Beberapa orang mengerjakan pohon buatan. Bahan yang digunakan antara lain kertas koran, botol air mineral, kantong plastik, kelobot atau kulit jagung, daun, ranting, hingga aneka biji-bijian. Pohon setinggi 1 meter itu dikerjakan selama tiga jam.

Membuat pohon natal atau artifisial menggunakan bahan sampah yang sudah di daur ulang adalah salah satu kegiatan rutin yang digelar Asosiasi Pengusaha Bunga Kering dan Bunga Buatan Indonesia (Aspringta) Jawa Timur. Beranggotakan 60 pelaku usaha, organisasi ini ingin terlibat dan mewarnai kegiatan perekonomian di Tanah Air.

Karya perajin untuk hiasan dirumah, gedung, atau hotel itu umumnya berupa bunga kering,hiasan.pernak-pernik, hingga lukisan. Semuanya menggunakan bahan baku barang beksa atau sampah kering. Kerajinan yang dibuat perajin-yang rata-rata sudah berumur-itu bahklan merambah pasar luar negri.

Ketua Aspringta Kota Surabaya (Jawa Timur) Safni Yeti, yang ditemui di sela-sela pameran bunga kering dan buatan, beberapa waktu lalu, menyebutkan kendati dibuat dari barang bekas, psar daun kering, biji-bijian, dan ranting pohon itu justru keluar negri. Semua bahan bakunya menggunakan bahan lokal dan alami.

“kami, perajinyang rata-rata sudah berumur diatas 50 tahun konsisten pada jalur memuliakan barang-barang yang tak berguna” katanya

Perajin sekaligus pemilik usaha bunga kering dan buatan di Surabaya ada yang sudah 80 tahun, tetapi masih kreatif dan tak henti membuat pernak-pernik berbahan baku alami. Tentu saja, hiasan yang dibuat itu disesuaikan dengan tren yang berlaku di msyarakat.

Dahulu bunga kering, pernak-pernik, dan lukisan itu untuk mempercantik ruangan berukuran besar. Maka, hisaan pun dibuat dengan ukuran yang bisa setinggi 3 meter. Namun, kini ukuran hiasan disesuaikan dengan ruangan yang trennya kearah minimalis dan kecil.

“Produk kami kini digandrungi keluarga muda yang tinggal di apartemen sehingga ukuran berbagai hiasan itu tidak lebih dari 50 sentimeter, “kata Supardi,perajin asal Surabaya yang menggunakan bahan baku utama eceng gondok.

Pasar Ekspor

Pada umumnya, perajin hiasasn dan pernak-pernik ini menekuni usaha mereka karena panggilan jiwa. Meskipun, ada juga perajin yang pada awalnya hanya coba-coba dan mengisi waktu luang yang lantas berlanjut.

“Jadi meskipun sudah berusia lanjut, mereka masih bisa membuat karya sesuai zaman,” kata Nanik Heri, pemilik kerajinan daun kering.

Nanik, ibu dari tiga anak ysng meniti usaha bersama almarhum suaminya Heri, setiap tahun memngekspor kotak tempat abu jenazah. Setidaknya, 30.000 kotak terbang ke iNggris, Belanda, dan Spanyol per tahun.

Ditengah kesibukannya mengerjakan pesanan yang membanjir dari luar negri, Nanik tetap berupaya membagikan ilmu kepada perajin lain atau orang-orang yang ingin mempelajari cara mengolah dan berkreasi debgan daun kerig. Ilmu yang dibaginya itu terkait cara mengolah daun kering agar bernilai tinggi.

Bagi anggota Aspringta Surabaya, tak ada barang bekas yang tak berguna. Produk mereka, meski dari limbah, tetap digemari konsumen domestik dan asing.

Untuk itu, Aspringta berusaha mencari orang-orang berbakat dan mencintai kerajinan berbahan baku alami. Salah satu caranya, anggota aspringta secara bergiliran berbagi ilmu mengolah limbah kering menjadi barang bernilai ekonomi.

“Anggota kami rutin diundang pemerintah daerah dari Sabang hingga Papua untuk berbagi ilmu. Syarat pelatihan  di setiap daerah tetap sama, yakni bahan bkau disesuaikan dengan yang tersedia di daerah it. Misalnya, di Nusa Tenggara Timur mudah menenmukan kelobot jagung, di Sulawesi gampang menenmukan daun kering dan biji-bijian, begitu juga di Kalimantan,” kata Safni.

Dengan menggunakan bahan baku yang tersedia di daerah masing-masing, hambatan untuk berkarya bisa dikurangi.

Hal serupa juga dilakukan Wiwit Manfaati, perajin yang menggunakan bahan baku eceng gondok. Wiwit juga kerap berbagi ilmu hinga ke Papua dan Papua barat. Sambil berbagi ilmu, Wiwit mencari pengusaha baru yang bisa bergerak dikerajinan bunga kering dan buatan.

Upaya mencari pelaku usha yang bersedia menekuni kerajinan berbahan baku limbah kering juga dilakukan Ani Susilowati. Selama ini, Ani sukses mengembangkan kerajinann dari karung goni bekas yang diperoleh dari psar loak di Surabaya itu dikreasikan menjadi bunga.bros, dan tempat tisu.

Sama seperti perajin lain yang bergabung di Aspringta, Ani tidak ingin kerajinan berbahan baku barang bekas itu tersisih karena kekurangan pengrajin. Sambil berkreasi, para pelaku usaha tersebut berbagi ilmu dan menjaga napas kerajinan berbahan baku barang bekas.

 

Sumber: Kompas-Minggu-28-Januari-2018.hal_.-12