Di tangan Adi Pradana Angga Nandyta, barang bekas bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Seperti menciptakan mainan bentuk baru.

ATYD, sapaan akrabnya, bisa disebut sebagai salah satu kreator Amuda Indonesia yang sangat kreatif dan inovatif. Dalam mencipta, ia punya ciri khas. Yaitu menggunakan teknik trashbashing atau kitBash.

Teknik pemanfaatan limbah yang dibentuk sesuai dengan imajinasi dari sang kreator. Ada botol bekas shampo, kemasan cat air, permen karet hingga limbah lego. Dengan bahan tersebut, karyanya memiliki nilai seni yang tinggi.

Hobi itu dimulai sejak Atyd mengoleksi miniatur mobil-mobilan sejak kecil. Setiap ada momen spesial, orang tuanya suka memberi hadiah berupa mainan kendaraan.

Besarnya pun beragam. Mulai yang kecil seperti dijual di minimarket, sampai yang agak besar. “Benda itu punya sentimental tersendiri dalam hidup saya,” katanya.

Namanya anak-anak, pasti ada momen saat koleksinya itu rusak atau pecah.

Tapi saat itu Atyd sudah ada sedikit keresahan. Atyd kecil sudah berpikir bentuk mainan yang tak mau mengikuti apa yang sudah dibikin pabrikan.

Maka, ketika beranjak dewasa, ia mulai iseng mengutak-atik. Mencoba menemukan tampilan sesuai keinginannya. Hingga suata saat, aliran dystopia menarik perhatiannya. Itu membuat Atyd belajar bagaimana teknik weathering effect.

Dalam dunia modifikasi die cast, weathering effect dimaknai sebagai ubahan ke dalam bentuk yang lebih hancur. Tampak berkarat, catnya mengelupas, kotor, bahkan bannya dihilangkan.

Fungsi mainan untuk diluncurkan hilang sudah. Berganti sepenuhnya sebagai barang pajangan. Kalau yang ini, sudah bukan lagi untuk anak-anak.

Weathering effect adalah teknik yang memang bikin mainan jadi tampak hancur. Tapi masih tetap punya daya tahan seperti saat kondisi normal. “Saya mengusungnya sekaligus untuk angkat isu lingkungan. Memberitahu masyarakat bentuk kendaraan pada 30-50 tahun ke depan,” imbuh pria 30 tahun itu.

Keprihatinan pada lingkungan menjadi salah satu motif ia memilih aliran itu. Atyd kuliah jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh November. Sempat pula bekeja di ranah pengelolaan limbah.

Hingga pada suatu saat melihat tumpukan sampah menggunung di TPA. Dari sana, la terpanggil untuk memikirkan cara bisa mengolahnya dengan cara sendiri. Dari sanalah kemudian fokus kepada memodifikasi mainan dengan benda-benda tak terpakai.

“Saya biasanya keliling rumah dulu. Lihat-lihat mana yang bisa digunakan. Awalnya memang tidak disengaja. Tapi akhirnya menyadari kalau cara ini bisa mengurangi jumlah sampah. Setidaknya dari tempat tinggal pribadi dulu,” imbuh Atyd.

Konsistensi ditunjukkan dengan terus. bikin karya. Mencari referensi dari forum-forum luar negeri. Kemudian. mengunggahnya di media sosial pribadi. Biasanya untuk membuat satu mainan dari limbah dibutuhkan waktu satu minggu. Proses pengerjaannya sendiri dimulai dari menyusun konsep, memilih limbah, melakukan perakitan bahan hingga pengecatan.

la pun dikenal menjadi kreator terpandang setelah terpilih sebagai peserta kontes kustom internasional pada 2017. Dari sinilah namanya mulai di kenal pasar mainan internasional.

Setelah terpilih menjadi salah satu kontestan asal Asia Tenggara.

Selepas momen tersebut banyak, Atyd mendapatkan banyak permintaan untuk membuat kustomisasi die cast. Sadar akan potensi yang besar pada dunia mainan, ia akhirnya berhenti dari pekerjaan utama saya sebagai ahli teknik lingkungan dan fokus menjadi die cast customizer.

“Permintaan untuk membuat die cast semakin banyak. Saya harus fokus makanya saya keluar dari pekerjaan awal saya,” ujarnya.

Untuk setiap karyanya, Atyd membanderol mulai Rp750 ribu hingga di atas Rp1 Juta. Teknik trashbashing yang digunakan membuat harga mainan Atyd cukup mahal, terlebih di Indonesia sendiri teknik trashbashing masih sangat jarang ditemukan.

la pun kerap diundang ke berbagai acara di tanah air untuk memperlihatkan teknik yang dikuasai. Termasuk ketika menyelenggarakan Toystopia pada 8-12 Desember 2021 lalu. Bahkan membuka kelas lokakarya untuk umum dan anak-anak.

Ditemui di sela-sela acara, Atyd mengatakan tidak pernah menyangka kalau hobinya kini telah menjadi jalan hidup. Keputusan resign dari kantornya berani ia ambil demi memiliki waktu lebih banyak untuk memodifikasi lalu menjualnya.

Pelanggannya kini mayoritas dari luar negeri. Dengan peluang itu, Atyd yakin profesinya akan berkembang di masa depan. Apalagi, ternyata, tren modifikasi semacam ini masih jarang dilirik di tanah air. Padahal peminatnya sangat banyak. “Seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendulang pemasukan. Kalau mau belajar, pasti bisa mendapatkan atensi,” tandasnya. (Heti Palestina Yunani-Ajib Syahrian)

 

 

Sumber: Harian Disway. 31 Desember 2021. Hal. 42-43