Melalui noken, tas tradisional khas Papua, Merry Dogopia (46), memberdayakan ratusan perempuan Papua selama lima tahun terakhir. Merry menghimpun dan membina perajin untuk menghasilkan noken berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Fabio Maria Lopes Costa

“Ayo ibu-ibu, segera selesaikan pesanan noken kita. Mari bekerja dengan semangat. Besok sudah tanggal 20 Februari,” kata marry menyemangati empat rekannya yang sedang merajut noken di sebuah galeri di daerah angkasa, Distrik Jayapara Utara, Kota Jayapura, Senin (19/2).

Di tempat seluas 4 meter x 6 meter itu, Merry bersama keempat temannya sedang berpacu dengan waktu. Mereka harus menyelesaikan pesanan 60 noken dari sebuah instansi pemerintah yang jatuh tempo pada 20 Februari. Total ada 11 perajin yang terlibat dalam pengerjaan pesanan itu. Lima perajin, termasuk Merry, bekerja di galeri dan sisanya megerjakan dirumah masing-masing.

Noken telah diakui dunia. Organisasi pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan noken sebagai warisan budaya dunia tak benda pada 4 Desember 2012 di Paris, Perancis.

Biasanya, warga di daerah pegunungan papua menggunakan noken sebagai tempat untuk menyimpan bekal makanan seperti ubi dan barang-barang lainnya. Noken digunakan sebagai wadah untuk membawa bayi sejak dilahirkan. Itu sebabnya noken juga disebut rahim kedua orang Papua.

Noken dapat dibuat dari dua alternatif bahan, yakni kulit kayu dan benang nilon. Biasanya, perajin di Jayapura mendatangkan kulit kayu dari Wamena, Narbie, dan Yahukimo. Namun saat ini banyak perajin yang membuat noken dari bahan nilon karena harga kulit kayu tinggi dan harus didatangkan ke Jayapura dengan pesawat. Harga satu gulungan kulit kayu mencapai Rp 100.000-Rp 150.000.

Pesanan noken memberikan berkah bagi Merry dan rekan-rekannya. Satu pesanan bisa mendatangkan pendapatan hingga Rp 6 juta yang dibagi secara merata kepada perajin yang terlibat. Dari situ, para perajin dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah anak.

Dalam sebulan, Merry bisa mendapatkan dua hingga tiga pesanan yang antara lain datang dari instansi pemerintah, wisatawan, atau masyarakat yang hendak membawa oleh-oleh untuk keluarganya diluar Papua. Selain kelompok perajin di daerah angkasa, Merry juga membina lima kelompok perajin noken lainnya yang tersebar di daerah Dok V, Abepura, Waena, Argapura, dan Bhayangkara. Total jumlah perajin salam enam kelompok itu sebanyak 156 orang. Keenam kelompok ini tergabung dalam komunitas noken Aniya.

Ia secara adil memperhatikan semua kelompk binaannya. Setiap kelompok mendapat jatah merata untuk mengerjakan pesanan yang datang.

Dari rumah

Merry memulai usahanya sebagai perajin noken di Jayapura pada tahun 2012. Suaminya Nimbrot Pigome, adalah guru di sekolah dasar di Kabupaten Sarmi. Ia memilih bermukim di Jayapura agar fokus mendampingi pendidikan keenam anaknya di ibu kota Papua itu.

Merrry berjualan niken di rumahnya di daerah Angkasa. Pada awal 2012, ia kaget sekaligus terharu ketika mengetahui dari media massa bahwa UNESCO telah menetapkan noken sebagai warisan dunia. “Saya sangat bangga ketika lembaga internasional megakui noken sebagai warisan dunia. Sejak itu, saya berjanji mengembangkan noken sebagai komoditas unggulan Papua,” ujarnya.

Ia menambahkan salah satu cara untuk mewujudkan itu adalah membentuk kelompok perajin noken. “Tanpa adanya persatuan diantara para perajin, perkembangan noken akan berjalan ditempat,” ujar perempuan asal Papua ini.

