LONTONG cap go meh disajikan dengan opor ayam, osik daging, lodeh rebung dan telor, opor ayam.  Lontong cap go meh adalah masakan adaptasi peranakan Tionghoa Indonesia dengan masakan Indonesia, khusunya Jawa.  Lihat saja hidangannya.  Seperti yang dibuat oleh Nyonya Peranakan buatan Vonny Rumambi ini.  Suami Vonny, Freddy H Istanto mengulas makna-maknanya.  Dilengkapi taburan koya bubuk kedelai, ebi, bawang goreng dan sambal.  Ditambah kerupuk udang.

“Ini menu biasanya disantap keluarga Tionghoa Indonesia pada saat Anugerah cap go meh. Empat belas hari sete’ah Imlek atau tepatnya hari kelima belas bulan satu penanggalan Imlek,” kata Freddy H Istanto, direktur Siarikat Poesaka Soerabaia atau Surabaya Heritage Society.

Adaptasi ini tak mengerankan. Sebab Indonesia adalah pot besar yang memasukkan berbagai budaya.  Di antara sekian banyak kebudayaan, banyak di antaranya terjadi akulturasi yang menghasilkan produk budaya baru termasuk dalam kuliner.

Terkait cap go meh, menu lontong cap go meh ternyata hanya ada di Jawa. “Di daerah lain di Indonesia dan di negeri asalnya malah enggak dikenal masakan ini. Lontong cap meh adalah bukti akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa,” ujar Freddy.

Dalam lontong cap go meh terdapat berbagai jenis bahan. “Khasanah kuliner Jawanya ada di opor ayam, osik daging, lodeh rebung, lontong, sambal, dan kerupuk. Kalau khsanah Tionghoanya ya dari ebi, koya kedelai dan rebung,” ungkap tokoh Tionghoa itu.

Tak terlengkap makanan, ada filosofi yang memgikuti lontong cap go meh.  Di seiap item, makanan tersebut mengandung doa dan harapan dalam mengarungi tahun baru. Lontong misalnya. Bentuknya yang panjang bertanda ada harapan agar di tahun baru ini kita dianugerahi umur panjang, “seorang pria berusia 65 tahun itu.

Osik daging yang berwarna merah. Warna merah dimaknai oleh masyarakat Tionghoa sebagai simbol kesejahteraan. Mereka berharap agar diberi kesejahteraan sepanjang tahun.  Lodeh memiliki makna tentang kekuatan.

“Rebung kan akarnya bambu.  Akar yang kuat membuat bambu menjadi tumbuh dengan kuat pula, “ujar dosen Universitas Ciputra Surabaya itu.

Menyantap rebung dalam lontong cap go meh dilakukan sembari menaruh harapan dalam dọa, mengatur kekuatan dalam menghadapi kehidupan di tahun baru.

Lodeh yang kuahnya berwama keemasan juga punya makna. Melambangkan kekayaan dan rezeki yang melimpah Berharap di tahun baru imlek dapat beraih kesuksesan.

Daging ayam melambangkan kerja keras dan keberuntungan dalam mencari rezeki. Ayam tidak pemah kekurangan pangan. Dimanapun berada ia pasti menemukan makanan, “ungkapnya.

“Dalam osik, kami menggunakan daging sapi. Filosofinya sebagai hewan gemuk, menandakannya rezeki,” katanya penyedap seperti koya kedelai, bawang goreng dan sambal melambangkan kemakmuran.  Setiap menyajikan lontong cap go meh, semua piring harus terisi penuh hingga menonjol.  Ini simbol tentang rezeki yang emelimpah-ruah.

Beberapa hari sebelum Anugerah, istri Freddy, Vonny, yang membuka bisnis kuliner Nyonya Peranakan menawarkan menu lontong cap go meh.  Pesanan datang hingga overload.  “Bahkan pesanan dekat karena kewalahan menerima pesanan sebelum cap pergi meh tiba,” katanya.

Maklum pemesannya dari banyak kalangan, bukan hanya dari warga Tionghoa. Ini menandakan bahwa lontong cap go meh dapat diterima siapa saja.  Sebagai kuliner akulturasi.

Selain lontong cap go meh, banyak kuliner yang berasal dari budaya akulturasi.  Seperti sup merah.  Perpaduan kuliner Tiongoa dan Eropa.  Kemudian ada pula kuliner di Tiongkok yang akhimya menjadi khas Jwa.  Misalnya ronde.  (Heti Palestina Yuna)

Sumber: Harian Di’s Way. 27 Februari 2021. Hal. 42.