Dalam khazanah Tiongkok klasik, banyak sekali cerita manusia di depan “Tian”. Terkait apa itu “Tian”, sampai sekarang memang masih menjadi perdebatan. Yang agamis memaknainya sebagai Tuhan. Yang sekuralis memahaminya sebagai alam.

Dalam bab 103 roman masyhur Kisah Tiga Negara (Sanguo Yanyi) novelis zaman dinasti Ming Luo Guanzhong menuliskan satu kegagalan besar Zhuge Liang, ahli strategi ulung  dari negara Shu Han. Dikisahkan di sana, kalau saja Tuhan tidak menurunkan hujan lebat dan angin besar, siasat Zhuge Liang untuk menjebal dan membakar panglima militer negara Cao Wei Sima Yi di tengah hutan, mestinya sudah berhasil sesuai rancangan awal.

Menyaksikan ketidakberhasilannya Zhuge Liang cuma bergumam singkat “Mou Shi ZaiRen, Cheng shi Zai Tian) Yang artinya Manusia yang mengusahan, Tuhan yang menentukan.

Narasi yang sama juga dituliskan Li Ruzhen dalam karyanya Bunga di Dalam Cermin (Jinghuayuan). Sastrawan era dinasti Qing ini menyatakan “Jin Ren Shi Yi Ting Tian Ming” yang artinya yang penting berusaha sekuat tenaga, hasilnya pasrahkan pada Tuhan. “Nrimo Ring Pandum’e Gusti,” kata ajaran Jawa.

Namun demikian, Kangzangzi, filsuf misterius yang hidup pada masa pemerintahan dinasi Zhou (1046-256 SM), punya pendapat berbeda. Ia percaya, “Ren Qiang Sheng Tian” artiya Kekuatan Manusia akan mengalahkan Takdir Tuhan.

Rektor Universitas Ciputra Surabaya Yohannes Somawiharja menyukai apa yang dibilang Zhuge Liang tadi. Tetapi, di waktu yang sama juga menamai dua anaknya dengan Su Taingqiang dan Su Tiancheng.

“Jika kedua namanya disatukan, akan menjadi doa dan harapan kami : agar kami sekeluarga diberkati Tuhan (Tian) sehingga bisa “jadi kuat” (become strong/qiang) dan “jadi berhasil” (become succesful/cheng),” terang Yohannes.