Pembuka Mata Tentang Disabilitas. Kompas. 5 Agustus 2015. Hal.16

Kami butuh kasih, bukan rasa kasihan. Begitu kata Veronica Laetitia Mimi Mariani Lusli, peyandang tunanetra yang mendirikan Mimi Institute Jakarta. Mimi Institute adalah lembaga pendidikan dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitias.

            Penegasan itu dikatakan untuk menghilangkan kesalahpahaman yang terjadi di antara masyarakat Indonesia terhadap penyandang cacat. Selama ini Mimi, panggilan akrab Direktur Mimi Institute itu, merasakan kuatnya stigma bagi orang-orang seperti dirinya. “Masyarakat merasa sudah cukup membantu hanya dengan memberi sejumlah uang,” kata Mimi.

Pemahaman seperti itulah yang hendak ia luruskan. Ia ingin mengganti pemahaman sebagian besar orang Indonesia yang menyatkan orang cacat perlu dikasihani. “Itu pemikiran yang sangat keliru. Kami tak butuh dikasihani, cukup kasihilah kami dengan membantu menyediakan fasilitas yang kami butuhkan,” tegas Mimi.

Tak hanya menunggu pihak lain menyediakan fasilitas, ia juga berupaya memberdayakan penyandang disabilitas agar mandiri. Selain mengajarkan keterampilan membaca, menulis, menghitung, sampai berjualan di Mimi Institute, Mimi juga membuat modul pembelajaran tenatng disabilitas untuk membuka pikiran masyarakat.

Mimi tengah berjuang agar semua mahasiswa mendapat mata kuliah distabilitas yang berisi apa itu distabilitas dan apa yang perlu dilakukan untuk mereka. “Pemahaman itu perlu supaya mereka yang bertubuh normal tak keliru memperlakukan kami. Pembuat kebijakan juga tepat memberikan fasilitas sesuai kebutuhan agar kami tetap bisa beraktivitas,” ujar pemilik gelar master dari Universitas Indonesia dan University of Leeds, Inggris, itu.

Mimi tak pernah lelah berupaya, mengingat jumlah penyandang disabilitas sangat besar. Organisasi kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlahnya 51-20 persen dari total jumlah penduduk. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, di Indonesia setidaknya ada 20 juta penyandang disabilitas.

Berangkat dari pengalaman pribadi, ia tahu apa kebutuhan orang seperti dirinya, berupa fasilitas, bimbingan, dan kepercayaan dari orang normal. Fasilitas tersebut misalnya jalur atau jalan masuk, naik/turun di angkutan umum (bus) atau gedung, dan kesempatan bersekolah.

Penuh masa percobaan

Mimi yang kehilangan penglihatan karena degenerasi retina merasakan ada perlakuan diskriminatif atas diri penyandang disabilitas. Namun, ia beruntung, ketika mulai kehilangan fungsi penglihatan di kelas V SD, orangtua memperlakukannya secara normal. Ibunya selalu melibatkan Mimi di dapur. “Saat makan, mama cerita,” katanya.

Ketika dunia benar-benar gelap baginya di usia 17 tahun, mental Mimi tetap jatuh. Beruntung pengalaman tinggal disana di asrama saat menempuh pendidikan dasar di Sekolah Tunagrahita Bakti Luhur, Malang, Jawa Timur, membangkitkan semangatnya. Mimi tinggal bersama anak berkebutuhan khusus dengan kondisi lebih parah, tetapi mereka tetap rajin belajar. “semangat pantang menyerah kawan-kawan membuat saya yang berkondisi lebih baik bertekad harus berhasil,” ucapnya.

Lulus dari sana, Mimi masuk Sekolah Pendidikan Guru Santa Maria, Jakarta. Perjuangan masuk sekolah tak mudah. Kepala sekolah berdalih tak punya pengalaman menangani siswi seperti Mimi. “Akhirnya sekolah menerima dengan masa percobaan satu bulan. Jika tak mampu, saya harus keluar,” kata Mimi yang senang mengajar dan kerap menadapat undangan berbicara mengenai disabilitas di forum internasional.

