Selalu ada jalan di setiap masalah. Keyakinan itu juga yang membulatkan tekad Mira Nur Gandaniati untuk keluar dari kondisi sulit di masa pandemi Covid-19 ini.

Sebagai seorang pengusaha tas kulit, bisnisnya sempat terpuruk dihantam pandemi. Wabah korona yang berdampak turunnya daya beli masyarakat, membuat penjualan produk tasnya menurun drastis. Namun, ia tak mau menyerah dan pasrah menerina keadaan.

Berbekal tekad dan semangat untuk tetap survive, ia berhasil melakukan perubahan strategi dengan memproduksi tas berbahan kulit sintetis. Di luar dugaannya inovasi tersebut mendapat respon positif dari pasar, hingga mampu terjual 40.000 unit dalam sebulan.

Kegigihan dalam berbisnis ditempa dari pengalaman panjangnya menggeluti dunia ini. Kiprahnya di dunia bisnis sudah dimulai sejak kuliah di Jurusan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB).

Di tahun akhir perkuliahan, ia mulai iseng berjualan produk jam tangan imitasi alias KW. Namun, aktivitas berjualan itu sempat terhenti setelah lulus kuliah. “Saat saya sempat bekerja menjadi konsultan di daerah Bandung, Jawa Barat,” ujar Mira.

Ternyata, dirinya tidak ke rasan menjadi karyawan, terlebih ia juga sudah menikah. Maka, ia memutuskan berhenti kerja di tahun 2011 dan mulai serius menjadi pebisnis. Meski profesi utamanya adalah ibu rumah tangga, Mira tetap ingin produktif menghasilkan uang.

Alhasil, Mira kembali menekuni usaha penju alan jam tangan KW lewat Blackberry Messenger (BBM). “Waktu itu saya mengandalkan BBM dan BBM grup untuk memasarkan,” kenangnya.

Saat memulai bisnis nya lagi, Mira mempekerjakan satu orang karyawan yang bertugas mengambil barang dari distributor di Bogor. Setelah menawarkan jam lewat BBM dan ada pesanan maka karyawannya yang mengambil barang. Jadi, ia belum menerapkan strategi stok.

Seiring berjalannya waktu, konsumen dan permintaan produknya kian bertambah. Akhirnya, mau tidak mau di tahun 2014 ia mulai menyetok produk dan membuka toko di kawasan Pasar Anyar, Bogor. Lumayan, dalam sehari rata-rata ia bisa menjual hingga 40 unit jam tangan.

Hanya saja, pada tahun 2015, bisnisnya meredup seiring merosotnya penjualan offline di pasar karena mulai maraknya penjualan online. Di tambah lagi, ia belum menguasai manajemen bisnis dan hanya mengandalkan teknik berjualan sederhana. “Manajemen stok saya masih berantakan dan barang-barang retur pun menumpuk,” ujarnya.

Maka, di tahun itu pula ia memutuskan off dulu berbisnis. Apalagi, anak keduanya lahir dan ia kerepotan mengatur waktu.

Dasar memang passionnya di wirausaha, setelah anaknya bisa dilepas, wanita kelahiran tahun 1987 ini kembali terjun ke dunia bisnis. Namun, ia tak mau lagi bisnis jam tangan karena dianggap sudah tidak menjanjikan.

Dari situ, ia terus berpikir mencari ide bisnis baru. Yang terlintas di benakya saat itu jangan hanya menjual produk orang lain, seperti saat dirinya berjualan jam tangan.

Wanita asli Bandung ini juga menyadari kalau berjualan produk KW itu ilegal. “Saya akhirnya bertekad ingin punya brand sendiri,” tegasnya.

Memulai bisnis tas

Maka hasil dari mengulik dan meriset, didapatlah ide memproduksi tas kulit asli sapi di tahun 2016. Mengapa tas? Hitungan ibu empat anak ini, tas lebih simpel dibandingkan produksi baju atau sepatu yang harus tersedia dalam banyak varian model dan ukuran. Sedangkan tas, hanya model saja yang menjadi perhatian, sedangkan untuk ukuran cukup satu jenis.

Bermodal satu orang penjahit, ia memulai usaha ini dengan membeli satu lembar kulit sapi asli untuk dijadikan sampel. Saat itu, ia memulai dengan membuat lima varian tas dan lewat desainnya sendiri. Bahan baku ia peroleh dari pemasok kulit asli di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Modal memulai bisnis tas, saat itu, Rp 50 juta yang ia gunakan untuk membeli peralatan mesin dan bahan baku.

Ada sebuah cerita lucu, ketika penjahit satu-satunya tersebut terus bertanya kapan produksi, karena di tahap awal ia hanya fokus membuat sampel. “Kapan nih bu mulai produksi?” Mira menceritakan.

