Selama 17 tahun, mohammad shokib garno sunarno (52) berupaya keras menjaga kelestarian hutan di kawasan pengunungan Muria, Jawa Tengah. Hasilnya, hutan itu tetap hijau dan ratusan mata air mengalir jernih ke desa- desa sekitar hingga hari ini.
OLEH WINARTO HERUSANSONO
Nama lahirnya Garno Sunarno. Setelah dinobatkan menajdi juru kunci makam sunan muria (Raden Umar Said) di desa wisata Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ia mendapat tambahan nama Mohamaad Shokib Sesuai silsilah keluarga, ia adalah ke turunan ke- 14 dari Sunan Maria.
Tugasnya sebagai juru kunci adalah menjaga makam dan mempermudah ratusan pengunjung yang ingin berziarah. Namun ada satu tugas lain yang sebernarnya paling berat: menjaga hutan di pengunungan Muria. Hutan ini masuk dalam tiga wilayah kabupaten, yakni kudus, pati, dan Jepara
Ditemui di rumahnya di Desa Wisata Colo, Kudus, 21 Desember lalu, Shokib mengatakan, hutan di pegunungan Muria adalah hutan rimba, bukan hutan produksi. Hutan itu menjadi habitat fauna, antara lain kijang, monyet, dan binatang langka, seperti macan tutuk. Di sana juga tumbuh aneka tanaman langka, seperti parijoto dan kaliandra. Karena itu, sangat penting menjaga hutan tersebut.
Namun, di awal era Reformasi 1998, hutan itu rusak akibat penjarahan kayu dan pembukaan hutan untuk are pertanian secara membabi buta. Padahal, hutan yang telanjur dibuka kerap ditelantarkan begitu saja.
Shokib amat geram melihat perusakan hutan dilakukan sedemikian rupa. Ia pun mengajak sembilan warga untuk membentuk paguyuban masyarakat pelindung hutan (PMPH) Muria pada November 1999. Bersama anggota PMPH, ia melancarkan perang melawan pembalakan liar, terutama di hutan kawasan Colo.
Secara rutin, mereka berpatroli ke dalam hutan untuk menghalau aksi pembalak. Ketika para pembalak semakin bandel, PMPH bertindak lebih tegas. Paguyuban itu melaporkan dua pembalak kedapa polisi yang membawa kasus itu ke pengadilan. Tindakan PMPH ternyata menajadi terapi kejut yang ampuh bagi pembalak. Hingga awal 2001, laju perusakan hutan berkurang
“Aksi pencegahan pembabatan hutan lalu diperluas tidak hanya di kawasan Colo, tapi juga ke Semanding di wilayah Jepara dan di puncak Joong, masuk kawasan Pati,” ujar Shokib yang tertarik menjaga hutan lantaran terinspirasi film televisi yang bercerita soal petualangan di dalam hutan Jungel Jim. Film tersebut dulu ditonton Shokib di TVRI ketika ia kanak- kanak atau remaja.
Tidak hanya melawan pembalak shokib dan kawan- kawan jgua berjibaku menyelamatkan hutan dari kebakaran, seperti yang terjadi pada 2000 di lereng Gunung Argo Piloso dan meulas ke lereng Glagah Arjuno. Mereka turun memadamkan api dari lembah hingga tebing terjal.
Kegiatan PMPH menyelamatkan hutan memperoleh simpati dari warga Colo. Karena itu, anggota paguyuban terus bertambah dari sembilan orang menjadi 15 orang. Kini, anggotanya mencapai 42 orang, yang terdiri dari aktivis masjid, tukang ojek, dan pedagang asongan yang biasa melayani parah peziarah di makam Sunan Muria. Dari mereka, gerakan pelestarian hutan menular ke keluarga dan masyarakat di Colo.
Ketapel
Setelah perambahan hutan mereda, PMPH memfokuskan kegiatan pada rehabilitasi hutan yang gundul dengan cara reboisasi. Mereka menanam aneka bibit tanaman, seperti ramayana, kaliandra, karet, beringin, gintungan, rand, dan parijoto. Jika lokasi yang akan dihijaukan terjal atau berlembah-lembah, anggota paguyuban menyebar biji sasaran. Cara ini ternyata sangat efektif untuk menghijaukan daerah yang sulit terjangkau.
