164015-1459743748-550981

 

Movie Time at UC Library kembali hadir pada Jumat (2/6) lalu dan kali ini menayangkan film karya Garin Nogroho, “Guru Bangsa Tjokroaminoto”. Film ini merupakan biopik dari salah satu tokoh sejarah Indonesia, HOS Tjokroaminoto dan sebagai informasi, Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Di rumah sederhana tersebut, salah satu muridnya adalah Soekarno yang kelak menjadi proklamator kemerdekaan dan pencetus Pancasila.

Di acara yang dimulai pkl. 13.00 wib di Library Lounge ini menceritakan setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800, Hindia Belanda memasuki babak baru yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu dengan gerakan politik etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Tetapi kemiskinan masih banyak terjadi. Rakyat banyak yang belum mengenyam pendidikan, dan kesenjangan sosial antaretnis dan kasta masih terlihat jelas.
Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro) yang lahir dari kaum bangsawan Jawa di Ponorogo, Jawa Timur, dengan latar belakang keislaman yang kuat, tidak diam saja melihat kondisi tersebut. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat dengan hidup yang nyaman dibandingkan rakyat kebanyakan saat itu, ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan dan merasakan penderitaan sebagai rakyat jelata.
Tjokro yang intelektual, pandai bersiasat, mempunyai banyak keahlian, termasuk silat, mesin, hukum, penulis surat kabar yang kritis, orator ulung yang mampu menyihir ribuan orang dari mimbar pidato, membuat pemerintah Hindia Belanda khawatir, dan membuat mereka bertindak untuk menghambat laju gerak Sarekat Islam yang pesat. Perjuangan Tjokro lewat organisasi Sarekat Islam untuk memberikan penyadaran masyarakat, dan mengangkat harkat dan martabat secara bersamaan, juga terancam oleh perpecahan dari dalam organisasi itu sendiri.

Pelajaran apa sih yang bisa kita ambil dari sosok Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto dalam film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” ini?

  • Kepedulian terhadap kaum lemah

Film ini dibuka dengan adegan interogasi terhadap Tjokroaminoto di penjara Kalisosok, Surabaya. Ia dituding oleh Belanda telah mendalangi pemberontakan rakyat di Garut, Jawa Barat, pada tahun 1919. Sorot tajam kamera kemudian menyasar wajah Tjokroaminoto (Reza Rahardian). Lalu, keluarlah kata-kata tajam dari mulutnya: “Saya Tjokroaminoto, seorang jawa dan pendiri Sarekat Islam yang beranggotakan 2 juta orang…”

Sejak dini, Tjokro punya kepedulian terhadap kaum lemah. Ia sangat peka dengan nasib rakyat jelata. Kesadaran itu pula yang menggerakkan Tjokro. “Tidak akan ada darah lagi yang tumpah di kapas-kapas ini,” ucap Tjokro kecil ketika membasuh luka seorang kuli perkebunan kapas yang baru saja dihukum cambuk oleh mandor perusahaan.

Kesadaran itu terjaga hingga Tjokro dewasa. Kendati dilahirkan dari keluarga priayi, Tjokro memilih tak berjarak dengan rakyat jelata. Ia seringkali marah dengan perilaku elit, baik pribumi maupun Belanda, terhadap rakyat jelata.

  • Semangat untuk Merdeka

Pelajaran yang juga menarik dari film ini adalah soal konsep ‘hijrah’ dan ‘iqra’. Kata ‘hijrah’ diucapkan berkali-kali dalam dialog. “Hijrah ini, sudah sampai mana Gus?” kata Tjokro kepada kawan seorganisasinya, Haji Agus Salim (Ibnu Jamil).

Dalam film ini, Tjokro memahami ‘hijrah’ bukan sekedar perpindahan tempat, yakni berpindah dari daerah kaum kafir ke daerah islam. Sebaliknya, Tjokro menempatkan ‘hijrah’ sebagai praktek perpindahan dari manusia terjajah menjadi manusia merdeka.

Begitu juga dengan ‘iqra’. Kata ini tidak dimaknai secara harfiah saja, yakni membaca teks belaka. Tetapi telah diperluas maknanya menjadi ‘membaca keadaan sekitar’. Dengan ‘iqra’, Tjokro menjadi tahu keadaan di sekitarnya, termasuk kondisi sosial-ekonomi rakyatnya.

  • Bukan aku tapi bangsaku

Sosok Tjokro terlihat sebagai seorang yang moderat, pluralis, dan anti-kekerasan dan dengan begitu, pantas juga disebut sebagai ‘Gandhi of Java’.

Dalam satu adegan, Stella Stella (Chelsea Islan), seorang keturunan Indo yang bekerja sebagai loper Koran, menanyakan kepada Tjokro perihal kedudukannya sebagai keturunan campuran ketika kaum pribumi punya pemerintahan sendiri kelak. “Siapakah penduduk asli itu? Ayahku Belanda dan ibuku adalah perempuan Bali yang ingin belajar masakan Hindia Belanda. Lalu siapakah aku, Tuan Tjokro?” tanya Stella.

Melalui pertanyaan Stella itu, menjadi pertanyaan yang relevan dengan saat ini, tentang isu pribumi dan non-pribumi, juga mengkritik praktek diskriminasi dan rasialisme terhadap golongan minoritas.

Melalui film ini kita bisa belajar tentang politik dan sejarah Indonesia. Sejarah perjuangan bangsa ini. Dan kiranya kaum muda saat ini, bisa mengenal salah satu sosok guru bangsanya. Seorang yang memperjuangkan kepentingan adalah orang lain yang tertindas, memperjuangkan bangsanya, diatas kepentingan pribadinya.

collage