Christine Novita Nababan
Memaksimalkan peran karyawan menjadi salah satu ciri khas kepemimpinan Helen Johnson Leipold. Dengan prinsip ini, miliarder dengan harta US$ 2,8 milliar ini sukses membawa Johnson Outdoors dan Johnson Financial Group keluar dari krisis finansial tahun 2008 silam. Tidak Cuma bertahan, Helen bahkan berhasil membawa Johnson Outdoors menyandang predikat sebagai penguasa pasar perlengkapan aktivitas luar ruangan di Amerika Serikat (AS). BUAH jatuh tidak jauh dari pohon. Peribahasa ini tepat menggambarkan hubungan Helen Johnson Leipold dan sang ayah, Samuel L Curtis. Dalam mengelola bisnis keluarga SC Johnson yang mendunia, Helen mengikuti jejak sang ayah.
Jika meluangkan waktu berbicara dengan Helen tentang sang ayah, pewaris tahta konglomerasi bisnis SC Johnson itu bakal bercerita panjang lebar tentang sepak terjang sang ayah membesarkan SC Johnson menjadi salah satu produsen produk pembersih terbesar di dunia. Betul, Helen adalah pengagum berat sang ayah.
Bagaimana tidak? Selai meneruskan bisnis keluarga, sang ayah merintis perusahaan kecil, Johnson Wax dari aset US$ 150 juta menjadi US$ 6 milliar. “Dia orang yang istimewa. Dia memiliki cara menakjubkan untuk memimpin dan menginspirasi karyawannya,” kata Helen seperti dikutip The Business Journal. Tangan dingin Samuel mengelola Johnson Wax berhasil mendulang untung hingga sang ayah merintis perusahaan baru pada tahun 1970 silam. Kala itu, samuel mendirikanJohnson Outdoors. Ini adalah produsen alat-alat aktivitas di luar ruangan. Saat ini, Helen merupakan nakhoda Johnson Outdoors.
Samuel juga yang berhasil membiakkan bisnis keluarga hingga ke industri keuangan, Samuel mendirikan dan membesarkan aset Johnson Financial Group hingga memiliki aset sampai US$ 3,2 milliar. Selama lebih dari 25 tahun, sebelum sang ayah menghembuskan nafas terkahirnya pada tahun 2004 silam, Helen menyaksikan ayahnya membangun bisnis keluarga. Setelah lulus kuliah pada tahun 1970 dari Cornell University, Helen tidak langsung terjun ke bisnis keluarga. Dia malang melintang tujuh tahun bekerja di Foote, Cone & Belding di Chicago, Amerika Serikat. Barulah pada September 1985, Helen bergabung dengan SC Johnson.
Johnson Outdoors dan Johnson Financial bertahan dari krisis 2008.
“Ini bukan keputusan mudah untuk bergabung di bisnis keluarga, tetapi, ini keputusan yang terbaik,” tutur Helen. Keputusan Helen bergabung di bisnis keluarga bukan berarti semulus jalan tol. Dia tidak serta merta memperoleh jabatan. Malahan, Helen menjadi staf di berbagai bidang semisal manajemen produk, penjualan, dan pemasaran, sebelum akhirnya duduk empuk di kursi direktur. Di bawah kepemimpinan sang ayah, Helen menjadi staf perusahaan selama tujuh tahun, sebelum diangkat menjadi direksi. Tempaan keras sang ayah membawa hasil positif. Mengikuti gaya kepemimpinan sang ayah, Helen bisa membawa Johnsoon Outdoors dan Johnson Financial Group melalui berbagai rintangan, termasuk krisi finansial tahun 2008.
“Tidak mudah melalui persaingan ketat di kedua bisnis yang kamu jalani. Banyak pesaing, baik di Johnson Outdoors maupun Johnson Financial Group. Namun, kami melakukan untuk satu atasan, orang-orang yang kuat, berdedikasi dan bertalenta,” tutur orang kaya dunia peringkat 601 versi Forbes tersebut.
Menurut Sally Smith, Wakil Direktur Utama sekaligus Direktur Pemasaran Johnson Financial Group, Helen selalu mengingat apa yang ayahnya ajarkan dalam mangambil kebijakan penting. “Dia memimpin dengan prinsip ayahnya bahwa penghargaan pribadi terbesar adalah mereka yang datang setelah membuat dampak positif bagi orang lain,” katanya.
Dengan mengikuti jejak sang ayah, Johnson Outdoors kini berhasil menjadi penguasa pasar perlengkapan rekreasi luar ruangan. Helen dan suaminya, Craig Leipold juga membenamkan investasi sebagai pemilik Minnesota Wild National Hockey League. “Sebagai keluarga, kami semua menyukai alam dan kegiatan yang berhubungan dengan olahraga,” imbuh dia.
Sumber: Kontan, 16 Januari 2015.Hal 24

