Sup Buntut Vegan dengan Tekstur “Berurat” dan Kuah Kaya Rempah

11 Agustus 2024. Hal. 16

Sepintas, menu di samping terlihat seperti sup buntut pada umumnya. Namun, kali ini digunakan olahan jamur yang “disulap” serupa daging berurat. Kuahya gurih dengan aroma rempah yang kuat.

PRINSIP gaya hidup vegan adalah tidak mengonsumsi bahan makanan yang berasal dari hewan. Meski demikian, menu-menunya tetap bisa tampil variatif. Salah satunya, sup buntut vegan ini. “Dagingnya” bertekstur dengan rasa mirip daging sapi.

Padahal, sup buntut began ini menggunakan bahan jamur. Kuncinya ada pada teknik pengolahan. “Kami pakai beberapa macam jamur yang bisa menciptakan tekstur seperti ‘berurat.’ Jadi nggak diblender halus kayak bubur, tapi bertekstur,” ujar Ivanli Irawan, owner Loving Life Vegetarian Restaurant, Surabaya.

Rasa “dagingnya” didapatkan saat pengolahan jamur tersebut. Tanpa kaldu sapi dan ayam, termasuk bawang-bawangan. Sebab, beberapa vegan juga tidak mengonsumsi bawang merah, bawang putih, bawang bombai.

“Kalau cari kaldu, ya dari kaldu jamur atau sayur diambil sarinya. Bumbu dapur lain masih oke. Prinsipnya sama dengan sup buntut yang reguler. Yang membedakan bahannya saja,” ungkapnya.

Meski demikian, rasanya kompleks. Gurih, asin, serta harum rempah dari jahe, cengkih, dan kayu manisnya cukup kuat menguar. Cara pembuatannya pun terbilang praktis. Tinggal rebus semua bahan kuahnya sampai sekitar 15 menit.

Masukkan “daging” vegan, lalu tambahkan irisan wortel, kentang, dan tomat untuk isian kuah. Sup buntut vegan siap disantap dalam keadaan hangat. (lai/c14/nor)