Kontan 31 Desember 2013.Hal.19

Oleh Dewa Gde Satrya, Dosen Tourism Bussiness, Universitas Ciputra Surabaya

 

Tanggal 1 Januari 2000, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta masyarakat internasional menjadikkannya sebagai Hari Perdamaian Dunia. Ini sebagai permulaan dari Dekade Internasional untuk Perdamaian dan Anti Kekerasan untuk Anak-anak Sedunia. Seribu organisasi dari 140 negara berpartisipasi dalam peluncuran Hari Perdamaian Dunia ini. Kemudian, pada november 2001, PBB mengundang negara-negara dunia untuk memperingati Hari Perdamaian Dunia setiap 1 Januari. Tak salah jika melalui momentum ini kita bermimpi anak bangsa terpilih sebagai peraih Nobel Perdamaian.

Kemiskinan dan berbagai bentuk penderitaan umat manusia masih terus menjadi concern PBB dalam mempromosikan perdamaian dunia. Hal itu tercermin pada terpilihnya Professor ‘biang kredit mikro; Muhammad Yunus dari Bangladesh sebagai peraih Nobel Perdamaian tahun 2006. Komite Nobel Norwegia menganugerahkan Nobel Perdamaian ke Yunus dan Grameen Bank atas gerakan memerangi kemiskinan kelas sosial paling bawah.

Awalnya, Yunus prihatin atas teori ekonomi muluk-muluk yangdiajarkan di muka kelas, namun tak mampu menjawab realitas kemiskinan yang tampak nyata pada masyarakat di Jobra, desa dekat kampus tempatnya mengajar. Realitas kemiskinan itu segera terjawab dengan menjaminkan kredit mikro sebesar 22 sen.

Ketika mengawali program kredit mikro di Jobra, Yunus mendebat manajer bank yang bersikeras bank tak mungkin memberi pinjaman ke kaum miskin tanpa jaminan karena resiko macet sangat besar. Yunus membantahnya: “Mereka sangat punya alasan untuk membayar Anda kembali, yakni untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup esok harinya! Itulah jaminan terbaik yang bisa anda dapatkan: nyawa mereka!” Itu terbukti.

Sejak 1976 hingga 2004, bank ini telah menyalurkan pinjaman mikro sebesar US$ 4,5 miliar dengan recovery rate sebesar 99%. Kini, Grameen Bank telah beroperasi di berbagai negara, di lebih dari 46.000 desa di Bangladesh, dan memperkerjakan sekitar 12.000 karyawan. Layak Yunus mendapat Nobel Perdamaian.

Terhitung sejak 1901, penghargaan kemanusiaan paling prestisius di seantero jagat raya berupa Nobel Perdamaian diberikan setiap tahun hingga sekarang. Mulai generasi Henry Dunant dari Swiss dan Frederic Passy dari Prancis hingga generasi mantan wapres AS Al Gore bersama Panel Antarpemerintahan PBB soal perubahan iklim.

Keangkuhan dan kesombongan dunia, modernitas, dan, janji-janji globalisasi, termentahkan begitu saja oleh sosok-sosok penerima Nobel Perdamaian seperti Santa ‘Mother’ Teresa (1979), Uskup Belo (1996) dan Muhammad Yunus (2006). Mereka membawa keprihatinan yang mendalam akan kondisi kemanusiaan yang dekat dengannyam di Calcutta India, Timor Leste, dan Jobra Bangladesh. Kiprah mereka tak lazim di tengah peradaban dunia yang serba materialistis, konsumtif, hedonistis, dan egoistis. Eksistensinya memberikan sumbangan yang khas, unggul, berbeda corak, dan perlawanan atas dominasi peradaban yang mengeliminasi faktor manusia atas uang dan kekuasaan.

 

Siapa saja bisa

Dalam seminar yang  dibawakannya di depan Presiden SBY dengan tema We Can Put Poverty Into Museums di Istana Negara tiga tahun lalu, Prof Yunus menyatakan sangat optimis Indonesia bisa keluar dari persoalan kemiskinan. Bahkan, dia memprediksi pada 2030, kemiskinan tidak ada lagi di bum indonesia. Syaratnya, pemerintah dan masyarakat harus optimis dan berkomitmen untuk terus mengikis kemiskinan.

Di negeri kita, banyak kampus berdiri, banyak sarjana, banyak ahli keilmuan, dan banyak tempat peribadatan dibangun. Namun problematika sosial, kemiskinan khususnya, tak kunjung terpecahkan. Padahal, dengan kedekatan yang begitu mesra dengan latar keilmuan, rahasia alam beserta isinya dapat diketahui. Pun halnya, dengan doa dan ritual yang intensif, potensi imani dalam diri manusia semakin diperkuat.

Wajarlah jika cita-cita Nobel Perdamaian itu diharapkan dari perguruan tinggi yang amat berkompeten sebagai pihak yang melibatkan diri, hati, pikiran dan tenaganya untuk menangani persoalan sosial sekelas kemiskinan, atau juga dari insan-insan penguni tempat peribadatan dan pelayanan publik. Banyak pelayan publik kelas dunia mendapatkan penghargaan ini seperti Presiden AS Theodore Roosevelt dan Jimmy Carter, Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, Yasser Arafat (Palestina), Shimon Peres dan Yitzhak Rabin (Israel).

Entah berapa tahun lagi negeri kita akan bisa melahirkan insan humanis yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian yang sangat prestisius tersebut. Selamat Tahun Baru 2014 dan Selamat Hari Perdamaian Sedunia.

 

Sumber: Kontan Selasa, 31 Desember 2013