Moedji Raharto Membumikan Astronomi. Kompas. 8 Maret 2016. Hal 16

Kamis (3/3) tengah malam, Moedji Raharto (61) sibuk di ruangan kerjanya di Observatorium Bosscha di lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Ia menyiapkan diri untuk bertolak ke Balikpapan, Kalimantan Timur, guna mengamati gerhana matahari total, rabu esok.

Oleh Samuel Oktora

Moedji adalah seorang astronom yang ahli dalam fisika galaksi yang aktif mengajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institusi Teknologi Bandung (ITB), Bandung, dan Institusi Teknologi Sumatera (Itera), Lampung Selatan. Sebelum pergi selama sepekan, dia memberikan tugas kepada para mahasiswanya. Selain itu, dia juga mempersiapkan diri menjadi juri dalam cerdas cermat di bidang fisika dan astronomi tingakt SMA di Balikpapan yang digelar pekan lalu.

Saya juga ditunjuk dalam tim untuk menyusun soal-soalnya. Saya bersama astronom yang lain membuat soal-soal untuk cerdas vermat itu agar tidak rumit. Ini bagian dari sosialisasi gerhana matahari total sekaligus untuk menumbuhkanminat anak-anak muda pada benda-benda langit,” katanya saat ditemui di Observation Bosscha, sebelum  bertolak ke Balikpapan, jumat pagi.

Moedji bersama tiga tim dari Observatium Bosscha berangkat lebih awal ke kaltim untuk mempersiapkan berbagai hal. Semua rangkaian pengamatan gerhana matahari total (GMT) 2016 diharapkan berjalan lancar. Tiga tim itu akan mengamati gerhana ditiga tempat, yakni Balikpapan, penajam paser utara, dan paser utara, dan paser. “ kami fokus dengan pengamatan di Tanah Grorot, Paser,” ujarnya.

Sebelumnya, tim dari Observatorium Bosscha telah mengunjungi Balikpapan untuk menggelar sosialisasi dan supervisi khusus terkait GMT ke pemerintah daerah dan lembaga pendidikan. Ini bagian dari program pengenalan masyarakat terhadap perkembangan astronomi, di samping melakukan eksperimen dan penelitian.

Teleskop

Menurut Moedji, sejumlah sekolah di Balikpapan telah memiliki teleskop. Itu patut disyukuri karena masih banyak sekolahan di Indonesia yang belum memiliki alat tersebut. Dari sosialisasi di Kampus Itera, misalnya, sekitar 200 siswa SMA dari 39 sekolah memberikan kesaksian, umunya sekolah mereka tidak mempunyai teleskop.

Padahal, di era modern ini, seharusnya teleskop sudah menjadi kebutuhan umu, seperti halnya telepon pintar. Sekolah perlu memiliki teleskop yang bagus dan mudah digunakan agar siswa senang memanfaatkannya. Setidaknya mereka dapat turut melakukan patroli langit, yaitu mengenal obyek di angkasa. “ Dunia astronomi perlu diperkenalkan kepada masyarakat sejak dini karena fenomena langit bermanfaat bagi kehidupan di bumi, seperti untuk pariwisata, pendidikan, budaya, juga spiritualiatas, “ katanya.

Moedji mengatakan para astronom di Indonesia telah mendorong masyrakat agar mengamati bGMT dengan aman. Salah satunya dengan melihat gerhana dengan kacamata khusus. Alat itu menggunakan prinsip optic (metode pemantulan cahaya), yang terbuat dari bahan kaca. Dengan proses pemantulan itu, intesitas cahaya bisa terduksi tetapi citra matahari tetap terlihat besar, dan aman bagi mata. Alat tersebut asli dari Indonesia, yang dibuat tahun 1995 oleh Prof Andrianto Hndojo (almahrum) dari Departemen Teknik Fisika ITB.

Meodji juga mendorong masyarakat  agar jangan melewatkan gerhana sebagai fenomena alam yang luar biasa. Jangan sampai terulang peristiwa GMT pada 11 juni 1883. Saat itu masyarakat justru takut keluar rumah, mengunci diri, bahkan rumah-rumah ditutupi koran.

