Saya pikir itu adalah optimisme dan kenekatan dari para pengusaha. Jadi pariwisata ini tidak bisa berdiam diri.
Kalau kita flashback ke belakang pariwisata itu dari dulu adalah industri yang sangat dinamis. Artinya dinamis itu adalah sangat rentan akan kejadian global. Misalnya bencana alam atau terorisme. Itu akan sangat berpengaruh dengan tingkat kunjungan, baik secara nasional maupun internasional. Dan ini terus sudah terjadi di berbagai belahan dunia.
Kalau kasus di Indonesia kita sudah mengalami sejak dulu. Sejak zaman adanya tsunami Aceh, kemudian bom Bali 1 dan 2. Kemudian gempa bumi di Jogja. Lalu Gunung Merapi Meletus dan kemudian Gunung Agung yang terakhir. Ini sangat berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan.
Soal pandemi pun Indonesia juga pernah mengalami. Saat itu virus SARS, flu burung, dan flu babi. Tetapi waktu itu dampaknya di Indonesia tidak semasif ini.
Dengan kondisi semacam itu orang-orang dalam dunia industri pariwisata sudah siap. Cuma yang jadi agak berbeda adalah pandemi ini lebih lama durasinya.
Dalam proses 2020, memang modenya itu adalah mode survival. Artinya teman-teman itu bertahan. Bertahan untuk tetap hidup dan melakukan banyak efisiensi atau pemotongan dan sebagainya. Itu pada awal-awal pandemi dan PSBB juga sangat luar biasa.
Pada kuarter terakhir tahun 2020, sekitar bulan Oktober, November, Desember, itu tampak sudah ada perlawanan kembali. Artinya beberapa industri sudah mulai menyiapkan strategi ke depan mulai menyiapkan strategi ke depan.
Kemarin sebenarnya Bali itu kalau tidak ada peraturan mendadak PKKM, diprediksi tinggi sekali okupansinya. Tapi pada akhirnya muncul peraturan yang cukup mendadak dari Gubernur Bali, sehingga banyak yang cancel. Kalau kita mengikuti berita kerugian cancel itu sampai kurang lebih Rp 800 miliar. Itu adalah kerugian transaksi cancel perjalanan ke Bali.
Dari situ sebenarnya menandakan kalau pariwisata sudah mulai muncul nadinya. Khususnya pariwisata domestik. Mengapa? Karena mau tidak mau perbatasan masih ditutup.
Apalagi Januari juga tambah diperketat. Kalau sebelum Januari itu sebenarnya sudah ada beberapa wisatawan yang sudah mulai masuk. Bisa melakukan kunjungan bisnis. Tapi kalau memang kunjungan visa wisata tidak bisa.
Setelah Januari itu sudah tidak bisa kecuali kunjungan diplomatik politik dan bantuan kemanusiaan.
Dan dalam kondisi semacam ini yang menjadi penolong kita adalah wisatawan domestik. Itu yang seharusnya bisa ditangkap oleh teman-teman industri pariwisata.
Kalau bicara mengenai optimisme, maka saat ini sudah bukan lagi soal bertahan. Namun ini adalah saatnya untuk menyerang.
Penyerangan pun juga cukup bervariasi. Ada yang menyerang secara frontal, dan ada juga yang perlahan-lahan, bahkan ada yang masih menunggu situasi.
Apalagi saat ini yang paling kuat adalah muncul vaksin yang sudah mulai didistribusikan. Itu kan juga mampu meningkatkan sentiment positif untuk dunia pariwisata.
Sebenarnya kejadian pandemi ini akan mendatangkan model bisnis baru di dalam dunia destinasi wisata yang berhubungan dengan outdoor. Wisata outdoor akan sangat lebih marak.
Kalau di dunia akomodasi, bila dilihat trennya cenderung melihat pada akomodasi yang menyediakan space yang luas. Saya seringkali ngomong, setelah pandemi ini yang lebih laku ini adalah hotel yang bintang 3, 4, 5 yang space-nya lebih luas. Artinya di lobinya atau area publiknya lebih luas.
Kalau hotel budget mungkin akan agak lebih lama untuk pulih. Karena orang masih trauma dengan space yang kecil. Itu juga menjadi perbincangan. Kemudian mengenai kedisiplinan di hotel menerapkan sertifikasi Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE), atau protocol Kesehatan (prokes).
Saya amati memang sudah disosialisasikan tentang prokes, tapi kalau turisnya sudah banyak terkadang banyak yang meleset (abai).
Good point adalah mereka sudah belajar mengenai efisiensi. Misalnya selama tahun 2020 efisiensi sangat kencang diberlakukan oleh teman-teman di perhotelan. Misalnya penggunaan lampu atau listrik di beberapa area, dan penggunaan AC di beberapa area ruangan. Selama tahun 2020 itu memang banyak pengurangan.
Ketika masuk tahun 2021 perilaku efisiensi itu akan tetap dilakukan oleh rekan-rekan perhotelan. Walaupun nanti sudah kondisi normal, maka efisiensi akan tetap dilakukan.
Batasannya adalah selama tamu tidak complain atau tetap nyaman dengan kondisi seperti itu, maka mereka akan tetap melakukan.
Misalnya lampu di beberapa area di lobi tidak dinyalakan dan pengunjung tidak complain, karena tahu untuk mengurangi potensi penularan di ruangan ber-AC. Jadi pengunjung itu sudah bisa lebih sadar mengerti dan memahami, dan itu sangat berguna di dunia perhotelan.
Apalagi persoalan untuk tenaga kerja tidak bisa dipungkiri memang selama 2020 banyak hotel yang tutup atau menggunakan istilah tutup sementara. Ada yang masih buka, dengan karyawan yang dirumahkan sebagian. Jadi separuh dirumahkan. Kemudian yang separuh kerja itu hanya bekerja separuh jam kerja.
Dengan kondisi efisiensi ini, Ketika nanti sudah normal dia akan bertahap untuk mengembalikannya 100 persen. Tapi ini langkah agar bisa bangkit kembali. Jadi ini adalah suatu optimisme yang diselimuti oleh kenekatan. Mengingat bahwa Show Must Go On.
Sumber: Surya.1 Februari 2021.Hal.1,15

