Motivasi hingga Guru Pendamping Khusus

SALAH satu sekolah menengah di Surabaya, SMAN 10 telah cukup lama memiliki siswa inklusi. Tak jarang lulusannya melanjutkan ke perguruan tinggi.

Waka Humas SMAN 10 Surabaya, Usmani Hariyono mengungkapkan, upaya sekolah dalam memfasilitasi anak-anak ini dimulai dari pembelajaran hingga tes masuk perguruan tinggi.

“Motivasi pastinya ada biasanya lewat GPK (Guru Pendamping Khusus).

Alumnus pertama kami ada yang sudah lulus UNESA dan jadi guru. Kalau sekarang siswa inklusi ABK di sekolah kami ada 17 anak,” ujarnya kemarin.

 

Motivasi …

dari halaman 9

ABK ini terdiri dari tuna daksa, slow learner, autis, tuna netra, dan tuna rungu. GPK akan memberikan pelatihan keterampilan bagi ABK yang masih membutuhkan latihan motorik. Khususnya, siswa yang masih mengalami slow learner.

“Terapi mereka biasanya di ruang sumber untuk terapi motorik halus. Yang terapi ini biasanya autis atau yang slow learner. Kalau tuna rungu dan yang bisa bersosialisasi dengan siswa reguler nggak perlu,” urai Usmani.

ABK ini juga dimotivasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi yang jurusannya tidak bertenangan dengan keterbatasannya. Misalkan, jurusan kedokteran tidak dianjurkan karena butuh yang memiliki fisik dan mental yang sehat.

“Ada banyak yang bisa ikut SBMPTN, biasanya kami bantu dengan memberikan keterangan ABK. Jadi mereka bisa ada kelonggaran saat tes, bisa sama pendampingnya untuk tuna netra. Bisa juga tes di lantai satu,” terangnya.

Bisa Membaur

Selama ini menurut Usmani, ABK bisa membaur dengan siswa reguler.

Bahkan, ABK tuna daksa yang memakai kursi roda kerap dibantu teman-temannya dengan cara digotong ke kelasnya di lantai dua.

“Karena pergaulan mereka. Bahkan yang slow learner juga ada yang kuliah di swasta,” katanya. (ovi)

Sumber : Surya, 19 Maret 2018 | Hal 9