“momentum ini sayang sekali kalau dilewatkan, tanpa ada ekspolari. Disetiap gerhana pasti ada keunikan apakah itu akan terlihat korona, material yang terlontar dari matahari, bentuknya akan seperti apa, itu belum diketahui. Fenomenas ini menjadi sarana pembelajaran yang berharga bagi generasi muda,” ujarnya.

Menurut Moedji, selama tahun 2016 ini akan berlangsung dua gerhana matahari, yaitu gerhana matahari total pada 9 maret 2016 dan gerhana matahari cincin (GMC) pada 1 september 2016 (yang melewati Afrika). Kedua gerhana matahari itu akan berselang waktu enam bulan. Pada abad ke-21 ini terdapat 224 gerhana matahari (GM), yang terdiri dari 77 gerhana matahari sebagian (GMS), 68 GMT, 72 GMC, dan 7 gerhana matahari  hibrida (GMH). GMT 2016 merupakan gerhana matahari ke-33 dibada ke-21 atau GMT ke-9 di abad ke-21. GMT 2016 merupakan jalur GMT yang pertama melewati Indonesia diabad ke-21.

Selama abad ke-21, ada lima jalur GMT yang melewati wilayah Indonesia. Itu meliputi GMT 2016, kemudian 20 April 2042 (melewati jambi), GMT 12 September 2053 (jalur melewati Nusa Tenggara Barat), GMT 22 Mei 2096 (melewati Bandar Lampung), dan GMT 24 Agustus 2098 (melewati Medan). “jadi, GMT 2016 merupakan fenomena langka bagi masyarakat Indonesia, apalagi tidak semua ibu kota provinsi di Indonesia dilalui gerhana ini,” ucapnya.

Minat Sejak SMA

Moedji kerap menulis tentang gerhana, kalender islam, dan kalender masehi. Minat terhadap dunia astronomi tumbuh dalam dirinya saat bersekolah di SMA Negri 3 Surabaya, jawa Timur. Ketika itu, dia tertarik pada penjelasan seorang guru ilmu falak tentang posisi tahunan matahari dan gerhana.

“saya mulai tertarik karena ternyata semesta itu bisa dipelajari. Saya terdorong untuk melihat benda-benda langit dengan teropong. Ketika lulus SMA, saya memilih astronomi di ITB pertimbangannya sederhana saja.  Astronom itu langka, pasti lulusannya banyak dicari, baik didalam maupun luar negri,” ujarnmya.

Meodji meraih gelar doctor bidang astronomi dan astrofisika tahun 1997 di Universitas Tokyo, Jepang. Pada tahun 1999 sampai 2004, dia di percaya sebagai kepala Observatorium Bosscha. Pada tahun 2010, namanya digunakan untuk menyebut asteroid di Sabuk Utama Asteroid, yakni 12177 Raharto. Penghargaan dari international Astronomical Union (IAU) itu diterima Meodji bersama tiga astronom Indonesia, yanki Bambang Hidayat, Dhani Herdiwijaya, fan Taufiq Hidayat.

Kembali ke GMT 2016. Menirut Moedji, hasil penmgamatan atas fenomena alam itu akan merekam berbagai informasi, temuan, dan data. Semua itu berharga bagi generasi muda, khususnya dalam mengeksplorasi langit dengan segala isisnya.

Meodji berharap dunia astronomi semakin maju dengan teknologi tinggi. Dia membayangkan bakal ada prototype robotic teleskop yang dapat ditempatkan di puncak gunung untuk mengamati benda-benda dilangit yang cerah. Namun, untuk itu diperlukan investasi dalam sumber daya manusia dan pembiayaan.

“perkembangan pengetahuan astronomi juga harus menjadi bagian dala kehidupan masyarakat. Jangan sampai jaman sudah modern, tetapi pengetahuan masyarakat kita tertinggal puluhan tahun. Astronomi harus menjadi pengetahuan umum yang diperkenalkan secara estafe sejak pendidikan tingkat menengah, atas, sampai perguruan tinggi,” katanya.

Sumber : Kompas.-8-Maret-2016.-Hal-16