Untuk marketing, sejak memulai usaha tas ia gencar mem-pelajari seluk beluk bisnis online. Ia menyadari, sebagai pengusaha harus bisa beradaptasi dengan segala perkembangan yang terjadi. Era saat ini adalah penjualan online, maka ia habis-habisan mempelajari caranya, termasuk teknis beriklan di Facebook dan media sosial lainnya.

Ia memberi merek tasnya dengan Zola Leather. Di awal-awal usaha, ia menjual antara 10 hingga 15 unit dalam sebulan. Harga produknya mulai dari Rp 400.000 hingga Rp 1,5 juta.

Pada tahun 2017, ia mulai perdana menggunakan iklan di Facebook senilai Rp 1 juta per bulan. Hasilnya cukup memuaskan, karena penjualan tas naik hingga 300 unit per bulan.

Inovasi

Dengan pemasaran online, produk Zola juga sudah sampai ke Negeri Jiran, Malaysia. Ia mulai ekspor ke sana sejak tahun 2018. Sayangnya, saat tengah mengalami bulan madu bisnis tasnya, datanglah pandemi korona di tahun 2020.

Sebuah pukulan telak bagi dunia bisnis secara umum, tak terkecuali Mira. Penerapan pembatasan fisik, membuat ruang gerak orang terbatas lalu diikuti dengan pemutusan kerja di mana-mana.

Yang paling terasa adalah merosotnya daya beli masyarakat dan berbuntut lesunya permintaan tas milik Mira. Hal ini membuat Mira harus memutar otak menyelamatkan bisnisnya. Apalagi ia mendengar banyak rekan pengusaha yang gulung tikar atau harus melakukan perubahan produk demi bisa bertahan.

Namun, setelah berpikir mendalam, Mira merasa dirinya hanya punya passion dan pengalaman di produksi tas. Tinggal ia harus memodifikasi produknya agar masih bisa diterima di masyarakat luas.

Akhirnya ide pun muncul. Ia memutuskan memproduksi tas, namun kali ini berbahan kulit sintetis. Selain harga jualnya bisa lebih murah, pengurusan dan pencarian bahan baku juga tidak sesulit kulit asli. Lantas, ia mencari pemasok bahan di Jakarta, Surabaya dan Bandung.

Rencana Mira tidak selalu mulus. Ia dihinggapi rasa putus asa dan kekhawatiran apakah ada orang yang mau membeli produk tasnya di masa sulit saat ini. Ia lalu melakukan survei di kalangan rekan-rekan nya. Hasilnya, kecenderungan konsumen membeli tas masih tetap ada, terutama kalau har ganya terjangkau.

Dari situlah Mira tambah ya kin kalau produknya ini bisa diterima. Ia pun merogoh kocek Rp 10 juta untuk membeli bahan baku dan meyakinkan para perajin untuk mulai memproduksi. “Ongkos pembuatan tas kulit asli memang bisa tiga kali lipat kulit sintetis. Namun di tengah kondisi sulit, akhirnya mereka mau mulai menjahit dan memproduksi,” ujar Mira.

Mira pun menyasar segmen masyarakat ekonomi menengah bawah, sehingga harga jual tasnya pun disesuaikan. Harga produk ini rata-rata sekitar Rp 100.000 hingga Rp 250.000. Brand barunya ini ia beri nama Hody, merujuk kepada nama panggilan anak keempatnya.

Untuk marketing, ia gencar kan strate reseller karena kian banyak orang menganggur akibat pande korona. Hasilnya, produk “pardemi” Mira langsung booming di pasaran. Kini, bahkan ia marapu menjual rata-rata 40 ribu tas sebulan. Tak kurang omzetnya kini mencapai Rp 4 miliar per bulan.

Di awal 2021, Mira sudah me miliki 2.400 reseller di seluruh Indonesia. Bahkan, sudah ada distributornya di Jawa Timur yang beromzet Rp 600 juta saban bulan. “Alhamdulillahnya ia seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga,” ujar Mira penuh rasa syukur.

Membangun Sistem

Memulai usaha dari nol memang banyak tantangannya. Salah satu yang dirasakan Mira Nur Gandaniati adalah bagaimana membangun sistem dan tim bisnis. Belajar dari pengalamannya berjualan jam tangan, Mira jadi tahu betapa pentingnya membangun sebuah sistem dalam bisnis.

Maka ketika merintis bisnis tas, Mira betul-betul menekankan pentingnya satu visi dan misi ke pada karyawannya yang kini ber jumlah 20 orang. “Saya tidak menyebut mereka karyawan, melainkan tim,” ungkapnya.

 

Sumber: Kontan.1-7 Februari 2021. Hal. 22