Selama kegiatana reboisasi, anggota paguyuban sering masuk ke dalam hutan. Mereka bahkan sering menginap selama 2-3 hari di hutan jika lokasi reboisasi jauh dan berada di luar wilayah Kudus.
Ketika anggota paguyuban masih sedikit, bekal makanan dan minuman selama di hutan disiapkan istri Shokib, Sri Hartini, sejak subuh. Setelah anggota bertambah banyak, istrinya tidak sanggup lagi menyiapkan perbekalan. Setiap anggota akhirnya membawa bekalnya sendiri.
Tidak berhenti pada aksi reboisasai, Shokib pun berusaha menjadikan gerakan pelestarian hutan sebagai gerakan moral. Ia rajin mendatangi parah ulama dan tokoh masyarakat terutama setiap malam Jumat. Setiap bertandang, Shokib menitip pesan agar para Ulama menyelipkan isu pelestarian dalam khotbah shalat Jumat.
Karena itu, ketika Shokib mendapat penghargaan Kalpataru 2016 sebagai pembina lingkungan, ia segera mengumpulkan semua lapisan masyarakat Colo, mulai dari pamong desa, tokoh masyarakat, tokoh ulama, serta perwakilan tiap rukun warga, untuk menyampaikan terima kasih. Tanpa dukungan mereka, kata Shokib mustahil gerakan pelestarian hutan di Colo bisa berhasil
Tukang Ojek
Shokib lahir di Kecamatan Colo, dekat kawasan hutan di pegunungan Muria. Boleh dikata ia sangat akrab dengan kawasan hutan Muria. Selain menjadi juru kunci makam Sunan Muria, sehari- hari ia bekerja sebagai petani.
Sebagaimana kebanyakan warga Colo lainya, Shokib juga menjadi tukang ojek yang mengantar para pezeriah ke makam Sunan Muria. Pekerjaan yang ia lakoni sejak 1992 itu menuntutnya untuk mengenal betul jalur ziarah yang beruapa jalan naik turun diwarnai tebing curam dan jurang.
Pengetahuan Shokib mengenai seluk-beluk kawasan hutan pengunungan Muria bertambah ketika ia terlibat dalam proyek tim pemetaan dan perencanaan dari Bagian Planologi Perhutani Rembang pada 1998. “Saat itu, lebih dari dua minggu saya membantu memasang tonggak beton sebagai batas yang memisahkan kawasan hutan dengan kebun rakyat milik pendudu,” kata Shokib.
Berbekal pengetahuan mengenai seluk-beluk kawasan hutan itu, Shokib dan kawan-kawan di PMPH selalui berhasil mencegat pembalak yang hendak menebang pohon di hutan. Setelah itu, ia juga bisa masuk- keluar hutan untuk reboisasi, menyebar bibit pohon hingga ke lembah dan kawasan terjal yang sulit terjangakau.
Kini, hasil kerja keras Shokib dan pemuda Colo bisa dirasakan semua warga di sana. Kawasan hutan Colo rimbun dan hijau oleh pepohonan. Air jernih mengalir dari kawasan hutan dan dinikmati ribuan warga Kudus. Air itu berasal dari 25 sumber air yang terjaga dengan baik di pengunungan Muria.
Sembari terus melestarikan hutan, sejak 2004, Shokib menghidupkan kembali perkebunan kopi robusta seluas 99 hektar pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Kebun kopi peninggalan Belanda itu sempat telantar sekitar 15 tahun.
Shokib dan kawan- kawan meremajakan tanaman kopi dengan bantuan benih dari perhutani dan Djarum Foundation, Kudus. Setiap tahun menjelang panen, mereka menggelar tradisi wiwit kopi yang diwarnai tarian- tarian desa dan puisi. Tradisi itu belakangan menjadi daya tarik wisata di kawasan Colo.
Sumber: Kompas. 3 Januari 2017 .Hal.16

