Merintis karier dari tukang sapu, Mura Aristina (35) tidak membiarkan dunianya hanya berhenti pada urusan sampah dan debu. Dia gigih menimba ilmu dan kemampuan berbahasa asing secara mandiri. Bekal itu yang menantarkannya bisa berbincang-bincang dengan figure-figur berpengaruh dunia termasuk presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama.

OLEH REGINA RUKMORINI/GREGORIUS M FINESSO

“Waktu itu, saya bahkan bisa mebuat Obama tertawa hingga tiga kali,” kenang Mura bangga saat menerima Kompas, Selasa (31/10).

Mura adalah salah satu staf Balai Konsdervasi Borobudur (BKB). Dia dipercaya mendampingi Obama saat berkunjung ke Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Juni lalu.

Karena itu, saat orang lain termasuk awak media sekadar memotret dari jarak dekat, justru bisa berswafoto dengan sang mantam presiden. Foto sebagai bukti kedekatan itu lalu diunggahnya di akun Instagramnya, @muraaristina.

Obama hanya salah satu dari tamu-tamu penting yang pernah didampinginya. Banyak pengalaman dirasakannya saat menemani sosok VVIP (very very important person) lain menjelajah candi.

Masing-masing tamu penting meninggalkan kesan tersendiri. Pangeran Akishino dari Jepang, misalnya, saat datang ke Candi Borobudur ngotot mencari relief bergambar ayam. Karena itu, waktu kunjungan yang semula dijadwalkan hanya 20 menit berubah menjadi dua jam. Adapun Putri Kerajaan Thailand, Maha Chakri Sirindhorn, yang sangat menyukai arkeologi juga menghabiskan waktu lebih dari satu jam karena ingin mengetahui satu per satu cerita dari total 120 paneh relief.

Dahulu, menjadi pemandu wisata dan bertemu dengan tokoh-tokoh dunia jauh dari banyangan Mura. Terlebih, setelah lulus dari bangku SMA pada tahun 1999, dia hanya bekerja sebagai tukang sapu di kompleks Candi di Borobudur.

Pada 2001, atas dorongan dan biaya sang ayah, Mura mengikuti pelatihan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). “Bahkan, saat ikut pelatihan, saya belum tahu maksud bapak. Yang saya tahu, pasti demi kebaikan saya,” ujar Mura.

Jadi satpam

Tahun 2004, Mura diangkat menjadi petugas satpam. Profesi sebagai petugas satpam sekaligus menjadikannya garda terdepat yang langsung berhadapan dengan turis di lapangan. Namun, saat itu, dia belum mampu melayani tamu asing dengan baik. Mura lebih banyak diam karena tidak mengerti dan tidak bisa menjawab semua pertanyaan dalam Bahasa Inggris.

Kondisi ini berlangsung sekitar dua bulan. Perlahan, Mura menyadari bahwa dirinya harus berubah. “Setelah berkali-kali malu di depan tamu, saya putuskan beli kamus,” ucapnya.

Apa yang dibaca dalam kamus lalu dipraktikannya dalam percakapan sehari-hari Bersama turis. Dari mereka pula, Mura mendapatkan tambahan kata-kata baru yang semakin memperlancar percakapan. Dari kebiasaannya bertemu dan berkomunikasi dengan turis asing itulah kepercayaan diri Mura untuk berbahasa Inggris mulai tumbuh.

Agar semakin fasih, dia sering mendengarkan lagu dan menonton film asing. Semua itu dilakukan untuk memperbaiki aksennya saat berbahasa Inggris. Film dan lagu dinikmatinya melalui jaringan internet ponselnya.

“Beberapa teman sesame pemandu memuji logat saya bagus, sudah benar-benar seperti otrang Inggris,” ucap Mura, bangga. Pujian yang sama dilontarkan tamu-tamu yang pernah ia damping.

Meninggalkan posisi sebagai petugas satpam, tahun 2008, dia diminta mengisi kekosongan staf di bagian humas dan protocol di BKB. Seiring dengan itu, dia pun semakin sering diminta memandu tamu-tamu.