Kerja keras membuat ia lulus, kemudian melanjutkan kuliah ke Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu pendidikan Institute Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Dharma, Yogyakarta. Keraguan pihak universitas yang belum pernah punya mahasiswi disabilitas nyaris memupuskan niat Mimi. Akhirnya, lagi-lagi ia boleh kuliah dengan masa percobaan dan dilaluinya.

Ketekunan, kemauan kuat, dan kecerdasan membuat kandidat doktor ini tepat waktu menyelesaikan pendidikan. Demi memperjuangkan hak penyandang disabilitas agar diperlakukan sama seperti wwarga normal, Mimi menulis buku, serta menjadi peneliti di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, dan FISIP Universitas Indonesia.

Ia mengakui, penerimaan dan penerimaan dan perlakuan masyarakat kepada penyandang disabilitas saat ini sudah ada kemajuan. Contohnya, ada perguruan tinggi negeri yang bersedia menerima mahasiswa penyandang disabilitas, walau ada juga yang menolaknya.

Seperti manusia normail lain, penyandang disabilitas juga butuh bekal untuk melanjutkan hidup. Itulah yang terus Mimi perjuangkan dengan membuat mereka mandiri, tak bergantung kepada siapa pun.

(SOELASTRI SOEKIRNO)

VERONICA LAETITA MIMI MARIANI LUSLI

Lahir                                        : Jakarta, 17 Desember 1962

Pendidikan (antara lain)         :

  • Jurusan kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma, Yogyakarta (1989)
  • Pendidikan Magister di Jurusan Administrasi Fakultas Ilmu Administrasi Publik Universitas Indonesia (1997)
  • Magister Jurusan Komunikasi Internasional dari University of Leeds, Leeds City, Inggris (2005)
  • Kandidat doktor di Faculty of Earth and Life Sciences University of Amsterdam, Belanda

Pekerjaan (antara lain)           :

  • Dosen Tidak Tetap Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Teologi Universitas Atma Jaya, Jakarta (1993-2001)
  • Direktur Mimi Institute, lembaga penyedia konsultasi, pelatihan, dan publikasi dengan visi mengarusutamakan disabilitas untuk kehidupan yang lebih baik (2009-sekarang)
  • Dosen Program Magister Konseling Sekolah Tinggi Teologi Iman mata kuliah Konseling dan Disabilitas (2010-sekarang)
  • Wakil Ketua Bidang Pengembangan Jaringan dan Kemitraan di Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (2012-sekarang)
  • Dewan Pakar di Pusat Kajian Disabilitas Universitas Indonesia yang berfokus pada pelatihan, advokasi, dan pengembangan modul disabilitas (2005-sekarang)

Karya/Tulisan (antara lain)     :

  • Pedoman dan Struktur Dalam Huruf Braille, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta (1992)
  • Peduli Tunanetra, Lembaga Daya Dharma, Jakarta (1999)
  • Panduan Trainer dan Buku Peserta bagi Pelatihan Kesadaran dan Kepekaan Lingkungan terhdap Disabilitas Menuju Masyarakat Inklusif, Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI, Depok (2009)
  • Buku Himpunan Kebijakan Pendidikan Sumber Hukum bagi Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah : Prioritas untuk Anak dengan Disabilitas/Berkebutuhan Khusus, Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI (2010)
  • Helping Children With Sight Loss, Mimi Institute, Jakarta (2010)
  • Buku Kisah Inspiratif Orang-orang Luar Biasa, Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI (2012)
  • Model Partisipasi Masyarakat Kelurahan, Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI (2013)
  • Pemenuhan Hak atas Peradilan yang Fair Bagi Penyandang Disabilitas, Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta (2014)

SUMBER: KOMPAS, RABU, 5 AGUSTUS 2015