SURABAYA – Memiliki gangguan penglihatan tidaklah nyaman. Apalagi jika sehari-hari harus bergantung pada kacamata atau soft lens. Repot. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan untuk mereka yang memiliki gangguan penglihatan adalah clear lens exchange (CLE).
Menurut dokter spesialis mata dr Hendrian D. Soebagjo SpM(K), teknik CLE berbeda dengan lasik. “CLE tidak menggunakan penyinaran laser untuk mengubah bentuk kornea,” katanya.
Proses CLE lebih menyerupai tindakan ganti lensa pengidap katarak. Namun, tujuan utamanya meningkatkan refraksi mata. “Lensa yang telah keruh digantikan dengan lensa buatan,” jelasnya. Lensa buatan itu dapat menyesuaikan fokus sesuai dengan jarak penglihatan.
Menurut dia, CLE disarankan untuk mereka yang minus lebih dari 12 atau plus lebih dari 6. Jika pada mereka yang harus menggunakan kacamata, tentu kacamata akan terlihat tebal. Akibatnya, untuk melakukan kegiatan seperti berenang, rasanya akan sangat tidak nyaman.
Tindakan CLE dilakukan hanya sebentar. Sekitar 15 menit. “Biusnya cukup bius lokal,” katanya. Pasien diminta untuk berbaring. Setelah melakukan pembiusan, dokter akan memasangkan penyangga kelopak mata. Tujuannya, mata tetap terbuka. Oleh karena itu, pascaoperasi mata pasien pasti memerah karena dibiarkan membuka cukup lama.
Menjalani proses CLE, pasien tidak perlu menginap di rumah sakit. Satu hingga dua jam setelah tindakan, pasien boleh pulang. Namun, ada beberapa kegiatan yang tidak bisa dilakukan pasien hingga beberapa hari. Misalnya, berenang. Walaupun memiliki banyak keuntungan, tindakan CLE tetap memiliki risiko. Salah satunya iritasi pada mata. Selain itu, ada risiko infeksi pada perlukaan. (lyn/c6/nda)
Sumber: Jawa Pos. 8 Januari 2017.Hal.36