Meski hanya mengantongi ijazah SMA, berkat kegigihannya memperlancar Bahasa Inggris dan belajar tentang arkeologi secara otodidak, Mura mulai dipercaya menjadi pemandu resmi tamu Candi Borobudur. Dia pun mampu menuturkan kisah dan menyematkan maknapada setiap panel relief candi.

Pada 2008, untukk pertama kalinya, dia diminta memantu tamu penting negara. Dia adalah Miss Universe 2008, Dayana Mendoza. Dia tidak pernah melupakan perasaannya waktu itu. “ Saya sangat gugup dan canggung,” ucapnya.

Kendati menjadi pegawai BKB, Mura tidak meninggalkan aktivitasnya menjadi pemandu wisata. Di waktu luang, dia tetap mau mendampingi tamu-tamu mengelilingi Borobudur.

Mura mengaku tidak memiliki redep khusus menjadi pemandu wisata yang baik. Dia punya komitmen bahwa setiap tamu, baik figure penting ataupun tidak, harus dilayani sebaik-baiknya.

Tak jarang, saat harus memandu tamu penting dia menyempatkan diri memperdalam informasi tentang latar belakang negara, lembaga, ataupun biodata tamu penting itu.

Menghadapi orang dengan beragam karakter, dia harus menyesuaikan diri. Terkadang, dia harus serius menjelaskan dan menjawab pertanyaan bak ilmuwan, tetapi di lain waktu dia bertutur ringan dan sabar seperti layaknya seorang guru taman kanak-kanak. Namun, semua dijalaninya dengan gembira. “buat saya, bertemu dan memandu tamu adalah sebuah petualangan yang luar biasa seru,” ujar Mura.

Memperkaya ilmu

Sebagai pemandu wisata tamu penting. Mura sadar, ilmunya harus terus diperbarui. Untuk itu, dia selalu mengembangkan pengetahuan perihal candi, situs-situs arkeologi, dan sejarah. Hal ini dilakukannya dengan membaca banyak buku arkeologi di kantornya, di BKB. “Jika ada materi yang tidak saya pahami, saya tanya kepad ahlinya. Di BKB isinya, kan, arkeolog semua,” kata Mura.

Tidak melulu tentang candi Borobudur dan situs-situs di lingkup Kabupaten Magelang, dia juga mendalami ilmu arkeolog dan sejarah luar dan dalam negeri, dari Sabang sampai Merauke. Sejarah tentang Pulau Jawa, antara lain, dipelajarinya dengan menuntaskan membaca buku History of Java karya Thomas Stamford Raffles.

Semua bacaan lalu diramu menjadi materi penjelasan yang berbeda-beda bagi setiap rombongan wisatawan. Cerita di salah satu panel relief Candi Borobudur, misalnya, bisa dikemasnya menjadi lebih berwarna dan berbeda karena dihubungkan dengan cerita sejarah daerah lain, seperti Pulau Bali.

“Cerita tentang Candi Borobudur sebenarnya tidak melulu tentang dinasti Syailendra dan Raja Samaratungga. Ini yang membuat materi segelintir pemandu wisata kadang membosankan,” ujarnya.

Swngan “ramuan” kisah-kisahnya, Mura hampir selalu membuat para tamu terkesima. Sebagian tamu yang ingin menuntaskan penasaran, melanjutkan percakapan menjadi diskusi panjan. Di lain waktu, penjelasan Mura bahkan bisa membuat para tamunya terharu hingga menitikkan air mata.

Semua kean dan kepuasan yang ditunjukkan para tamu membuat Mura bahagia. “Mendapat senyum dan raut puas dari tamu, jauh lebih menyenangkan daripada sekadar uang tip,” tutupnya

 

Mura Aristina

Lahir                                      : Kabupaten Magelang, 20 Juli 1982

Istri                                        : Linda Purwanigsih (33)

Anak                                      : Diana Latifa Sari (9), Dianda Latifa Sari (3)

Pendidikan terakhir        : SMA Negeri 1 Salaman

Pekerjaan                           : Staf Humas dan protokol Balai Konservasi Borobudur

Aktivitas                               : Pemandu Wisata Candi Borobudur

 

Sumber : Kompas. 16 November 2017. Hal.16