Muhammad Aripin tidak ingin anak-anak dari keluarga miskin, putus sekolah, korban perceraian orangtua, dan korban narkoba kehilangan masa depan. Ia pun merangkul mereka menularkan semangat untuk terjun ke dunia wirausaha.
Oleh Jumarto Yulianus
Ada 85 anak yang saya bina secara khusus untuk menjadi wirausaha kreatif, mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi,” kata Aripin saat ditemui di ruang pamer sekaligus sekretarit Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar di Jalan Sutoyo S, kota Banjarmasin, Kalimantan selatan, pertengahan Februari lalu.
Menurut Aripin, Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikan pada 2014 memang dikhususkan untuk mengajari dan membekali anak-anak dari keluarga prasejahtera dengan berbagai keterampilan. Anak-anak dilatih membuat barang-barang bernilai ekonomi dengan memanfaatkan barang bekas atau limbah.
Drum bekas, misalnya, disulap menjadi kursi tamu. Ban mobil bekas dijadikan sofa, handuk bekas dicampur adonan semen dan lem dijadikan vas bunga, kayu limbah dijadikan meja ataupun rak hias, dan masih banyak lagi kreasi lain.
“Berbagai produk yang kami produksi mungkin sulit ditemukan di pasaran karena didesain secara unik dan dimodifikasi sedemikian rupa,” katanya.
Ide kreatif untuk menghasilkan produk-produk itu, lanjut Aripin, sering kali muncul secara spontan. Namun, tak jarang pula ide diperoleh dari ATM alias “amati, tiru, modifikasi”. “Dengan modifikasi, produk yang dihasilkan tidak akan sama dengan produk yang ditiru ujarnya.
Amanah Orangtua
Aripin mengatakan, Rumah Kreatif dan Pintar merupakan rumah singgah bagi anak-anak yang tertinggal dari segi ekonomi, pendidikan, dan sosial. Anak-anak dari keluarga dengan kondisi memprihatinkan itu sengaja di rangkul, didorong, dan diarahkan untuk menjadi wirausaha kreatif serta berpendidikan tinggi.
“Saya ingin mereka sukses dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ucapnya.
Hati Aripin tergerak untuk membantu anak-anak kurang beruntung itu karena ia tahu artinya hidup susah. Ayahnya (almarhum) adalah seorang tukang becak yang menyambi jadi pemulung. Adapun ibunya (almarhumah) seorang buruh pengupas bawang.
Untuk mengeyam pendidikan tinggi, bungsu dari lima bersaudara ini harus berjerih payah. Berkat kegigihan dan keuletannya, Aripin akhirnya bisa merintis jalan hidup sebagai wirausaha.
Rumah singgah bagi anak-anak binaannya berawal dari sebuah ruangan kecil di bagian depan rumah Aripin. Ruangan berukuran 3 meter x 3 meter itu menjadi bengkel kreatifnya. Di tempat itu Aripin bersama anak-anak binaannya daur ulang, membuat perlengkapan dekorasi interior, dan perabot rumah tangga.
“Tempat workshop itu juga menjadi bengkel las dan sepeda motor. Jadi, anak-anak yang sudah dirangkul dibina sesuai bakat yang dimiliki serta minatnya,” ujarnya.
MUHAMMAD ARIPIN
- Lahir : Banjarmasin, 27 Februari 1988
- Pendidikan :
- SMK Syuhada Teknologi Banjarmasin (2003-2006)
- D-3 Teknik Mesin Politeknik Negeri Banjarmasin (2006-2009)
- S-1 Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (2009-2011)
- Pekerjaan :
- Guru SMK Syuhada Teknologi Banjarmasin (2011-2015)
- Ketua Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar Banjarmasin (2014-sekarang)
- Penghargaan ;
- Guru berprestasi tingkat nasional kementerian pendidikan dan kebudayaan (2014)
- Pemuda pelopor tingkat nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga (2015)
- SATU (Semangat Astra Terpadu untuk) Indonesia Awards Bidang Kewirausahaan (2016)
Rumah singgah itu merupakan aplikasi dari karya tulis yang dibuatnya sewaktu mengajar di salah satu sekolah menengah kejuruan di Banjarmasin. Pada 2015, karya tulis itu menyambet juara II bidang pendidikan dalam pemilihan pemuda pelopor tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
“Selain mengaplikasi karya tulis, rumah singgah ini juga sebenarnya merupakan amanah dari orangtua saya, terutama almarhumah ibu. Beliau memina saya membuka usaha sendiri sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan dan membantu orang llain,” ungkapnya.
Sebelum mendirikan Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar, Aripin bekerja sebagai guru di SMK Syuhada Teknologi Banjarmasin. Di sekolah tersebut, dia mengajar teknik mesin.
Setiap hari, Aripin pulang dari sekolah saat hari sudah gelap. Sampai di rumah kadang-kadang sudah pukul 22.00 Wita. Hampir semua waktunya tersita di sekolah.
“Sebagai guru waktu itu, saya merasa punya tanggung jawab moral dalam mendidik anak-anak. Apalagi, lulusan SMK harus terampil. Saya tidak mau lulusan SMK tidak bisa apa-apa,” katanya.
Setelah Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar berdiri serta memiliki badan hukum pada 2016, Aripin pun memutuskan berhenti mengajar di SMK agar bisa fokus mengajar anak-anak di Rumah Kreatif dan Pintar. Ia berharap dari Rumah Kreatif dan Pintar akan lahir anak muda berbakat yang berpotensi menjadi wirausaha kreatif.
Wajib Sekolah
Namun, sebelum anak-anak yang dibina tumbuh menjadi wirausaha, Aripin menuntut mereka untuk menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi. “Anak-anak yang dibina di sini wajib bersekolah. Saya mengharapkan mereka semua menjadi sarjana,” ujarnya.
Untuk biaya hidup dan pendidikan ke-85 anak yang dibina, Aripin menyisihkan sebagian uang dari omzet penjualan produk-produk Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar. “Omzet kami Rp 10 juta sampai Rp 20 juta per bulan. Dari omzet tersebut, 50 persen dialokasikan untuk dana pendidikan,” katanya.
Setiap anak binaan, Aripin memiliki rekening tabungan. Selain untuk biaya pendidikan, tabungan itu juga untuk modal usaha mereka di kemudian hari. “Saya mengharapkan merka menjadi ‘aripin-aripin’ yang lain, yang bisa menghidupi dirinya, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya,” ucapnya.
Muhammad Rizky Zainal (18), salah seorang anak binaan Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar, mengatakan salut dengan apa yang telah di perbuat Aripin. Sebagai anak korban perceraian orangtua dan pernah terjerumus dalam kejahatan narkoba, dirinya merasa diselamatkan.
“Saya belajar banyak hal disini. Setelah lulus kuliah nanti, saya juga ingin mendirikan rumah kreatif di luar kota Banjarmasin,” kata mahasiswa semester II jurusan teknik mesin ini.
Aripin berharap ke-85 anak binaannya menularkan kreativitas yang mereka miliki kepada orang-orang di sekitarnya. Ia sama sekali tidak khawatir produk-produk yang dihasilkan Rumah Kreatif dan Pintar nantinya bisa di tiru banyak orang.
“Kami tidak mengejar profit. Kami justru ingin memberikan inspirasi kepada banyak orang,” ujarnya.
Sumber : Kompas. 1 April 2017. Hal 16

