Surabaya – Belajar berwirausaha memang gampang-gampang susah. Tiga mahasiswa Universitas Ciputra (UC), Franky Miswar, Zaidy Makhdum, dan Devu Sheldena, mepunyai pengalaman buruk saat memberikan pengajaran wirausaha kepada anak-anak. “Kalau diajari secara teori, mereka banyak yang boring. Bahkan, ada yang ketiduran,” jelas Fanky Miswar, koordinator tim.
Fanky dkk lantas membuat terobosan dalam memberi pelajaran berwirausaha. Caranya, mengadaptasi pola pelajaran wirausaha pada permainan monopoli. Ditambah teori kebutuhan dari Abraham Maslow.
Pertama, harta, makanan, dan minuman dianalogikan menjadi uang. Kedua, keamanan dianalogikan menjadi aset seperti tanah dan rumah yang bisa dibeli. “Ketiga adalah belonging atau rasa kepemilikan yang diibaratkan dengan kerja sama atau partnership,” tutur Fanky. Keempat adalah pengakuan diri yang disamakan dengan pemberian penghargaan (awarding). Terakhir aktualisasi diri yang diibaratkan charity alias amal.
Semuanya dicampur dengan permainan monopoli yang tetap melibatkan unsur perdagangan, properti, deposito, dan pajak. “Sudah kami praktikkan, mulai anak SD kelas VI hingga dewasa. Hasilnya ramai sekali kayak pasar kalau proses tawar menawar,” ucapnya lantas tertawa.
Mereka memperoleh penghargaan dalam forum international Young Invention Award 2014 di Jakarta pada Juni 2014. Mereka mendapatkan gold prize dan penghargaan tertinggi best of the best invention dalam kompetisi yang diikuti sekitar 50 negara tersebut.
Sumber : Jawa Pos. 16 Januari 2015.

