Oleh Gajah Kusumo

Stephen Hawking, fisikawan, kosmolog, dan seorang pemimpi pernah beujar bahwa bahan-bahan utama untuk membuat mesin adalah lubah cacing dan roket yang teramat sangat cepat sekali.

Space Shuttle milik NASA, yang kabarnya memiliki kecepatan 28.100 kilometer per jam jelas belum memenuhi syarat disebut sebagai roktet teramat sangat cepat sekali karena sama sekali belum mendekati kecepatan cahaya, yang kira – kira 300.000 km per detik.

Mesin waktu adalah sebuah alat yang digunakan untuk menjelajah waktu di masa lampau atau bahkan di masa mendatang. Sudah puluhan film mengenai penjelajahan waktu di buat, dari trilogi Back toThe Future (1985), Twelfe Monkey (1995), The Time Machine (2002), The Butterfly effect (2004), The Time Traveler Wife (2009), Midnight in Paris (2011), The Looper (2012), About Time (2013), hingga Interstellar (2014).

Perjalan menembus waktu memang demikian menarik sehingga sineas dan produser berlomba-lomba menggali tema penjelajahan waktu dari berbagai sisi. Apalagi, ide tersebut juga masih menjadi perdebatan di kalangan saintis.

Bagi Sir Isaac Newton, waktu bagaikan anak panah yang ditembakan yang melaju searah dan tetap. Jam berdetak sama cepatnya dimana pun di jagat raya ini. Lalu datang Albert Einstein yang menyatakan Newton salah besar.

Einstein menyatakn waktu itu bagaikan aliran air di sungai, yang bisa dipercept, diperlambat, dan kadang bermuara di suatu tempat atau kadang sungainya malah bercabang dua. Waktu adalah relatif jika mengacu teori relativitas khusus danumum milik Einstein. Artinya, penjelajah waktu adalah mungkin.

Pada teori relativitas umum, Einstein memprediksi mengenai berjalannya waktu, geometri ruang, gerak benda pada jatuh bebas, dan perambatan cahaya. Dia juga memprediksi keberadaan daerah lubang hitam, di mana ruang dan waktu terdisorsi sedemikian rupa sehingga tidak satu pun, bahkan cahaya dapat lolos darinya.

Kemudian muncul Hawking yang beranggapan penjelajahan waktu tidak boleh terjadi. “Melalui lubang cacing, seorang ilmuan dapat melihat dirinya sendiri pada 1 menit yang lalu. Namun, bagaimana jika seorang ilmuan menggunakan lubang cacing untuk menembak dirinya sebelumnya? Kalau di sekarang sudah mati. Lalu siapa yang menembak?”

Hawkign sendiri juga mengaku terobsesi dengan waktu karena andaikan memiliki mesin waktu, dia berkeinginan mengunjugni Marilyn Monroe di puncak ketenarannya atau mampir saat Galileo pertam kali menghadapkan teleskopnya ke langit. Bahkan, dia berkeinginan melakukan perjalan ke unjung alam semesta untuk mengetahui bagaimana keseluruhan cerita kosmik dunia berkahir.

“Kalau mesin waktu itu ada, mengapa kita belum menjupai turis yang datang dari masa depan? Seharusnya turis-turis dari masa depan sudah membanjir untuk mengambil foto. Mengapa belum ada seorang pun?”

Secara naluriah, jika kita ingin berandai-andai, hampir sebagian besar manusia ingin merasakan kembali kenangan indah yang pernah di alami. Jika bisa kembali ke masa lampau, kenangan pahit akan berusaha diubah sedemikian rupa agar menjadi manis.

Dengan demikian, jika kita memiliki semua kenangan manis di masa lampau, maka di masa mendatang kita akan menjadi pribadi atau manusia yang sempurna. Manusia memang merupakan makhluk materialis dan sekaligus idealis.

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.2