Disanjung sebagai jembatan dua peradaban Indonesia-amerika, spontan dia berkata “kesimpulan yang terlalu cepat”. Seorang pengelana budaya? Tidak juga. Lantas apa? Katanya “saya hanya membuat catatan pengalaman seorang mantan diplomat AS yang pernah bekerja di Indonesia selama 12 tahun sebagian dari 28 tahun sebagai diplomat”
Bertemu dan ngobrol bersama Stanley harsha (58),panggilan akrabnya,Stanley, stan, atau harsha. Kami diperkaya makna idiom “jatuh hati”. Serba tenggang rasa, tidak bergaya jagoan layak orang amerika. Kata Stanley “saya toh,seorang American” yang rendah hati dan jatuh hati pada Indonesia. Berkat istrinya, henny mangoendipoero, yang muslimah solo, Stanley menikah secara islam dengan latar belakang kebudayaan keturunan ningrat jawa yang kental? Berkat karier sebagai diplomat? Berkat bawaan hatinya yang menempatkan sesame bangsa dan sesame manusia sebagai sesame ciptaan? Wah katanya,mungkin berkat semuanya! Stanley lebih dikenal public terutama setelah terbit bukunya seperti bulan dan matahari. Indonesia dalam catatan seorang diplomat amerika. Dalam peluncuran dan bedah buku itu, akhir mei, prof azyumardi azra yang sekaligus menulis kata pengantar, mengapresiasinya tidak hanya sebagai catatan pribadi. Lebih dari itu. Buku Stanley merupakan refleksi pengembaraan dua peradaban AS dan Indonesia. Kedua negara yang sama sama berlatar belakang serba majemuk. Idiom klasik e pluribus unum (dari keragaman menjadi satu) atau semboyan bhinneka tunggal ika oleh empu tantular, mewujud dalam praksis kenegaraan/kebangsaan AS dan Indonesia. Ungkapan “seperti matahari dan bulan” dia pungut dari lebih tepat disodorkan istrinya. Judul itu menggambarkan sepasang kekasih yang tampan dan cantik. Menggambarkan kiasan idealisasi kedekatan hubungan AS dan Indonesia. Pengembaraan Stanley menjadi lengkap ketika jiwa raganya dipersatukan dengan mempersunting henny, henny berasal dari lingkungan keraton solo, putri seorang pejabat, padmosawego mangoendipoero,buyut pujangga keraton solo, ki padmosoesastro. Judul buku,kata Stanley dibuat dan ditemukan bersama istrinya. Istrinya pula yang menerjemahkan, sebab naskah asli ditulisnya dalam bahasa inggris. Beberapa hari kemudian, baru terbit dalam bahasa inggris (naskah asli) berjudul like the moon and the sun. Indonesia in the words of an American diplomat.
Diluar dugaan
Bulan dan matahari,ibarat yin dan yang dalam filsafat china klasik, member terang sekelilingnya (kemajemukan sebagai realitas serba alami). Stanley tidak menyangka bukunya diapresiasi banyak orang. Analisisnya jauh dari kedalaman catatan mantan dubes AS untuk Indonesia,marshall green, yang berjudul Indonesia: crisis and transformation. Buku berisi catatan pengalaman green, khususnya kondisi Indonesia tahun 1965-1968, periode sejak adegan akhir pemerintahan soekarno dan babak awal soeharto menancapkan kekuasaan represifnya. Sebuah catatan politik. Tentang serangan AS terhadap irak,bagian penting dari perang AS melawan terorisme, sejak awal Stanley tidak setuju. Cap umum negative amerika sebagai “polisi dunia” kadang ada benarnya. Bahkan, standar dobel dia lihat sebagai cara kerja perpolitikan amerika terhadap sejumlah negara di dunia sepanjang sejarah. “kasus Vietnam, kasus perang teluk,kasus memerangi terorisme dilator belakangi kondisi dan kepentingan yang berbeda beda” kata Stanley pada kami beberapa hari yang lalu. Bagaimana dengan kehadiran amerika deng CIA nya,diisukan terlibat dalam berbagai pergolakan politik diindonesia? Menurut Stanley, kadang amerika dan Indonesia menemukan musuh yang sama. Taruhlah kasus timor timur, dimana marisme sebagai doktrin yang menjadi musuh bersama amerika dan Indonesia, membawa amerika ikut menyetujui serangan ke timor timur yang sedang bergejolak. Kekhawatiran efek domino menjadi kekhawatiran amerika dan Indonesia. Stanley tidak ingin memasuki wilayah sensitive politik, padahal niscaya dia kaya dengan pengetahuan dan pengalaman perpolitikan hubungan Indonesia dan amerika. Stanley mendapatkan catatan diplomasi sebagai warna warni perjuangan peradaban manusia. Taruhlah tentang hubungan budaya amerika dan Indonesia, yang baginya ibarat bulan dan matahari,tanpa dipertegas siapa matahari siapa bulan. Bagi Stanley, kedua entitas itu dirasakan sebagai personifikasi perjalanan hidupnya: orang amerika yang menyatu dengan Indonesia dengan tetap mempertahankan keunikan budaya masing masing, saling melengkapi dan memperkaya, dari berbagai keragaman menjadi satu. Latar belakang pendidikan dari tiga universitas yang berbeda beda, university of Colorado, Universidad de costa rica dan Universidad de mexico, pernah bekerja sebagai wartawan di amerika dan Venezuela, berkarier sebagai diplomat 12 tahun diantaranya di Indonesia, dari “sono”nya Stanley sudah pluralis. Bapaknya berasal dari irlandia dan ibunya amerika. Nama harsha itu nama eropa,dipupuk dalam pproses pendidikan serta kariernya tanpa sadar Stanley memang menjadi “jembatan” pemersatu berbagai kebudayaan.
Tanah air kedua
Kecintaannya pada Indonesia,sekaligus karena tugasnya di Indonesia, termasuk sebagai dubes sementara amerika di timor leste (2007) bagi Stanley nyaris tidak ada peristiw peristiwa penting di Indonesia yang luput dari amatannya. Indonesia menjadi tanah air keduanya, lebih konkret dengan menikahi henny mangoendipoero pada 1987 dan dianugerahi dua anak, annisa gevievieve dan sean Ralph. Kini kegiatan dan tugasnya tidak jauh dari apa yang sudah dijalani selama ini: jembatan dua kebudayaan, Indonesia dan amerika. Kecintaannya pada Indonesia, termasuk khususnya aceh dan jawa, membuat dia prihatin mendalam dengan terjadinya musibah tsunami aceh akhir tahun 2006. Menjadi jembatan itu terus berlanjut,seiring tugas pasca purnakarya, yakni mempromosikan hubungan antara perguruan tinggi di amerika dan Indonesia. Di hari hari mendatang, dia berencana bertemu dengan sejumlah perguruan tinggi di sumatera. Berbagi waktu tinggal di Colorado dan Indonesia, dia terus berusaha mencintai Indonesia dengan kebudayaan, dengan agama yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia.
Sumber: Kompas, Rabu 27 Mei 2015