Pada awal 2013, Mery mengajak para perajin noken yang berjualan di sejumlah emperan jalan di Kota Jayapura untuk membentuk kelompok. Pada mulanya hanya 60 perajin yang bersedia bergabung.

Merry menjadikan salah satu ruangan dirumahnya yang berukuran 8 meter x 9 meter sebagai markas besar kelompok perajin noken. Ditempat itu, ia memberikan pelatihan tambahan kepada perajin agar bisa menghasilkan noken yang berkualitas dan mudah diterima konsumen, di antaranya melalui pemberian warna dan teknik rajut yang baik.

“Biasanya pelanggan yang bukan orang asli Papua menyukai noken dengan warna yang tidak terlalu mencolok, seperti hitam, abu-abu, atau biru muda. Sementara pelanggan dari Papua menyukai warna seperti kuning, hijau, atau merah,” kata Merry.

Harga noken dari bahan benang wol mulai dari Rp 30.000 hingga Rp 600.000. Noken berbahan kulit kayu mulai Rp 50.000 hingga yang tertinggi mencapai Rp 8 juta. Noken termahal biasanya berbahan kulit kayu yang bahannya didatangkan susah payah dari Wamena, Narbie, dan Yahumiko. Misalnya, noken yang terbuat dari kulit luar batang bunga anggrek yang telah tua.

Untuk pemasaran Merry memiliki jaringan dengan banyak pihak sehingga bisa membuka akses bagi produk para perajin. “Saya tidak mengajarkan para ibu cara merajut noken karena itu sudah menjadi keahlian mereka. Namun, saya memberikan mereka informasi untuk mengikuti pameran dan festival. Mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan hingga Rp 3 juta per orang,”  katanya.

Banyak perajin noken yang tertarik dengan kiprah Merry memimpin komunitas noken Aniya. Akhirnya pada 2016, terbentuklah Asosiasi Noken Papua dengan Merry sebagai ketuanya. Diorganisasi itu terdapat 16 kelompok dengan total anggota 353 perajin.

Perjuangan Merry bersama rekan-rekannya untuk mengangkat noken sebagai komoditas unggulan kkhas Papua meghadapi tantangan klasik, yakni mengakses pinjaman dari bank, lokasi kerja, sekaligus galeri pemasaran noken. Selama ini hampir 90 persen  anggota Asosiasi Noken  Papua lebih banyak berjualan noken di trotoar dan pasar.

Inspirasi ayah

Merry mengatakan, segala usahanya itu terinspirasi dari almarhum sang ayah, Herman Dogopia. Herman adalah guru sekolah dasar yang merintis dunia pendidikan di Kabupaten Jayawijaya pada tahun 1960-an.

“Ayah saya mengabdi sebagai tenaga guru di banyak kampung walaupun ia tidak mendapat bayaran yang cukup. Ia selalu berpesan bahwa hidup sebagai manusia akan lebih berarti apabila berbagi kepada sesama. Pesan inilah yang saya implementasikan dalam perilaku sehari-hari,” kenang Merry.

Kiprah Merry dalam pemberdayaan perajin noken mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk  sejumlah penghargaan dari pemerintah pusat. Ia pun berjanji tak akan berhenti memperjuangkan nasib perajin noken hingga bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

“Saya terus membimbing dan membantu mereka hingga umur tak lagi memungkinkan untuk merajut noken,” ujarnya.

Merry Dogopia

Lahir: Wamena, Kabupaten Jayawijaya 10 Mater 1972

Suami: Nimbrot Pigome

Anak: Ricksoin Pigome, Ferdinand Pigome, Ronald Pigome, Gilbert Pigome, Grace Pigome, Kristin Pigome

Pendidikan:

  • SD YPPK St Yusuf Wamena (1982-1987)
  • SMP YPPK St Tjomas Wamena (1987-1989)
  • Sekolah Pendidikan Keperawatan(1989-1991)

Penghargaan:

  • UKM WOW Tahun 2016 dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
  • Mama Papua Inspiratif 2015 dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise

 

Sumber: Kompas, 1 Maret 2018