, di sepanjang jalan itu, wisatawan dapat menemui para fotografer andal yang menawarkan jasanya dengan blaya yang cukup miring, hanya sekitar Rp 5 ribu per foto. (dee/c14/ris)