
Bertepatan dengan hari hutan internasional yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2018 lalu, UC Library bekerja sama dengan Komunitas Timur Lawu mengadakan Movie Time @ UC Library dengan memutar beberapa film bertemakan alam dan isinya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis lalu (22/3) ini diadakan di Library Lounge dan dihadiri sekitar 30 mahasiswa ini memutar beberapa film, antara lain: Gone with the Tide (oleh Forum Peduli Teluk Balikpapan), The Topeng Monyet, Beruang Madu, serta film drama pendidikan produksi Jepang, berjudul Fireflies: River of Light.
Dari film ‘Gone with the Tide’, kita diingatkan tentang ancaman yang terjadi di Teluk Balikpapan di Kalimantan Timur, yang merupakan hasil dari perluasan Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang diusulkan di sepanjang pantai timur Teluk, dan Pulau Balang. Ekspansi industri ini tidak hanya menghilangkan keanekaragaman hayati yang luar biasa, namun juga polusi air, erosi, dan sedimentasi yang sangat besar yang benar-benar akan menghancurkan penghidupan masyarakat nelayan setempat. Sebuah kondisi yang memprihatinkan dan merugikan masyarakat sekitar.
Melalui film dokumenter ‘The Topeng Monyet’ kita juga disuguhkan gambaran mengenai kejamnya penganiayaan binatang. Setiap topeng monyet yang akan beratraksi sebelumnya harus melalui berbagai
Bentuk yang bisa dikategorikan penganiayaan seperti dirantai leher dan tangannya agar mereka tunduk dan mau diajari berbagai trik yang biasa kita lihat di Topeng Monyet di jalanan. Karena diambil paksa dan diperlakukan seperti itu, akibatnya usia merekapun tidak panjang. Begitu pula dalam film ‘Beruang Madu’, diperlihatkan bagaimana keserakahan manusia memburu dan mengambil berbagai bagian tubuh serta mengambil beruang madu dari habitat aslinya dan ditampilkan ke dalam sirkus untuk keperluan pribadi membuat spsies ini berada di ambang kepunahan.
Pun melalui film Fireflies: River of Light karya sutradara Hiroshi Sugawara, melalui film ini kita dapat belajar melalui seorang guru sekolah dasar, Hajime Miwa, yang memiliki impian dapat melihat kunang-kunang dapat terbang kembali di atas Sungai Yamaguchi. Namun hal tersebut tidaklah mudah. Ia harus membuat habitat tempat tinggal kunang-kunang sesuai dengan habitat aslinya, yang artinya ia harus membersihkan sungai yang sudah tercemar air dengan berbagai kotoran seperti ban sepeda, keyboard computer, dan sepeda itu sendiri! Para muridpun sangat bersemangat, dan para muridlah yang menjadi penyemangat pak guru Miwa untuk terus membersihkan sungai dan mengkembangbiakan kunang-kunang walaupun kegiatan tersebut ditentang oleh pihak sekolah. Namun ia tetap bertanggung jawab jika kunang-kunang yang dikembangbiakkannya tidak berhasil hidup ia akan berhenti dari pekerjaannya.
Sebuah langkah yang berani dari Pak guru Miwa untuk tetap berkomitmen kepada apa yang telah ia mulai. Ia tetap berkomitmen membersihkan lingkungan demi kunang-kunang kembali hidup serta mengembalikan alam kepada tempat yang semestinya kembali.


