Monospace UC Surabaya: Ketika Desain Tak Lagi Soal Cantik, tapi Harus Berdampak
21 November 2025
Surabaya (beritajatim.com) – Pameran Monospace Universitas Ciputra (UC) Surabaya menegaskan satu pesan bahwa desain bukan soal visual yang cantik, tapi harus dipakai, menyelesaikan masalah, dan memberi dampak.
Pesan itu terlihat jelas karena karya mahasiswa yang ditampilkan bukan hanya pajangan galeri, melainkan sudah diadopsi pemerintah dan industri.
Desain mahasiswa UC dipamerkan di Ciputra World Surabaya. Mulai konsep identitas visual Pemkot Surabaya, rancangan plang jalan, halte, hingga elemen city branding terbaru. UC juga memamerkan desain yang dipakai klien riil, seperti kendaraan dan booth Jamu Iboe.
Ketua acara Monospace, Evan Raditya Pratomo menegaskan bahwa desain tidak berhenti pada estetika. “Desain bukan sekadar visual. Ia adalah pengalaman dan impact untuk masyarakat,” ujarnya. Jumat (21/11/2025).
Menurutnya, pameran bertema Monospace Recognition ini membawa lebih dari 30 karya yang menunjukkan bagaimana desain berfungsi ketika dipakai, bukan hanya dinilai.
Evan menyebut industri kreatif Indonesia berkembang pesat, terutama dalam penerapan storytelling dan dampak sosial.
“Maskot dan visual yang kami kembangkan tidak lagi berhenti pada bentuk. Semuanya punya cerita dan efek balik ke masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Head Visual Communication Design UC, Christian Anggrianto menyebut Monospace menjadi bukti nyata bahwa desain yang baik adalah desain yang hidup dalam ekosistem.
“Belum banyak kampus yang berhasil menerapkan model pentahelix. Karya di Monospace bukan tugas kuliah, tapi karya yang berinteraksi dengan pemerintah, industri, komunitas, media, dan mitra kampus,” ujarnya.
Christian menegaskan desain yang dipamerkan tidak hanya terframe, tetapi digunakan secara komersial oleh tenant pameran.
“Desain itu bukan barang indah di pigura. Ia harus punya nilai ekonomi dan digunakan di lapangan,” tegasnya.
Ia menyebut karya yang dipamerkan berasal dari mahasiswa semester 1 sampai 6. Setiap semester mahasiswa sudah bersentuhan dengan industri. “Itu yang membuat desain mereka relevan dan layak pakai,” ujarnya.
Sedangkan Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama Kemenparekraf RI, Yanuar Arief menyampaikan apresiasi karena pameran ini berhasil mengubah cara publik memandang desain.
“VCD UC mampu menunjukkan bahwa desain itu bukan sekadar estetika. Ia meningkatkan kualitas bisnis, industri, komunitas, dan bahkan pemerintah,” tutupnya. [ipl/ted]

