Miftahudin_Energi Kreatif Si Kuli Panggul.Kompas 13 februari 2017.Hal.16

Miftahuin (27) bekeraja sebagai kuli panggul pasar. Namun, ia tidak ingin dunianya hanya berkutat disana. Lewat buku dan kegiatan kreatif, ia melihat kota-kota lain di jawa dan belajar banyak dari perjalanannya. Pengalaman itu lantas ia bagikan kepada anak-anak muda di desanya.

                                 

OLEH SAIFUL RIJAL YUNUS

Laki-laki yang biasa di sapa Emik itu menyambut kami dengan hangat di rumahnya di Desa Tegalgubuk Lor, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (6/2) pagi. “Hari ini saya menganggur, belum ada panggilan kerja,” katanya.

Pekerjaan Emik memang tidak menentu. Satu-satunya pekerjaan yang ia anggap tetap adalah menjadi kuli panggul saat hari pasar tiba di Desanya. Bersama kakak pertamanya, ia berjibaku memanggul aneka barang seperti kain, manikin, dan karpet keluar masuk gudang. Dari pekerjaan yang ia lakoni sejak keluar dari pesantren pada 2013 itu, ia mendapat upah Rp.100.000 sehari.

Namun Emik tidak ingin hidupnya hanya berkutat sebagai kuli panggul.”Saya… apa jengene, merasa perlu mwlihat dunia luar, perlu belajar.” Ujar Emik yang sering menyelipkan ujarannya apa jenenge (apa itu namanya) di tengah-tengah kalimatnya.

Ia berusaha melihat dunia dengan membaca buku apa saja. Buat dia, buku adalah benda ajaib yang mampu membuka cakrawala pemikiran. Selain itu, ia aktif di beberapa kegiatan komunitas yang mampu menyalakan energy kreatifnya.

Kecintaannya pada buku tidak ia nikmati sendiri. Ia juga berusaha mengajak orang lain untuk menyelami dunia luar lewar buku. Untuk itu, pada 2015 ia membuat perpustakaan kekeliling gratis. Ia memodifikasi sepeda motor roda tiga sebagai perpustakaan berjalan. Bentuknya mirip perahu.

Dengan kendaraan itu, ia keliling dari satu desa ke desa lain. Awalnya, buku yang ia pinjamkan hanya belasan. Belakangan bukunya terus bertambah dari donasi.

Selain itu, Emil bersama teman-temannya yang di sapa Kopral (26) mendirikan umah kreatif untuk menampungkreasi anak muda di kampungnya.

 

KELILING JAWA

 

Ketika perpustkaan keliling dan umah kreatif telah berjalan, hasrat untuk melihat dunia luar semakin kuat mendekap Emik. Iapun memutuskan kekeliling pulau Jawa pertengahan 2016. Kegiatan perpustakaan keliling dan umah kreatifpun untuk sementara vakum.

Ia melintasi Tegal, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Ngawi, Kediri, Surabaya, dan Madura menggunakan sepeda.” Dengan bersepeda saya bisa merasakan apa apa yang terjadi di satu daerah. Bisa ngobrol dengan tukang becak, dengan siapa saja,” katanya.

Ia tidak lupa menemui teman-temannya di sejumlah komunitas. Ia belajar apa saja disana, dari cara memotivasi anak-anak untuk belajar, mengelola perpustakaan,memulai gerakan kreatif, hingga kesenian.

Pengetahuan yang ia himpun dari perjalanan bersepeda salama dua bulan itu ia bawa kedesanya dan ia terapkan. Ia mengajak kembali rekannya Kopral, untuk menghidupkan lagi umah kreatif. Mereka menyulap limbah konfeksi yang melimpah di kampungnya, Tegalgubug Lor, menjadi barang kerajinan ataupun seni.

Emik memperlihatkan sepotong kaus putih dengan gambar penyair yang kini masih hilang. Wiji Thukul. Ia juga menunjukkan senuah tote bag dengan gambar sastrawan  Pramoeda Ananta Toer. Dua gambar pada produk berbeda tersebut adalah hasil karyanya.

Dengan modal cat karet dan kuas, Emik bisa membuat saru gambar tokoh di satu kaos dalam satu hari. Sapuannyanya halus dengan gambar yang tidak jauh beda dengan potret aslinya.

Emik lantas mengajak kami ke umah kreatif yang terletak 500 meter dari rumah emik. Rumah milik keluarga Kopral yang menjadi bengkel kreatif itu berukuran 3 meter x 5 meter dengan atap yang bolong di sana sini. Kondisinya agak berantakan. Cat, kayu, plastic, kaleng berserakan di lantai.

Di rumah itu beragam barang kerajinan an seni buatan Emik dan Kopral ada dimana-mana. Ada anyaman kulit pisang bergambar Arjuna, lampu gantung dari kaleng semprot, asbak dari botol tas dari tempat cat, robot-robot dari korek.

 

PUSTAKA PERBATASAN

 

Emik dan kopral memasarkan karya-karyanya melalui Instagram @kaossastra. Hasil penjualan tidak mereka nikmati sendiri. Sebagian mereka gunakan untuk mendanai kgiatan kreatif di Pustaka Perbatasan yang di rintis Emik di ruang kecil di sebelah mushala. Dinamai Pustaka Perbatasan  Karena lokasinya berada di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Indramayu.

Setiap minggu, Emik dan kawan-kawan mengajak anak-anak di sekitar Dusun Wanakjir, Desa Anom, Kecamatan Susukan,Berkumpul untuk membaca dan terlibat dalam kegiatan kreatif seperti membuat mainan dari limbah korek, celengan dari kaleng rokok, ataupun lukisan dengan media kayu bekas.

“Kami Cuma siapkan cat dan lat-alatnya. Apa jenenge… biar anak-anak sendiri yang merancang gambarnya, tulisannya dan sebagainya. Kami hanya membimbing mereka,” ujar lajang yang memilih tidak menamatkan pendidikan SMA-nya itu.

Emik merintis pustaka perbatasan karena terinspirasi dari gerakan linterasi di tretes, Merbabu, Jawa Tengah. Dia selalu mengajak beberapa rekannya  untuk terlibat dalam kegiatan itu termasuk beberapa mahasiswa. Ia meminta mereka memberikan materi pelajaran,salah satunya bahasa inggris dasar.

“saya mempertemukan mereka yang punya kemmampuan dan ilmu dengan mereka yang membutuhkan. Saya sendiri membantu apa saja yang bisa saya lakukan,” tambah laki-laki yang sampai sekarang  masih bekerja sebagai kuli panggul itu.

Emik sampai saat ini cenderung tidak memikirkan dirinya sendiri. Apa yang ia milki-waktu, uang, pemikiran, dan lain-lain –di curahkan kepada orang lain. “ Kalau di hitung-hitung secara materi, pasti rugi. Tapi karena sudah cinta ,semuanya untung. Untung bagi saya, juga terutama bagi orang lain,” ujarnya.

Kini, emik sedang berpikir membangun rumah singgah untuk anak-anak jalanan dan anak yatim yang tiap jumat berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta sumbangan. Emik membayangkan rumah singgah itu akan menjadi tempat berteduh dan belajar bagi mereka. Disana mereka akan mendapatkan pelajaran dan keterampilan yang bisa di manfaatkan untuk masa depan mereka.” Saya tidak tahan melihat kondisi sekarang. Saya merasa harus berbuat sesuatu untuk mereka,” kata Emik.

 

Sumber: KOMPAS, 13 FEBRUARI 2017