Menilik Minat Investasi SUN yang Masih Solid.

Investor Pemula Bisa Mulai dengan Rp 1 Juta

Jawa Pos. 18 Februari 2024. Hal.5

Sebagai salah satu surat berharga negara (SBN), surat utang negara (SUN) banyak menjadi pilihan sebagai instrumen investasi. Data perekonomian domestik mendukung minat investor.

MENURUT Pasal 3 UU 24/2002 SUN terdiri atas dua jenis: surat perbendaharaan negara dan obligasi negara. Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Deni Ridwan mengatakan, hingga kini minat dalam lelang SUN tetap tinggi.

Data DJPPR mencatat, hingga Senin (12/2), Kemenkeu menerima pembiayaan Rp 24 triliun dalam lelang SUN. Nilai itu berasal dari penawaran yang masuk dalam lelang tersebut yang mencapai Rp 52,63 triliun atau 2,19 kali dari target indikatif.

Demand investor masih dominan pada seri SUN tenor 5 dan 10 tahun dengan jumlah incoming bids dan awarded bids masing-masing 59,56 persen dari total incoming bids dan 59,58 persen dari total awarded bids,” paparnya belum lama ini. Incoming bids terbesar adalah pada tenor 5 tahun, yaitu Rp 19,91 triliun (37,82 persen dari total incoming bids) serta dimenangkan sebesar Rp 9,65 triliun (40,21 persen dari total awarded bids).

Deni menyebutkan, minat investor yang baik itu didukung oleh positifnya data perekonomian domestik. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Q4 2023 yang mencapai 5,04 persen YoY atau lebih tinggi dibanding Q3 2023 (4,94 persen). Ditambah posisi cadangan devisa per Januari yang berada di level USD 145,1 miliar. Sementara, sentimen pasar global masih wait and see atas langkah the Fed dalam penurunan Fed Fund Rate-nya mendatang, terutama atas data ekonomi AS yang cenderung masih robust.

Tidak hanya investor domestik, Deni menyebut minat investor asing pada lelang SUN masih cukup solid dengan jumlah incoming bids Rp 4,23 triliun. Mayoritas dari incoming bids itu pada seri SUN tenor menengah (5 tahun) sebesar Rp 2,42 triliun (57,13 persen dari total incoming bids) dan dimenangkan sebesar Rp 0,68 triliun (2,84 persen dari total awarded bids).

Pemerintah terus mendorong minat masyarakat untuk berinvestasi. Bahkan, kata Deni, generasi muda harus menumbuhkan kebiasaan berinvestasi, berapa pun nominalnya. Bahkan, hanya dengan Rp 1 juta, investor pemula sudah bisa memiliki Obligasi Negara Ritel seri 025 (ORI025) yang belum lama ini diterbitkan pemerintah dengan kupon tetap (fixed rate) mulai dari 6,25 persen per tahun.

“Ada yang bilang, investasi hanya untuk orang kaya. Itu salah,” tegasnya. “Justru karena duit kita sedikit, kita harus atur supaya bisa mendapatkan manfaat yang optimal. Apalagi, dengan kehadiran teknologi saat ini, justru opsi untuk kita berinvestasi lebih banyak,” lanjutnya.

Tahun Konstruktif Pasar Obligasi

Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula menilai, 2024 akan menjadi tahun yang konstruktif bagi pasar obligasi Indonesia. “Permintaan pasar terhadap obligasi di tahun 2024 diperkirakan masih tetap kuat,” ujarnya.

Faktor penopangnya, yaitu permintaan dari investor domestik seperti investor institusi keuangan non-bank karena kebutuhan reinvestasi dan pemenuhan kewajiban investasi pada SBN. Ezra menyebut permintaan investor asing juga dapat membaik seiring peralihan kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif. Diperkirakan, imbal hasil SBN 10 tahun dapat turun ke kisaran 6,00-6,25 persen.

Imbal hasil riil obligasi Indonesia tenor 10 tahun tercatat 4 persen. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dibanding kawasan lain seperti Thailand (3,2 persen), Tiongkok (3,0 persen), Malaysia (2,3 persen),
Filipina (2,1 persen), India (1,7 persen), AS (0,9 persen), dan Eropa (-1,9 persen).

Namun, beberapa faktor risiko perlu dicermati. Pertama, risiko dari tekanan penerbitan obligasi pemerintah, terutama pada paro pertama 2024. Itu merupakan strategi DJPPR Kemenkeu untuk melakukan lelang lebih banyak pada paro pertama (front-loading issuance policy).

Risiko kedua, melebarnya selisih imbal hasil antara surat utang negara Indonesia dibandingkan imbal hasil US Treasury sehingga menjadikan pasar Indonesia kurang menarik. Kondisi itu dapat terjadi apabila pendapatan ekspor Indonesia turun akibat melemahnya harga komoditas global. “Ketiga, risiko perbedaan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Terakhir, risiko ketidakpastian geopolitik,” tuturnya. (dee/c18/fal)

Tingkatkan Edukasi Pinjaman Online

ASOSIASI Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) membeberkan bahwa jumlah pengguna layanan pinjaman online mencapai 8,86 juta orang atau sekitar 5,4 persen dari total pengguna internet di Indonesia. Angka itu me- ningkat 2,7 juta orang atau 1,5 persen dari total pengguna internet di Indonesia dibanding survei pada tahun sebelumnya.

Hal itu menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat akan penyaluran kredit dari lembaga pendanaan nonperbankan seperti peer-to-peer lending terus bertumbuh. Sayang, kondisi itu turut menarik perhatian pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Muncul beragam kejahatan yang mengatasnamakan atau mencatut perusahaan peer- to-peer lending resmi.

“Karena itu, kita perlu terus membekali masyarakat dengan beragam pemahaman mengenai layanan dan fasilitas yang ada di industri peer-to-peer lending, termasuk berbagai tantangan yang berpotensi merugikan dan cara menghadapinya,” ujar Brand Manager PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) Jonathan Krissantosa, Senin (12/2).

Salah satu edukasi yang penting adalah menyadarkan masyarakat akan adanya pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang berupaya meniru dan mencatut nama perusahaan penyedia jasa peer- to-peer lending resmi untuk mendapat keuntungan. (als/c12/wir)